JAKARTA - Skandal naturalisasi tujuh pemain Malaysia kembali menjadi sorotan publik Asia Tenggara. Kali ini, fakta terbaru diungkap langsung oleh Sekretaris Jenderal Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Datuk Seri Winsor John, dalam wawancara eksklusif bersama stasiun televisi Astro Malaysia. Pernyataan tersebut mengungkap tabir baru terkait banding ke CAS dan masa depan tujuh pemain yang terseret kasus ini.
Kasus skandal naturalisasi tujuh pemain Malaysia ini mencuat setelah FIFA menjatuhkan sanksi kepada Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) akibat penggunaan pemain yang dinilai tidak sah. Tujuh pemain tersebut dianggap melanggar regulasi terkait dokumen kewarganegaraan dan kelayakan membela tim nasional.
Dalam wawancara berdurasi lebih dari 13 menit itu, Winsor John menegaskan bahwa banding yang diajukan ke Court of Arbitration for Sport (CAS) bukan bertujuan membuktikan keabsahan paspor Malaysia para pemain. Fokus utama mereka hanyalah meminta pengurangan atau pembebasan hukuman agar dapat kembali bermain di level klub.
Baca Juga: Mauro Zijlstra Pulang ke Liga Indonesia: Realistis atau Blunder Karier demi Proyek Piala AFF 2026?
Kronologi Skandal Naturalisasi Tujuh Pemain Malaysia
Kasus ini bermula pada Juni 2025 ketika tujuh pemain tampil membela Harimau Malaya. Namun, setelah laga melawan Vietnam, muncul protes resmi yang memicu investigasi FIFA.
Pada September 2025, FIFA menyatakan FAM dan tujuh pemain melanggar Pasal 22 terkait pemalsuan dokumen. Rayuan awal FAM kemudian ditolak pada November 2025. Puncaknya terjadi pada Januari 2026, saat CAS mengeluarkan keputusan stay of execution atau penangguhan sementara hukuman.
Keputusan tersebut menjadi perbincangan hangat karena jarang terjadi dalam sejarah sepak bola Asia. Menurut Winsor John, selama dirinya menjabat sejak 2015, belum pernah ada kasus serupa yang dikabulkan CAS.
Peran AFC dan Mundurnya Pengurus FAM
Tak lama setelah keputusan CAS, seluruh jajaran Exco FAM secara kolektif mengundurkan diri. Langkah ini bukan akibat tekanan langsung FIFA maupun AFC, melainkan keputusan internal untuk menyelamatkan masa depan sepak bola Malaysia.
Winsor John menjelaskan, pengunduran diri itu bertujuan mencegah risiko lebih besar, yakni kemungkinan pembekuan FAM oleh FIFA. Dengan mundurnya pengurus, diharapkan federasi bisa melakukan pembenahan menyeluruh.
AFC kemudian masuk untuk membantu proses evaluasi. Tahap awal dilakukan dengan pengumpulan dokumen, mulai dari statut federasi hingga kebijakan internal. Selanjutnya, AFC melakukan wawancara dengan manajemen, staf, dan pemangku kepentingan guna menyusun rekomendasi reformasi.
Tujuan Banding CAS: Bukan Soal Kewarganegaraan
Salah satu poin penting yang diungkap Winsor John adalah tujuan banding ke CAS. Ia menegaskan bahwa tujuh pemain tidak menggugat status kewarganegaraan mereka.
Baca Juga: Terungkap! Daftar 9 Rekrutan Termahal Arema FC Sepanjang Masa, Nomor Satu Bikin Aremania Tercengang
“Mereka tidak meminta pengakuan apakah paspor mereka sah atau tidak. Mereka hanya ingin kembali bermain bersama klub,” ujar Winsor.
Artinya, para pemain lebih memprioritaskan karier profesional di level klub ketimbang peluang kembali membela tim nasional Malaysia. Jika banding dikabulkan, mereka bisa langsung merumput kembali bersama tim masing-masing.
Peluang Lolos Hukuman Dinilai 50:50
Terkait peluang banding, Winsor John menilai kemungkinan keberhasilan berada di angka 50:50. Jika banding diterima, maka sanksi akan dicabut dan pemain bisa kembali berkompetisi. Namun jika gagal, hukuman tetap berlaku hingga masa skorsing berakhir.
Ia juga menekankan bahwa mendapatkan stay of execution bukan perkara mudah. CAS biasanya menerapkan standar tinggi sebelum mengabulkan permohonan tersebut.
“Ini kali pertama dalam sejarah AFC ada pemain yang mendapat penangguhan seperti ini,” katanya.
Menanti Putusan CAS Februari 2026
Sidang lanjutan di CAS dijadwalkan berlangsung pada 26 Februari 2026. Hasilnya akan menjadi penentu nasib tujuh pemain sekaligus masa depan FAM.
Apakah CAS akan mengabulkan banding dan membebaskan mereka dari hukuman, atau justru menguatkan keputusan FIFA, masih menjadi tanda tanya besar.
Yang jelas, skandal naturalisasi tujuh pemain Malaysia ini menjadi pelajaran penting tentang tata kelola sepak bola, transparansi administrasi, serta pentingnya kepatuhan terhadap regulasi internasional
Editor : Dyah Wulandari