JAKARTA - Isu konspirasi Liga 1 Indonesia kembali mencuat di tengah sorotan terhadap sanksi FIFA yang menimpa sejumlah klub. Seorang YouTuber sepak bola nasional mengungkap keresahannya terkait potensi manipulasi kompetisi, mulai dari penundaan liga, pengaturan bursa transfer, hingga dugaan perlindungan terhadap klub-klub tertentu oleh PSSI.
Dalam video terbarunya, sang kreator menegaskan bahwa kekhawatiran tersebut muncul bukan tanpa alasan. Ia menilai kondisi sepak bola nasional yang dinilai belum sepenuhnya sehat membuka celah munculnya praktik-praktik tidak transparan.
Menurutnya, beberapa klub Liga 1 saat ini tengah menghadapi sanksi FIFA yang membuat mereka tidak bisa melakukan aktivitas transfer pemain. Situasi ini dinilai berpotensi dimanfaatkan untuk memunculkan konspirasi Liga 1 Indonesia dengan dalih “kepedulian” terhadap klub-klub bermasalah tersebut.
Ia khawatir, kompetisi bisa saja ditunda atau diundur agar klub-klub tersebut memiliki waktu menyelesaikan masalahnya sebelum bursa transfer berakhir.
Ancaman Penundaan Liga dan Manipulasi Bursa Transfer
Dalam paparannya, sang YouTuber menyebut bahwa jika liga ditunda, maka semua klub otomatis kehilangan kesempatan beraktivitas di bursa transfer. Kondisi ini dianggap “adil secara semu”, karena klub yang terkena sanksi tidak dirugikan sendirian.
Baca Juga: Mauro Zijlstra Pulang ke Liga Indonesia: Realistis atau Blunder Karier demi Proyek Piala AFF 2026?
“Kalau liga ditunda, semua klub tidak bisa transfer. Ujung-ujungnya, klub yang kena sanksi justru diuntungkan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti fenomena minimnya pengumuman pemain baru dari klub-klub Liga 1. Biasanya, menjelang akhir musim, klub sudah mulai memperkenalkan rekrutan anyar. Namun, saat ini mayoritas klub hanya memperpanjang kontrak pemain lama.
Bahkan, ia mengklaim adanya penundaan proses administrasi pemain asing di imigrasi yang menyebabkan banyak transfer tertunda.
Bayangkara FC, Arema, dan Ketegangan Elite Liga
Dalam video tersebut, pembahasan juga mengarah pada Bayangkara FC yang terdegradasi ke Liga 2. Klub yang identik dengan institusi Polri ini disebut-sebut berpotensi memicu gejolak jika merasa dirugikan.
Ia juga menyinggung kemungkinan dampak yang lebih besar jika klub besar seperti Arema FC terdegradasi. Menurutnya, kondisi tersebut bisa memicu tekanan terhadap operator liga dan federasi.
“Kita tahu di Indonesia, kalau tim besar atau tim ‘kuat’ kena masalah, biasanya muncul kebijakan aneh,” katanya.
Baca Juga: Stadion Gajayana, Stadion Tertua di Indonesia yang Jadi Saksi Kejayaan Arema Era Galatama
Sejarah Konflik Bali United dan Bayangkara FC
YouTuber tersebut turut menjelaskan alasan Bali United tidak “menolong” Bayangkara FC saat degradasi. Ia mengungkap adanya konflik lama sejak Liga 1 musim 2017.
Saat itu, Bayangkara FC mendapat tambahan poin akibat kasus Mitra Kukar, sehingga gagal juara Bali United. Sejak saat itu, hubungan kedua klub disebut memburuk.
Menurutnya, keberhasilan Bali United mengalahkan Bayangkara FC hingga terdegradasi dianggap sebagai “karma” oleh sebagian suporter.
Dugaan Akuisisi Klub Promosi
Isu lain yang disorot adalah kemungkinan Bayangkara FC mengakuisisi klub promosi PSBS Biak untuk kembali ke Liga 1 dengan identitas baru. Skema semacam ini dinilai bukan hal baru dalam sepak bola nasional.
Baca Juga: The Jakmania: Dari Cikal Bakal Kecil hingga Menjadi Suara Identitas Persija Jakarta
Ia memprediksi, dalam satu atau dua musim, Bayangkara FC bisa kembali dengan nama berbeda sebelum kembali memakai identitas lama.
Persib, Juara Palsu, dan Polemik Format Liga
Tak hanya itu, pembahasan juga menyinggung peluang Persib Bandung meraih gelar juara. Ia menilai sistem reguler series dan championship series membuat status juara menjadi bias.
Baca Juga: Terungkap! Daftar 9 Rekrutan Termahal Arema FC Sepanjang Masa, Nomor Satu Bikin Aremania Tercengang
Trofi reguler series yang sudah diberikan kepada Borneo FC dianggap membuat juara championship series kehilangan prestise.
“Kalau juara di championship series, malah dibilang juara kardus,” katanya.
Ia juga mengkhawatirkan perubahan regulasi mendadak yang bisa memengaruhi wakil Indonesia di kompetisi Asia, seperti yang pernah terjadi pada 2021.
Harapan pada Reformasi di Era Erick Thohir
Meski banyak mengkritik, sang YouTuber tetap menaruh harapan pada kepemimpinan Erick Thohir di PSSI. Ia menilai, saat ini federasi relatif lebih stabil dibanding era sebelumnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa banyak “aktor lama” yang masih menunggu kesempatan untuk kembali berpengaruh.
“Kita cuma berharap Pak Erick konsisten. Jangan sampai lengah,” ujarnya.
Ia menutup dengan harapan agar konspirasi Liga 1 Indonesia yang dikhawatirkannya tidak benar-benar terjadi, demi masa depan sepak bola nasional yang lebih bersih dan profesional.
Editor : Dyah Wulandari