JAKARTA - Kericuhan Persija vs Arema FC mewarnai laga besar Super League 2025/2026 yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK). Pertandingan sarat gengsi tersebut berakhir ricuh usai Arema FC menundukkan Persija Jakarta dengan skor 2-0, sekaligus menambah luka Macan Kemayoran di hadapan pendukungnya sendiri.
Kericuhan Persija vs Arema FC menjadi sorotan utama karena melibatkan pelatih Persija, Mauricio Souza, yang menghampiri bench Arema FC di akhir laga. Insiden ini berujung sanksi larangan mendampingi tim pada pertandingan berikutnya, sebuah kerugian besar bagi Persija yang tengah tertekan dalam perburuan papan atas.
Kericuhan Persija vs Arema FC dinilai bukan tanpa sebab. Pemicu utamanya disebut berasal dari aksi winger Arema FC, Gabi, yang setelah mencetak gol melakukan gestur mengejek ke arah bangku cadangan Persija. Aksi tersebut memantik emosi pemain cadangan dan ofisial Persija Jakarta.
Eks Persija Jadi Aktor Kunci Arema
Laga ini terasa unik karena Arema FC diperkuat sejumlah mantan pemain Persija Jakarta. Nama-nama seperti Gustavo Franca, Hansamu Yama, dan Rio Fahmi tampil sebagai tulang punggung Singo Edan di GBK, markas yang pernah mereka bela.
Hansamu Yama bahkan dipercaya menjadi kapten Arema FC. Bek tengah tersebut tampil solid dengan sejumlah intersep krusial dan sundulan berbahaya yang nyaris berbuah gol. Kepemimpinannya di lini belakang dinilai mampu meredam agresivitas lini depan Persija.
Di sektor tengah, Gustavo Franca tampil dominan dalam mengatur tempo permainan. Sementara Rio Fahmi menjadi senjata utama Arema lewat kecepatan di sisi kanan, memanfaatkan celah yang ditinggalkan Doni Tri Pamungkas yang kerap naik membantu serangan Persija.
Taktik Arema Efektif, Persija Kehilangan Fokus
Arema FC dinilai unggul secara taktik. Pelatih Singo Edan mampu memaksimalkan kelebihan Rio Fahmi untuk menyerang ruang kosong, sementara Hansamu Yama kerap menutup pergerakan pemain sayap Persija.
Gol pertama Arema menjadi titik balik pertandingan. Setelah kebobolan, Persija terlihat panik dan kehilangan konsentrasi. Lini pertahanan yang biasanya solid mulai mudah ditembus, sementara lini depan gagal memaksimalkan peluang.
Gabi menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Persija. Winger yang pernah bermain di Liga Kamboja itu beberapa kali mengobrak-abrik lini belakang, bahkan melewati Rizky Ridho yang dikenal sebagai bek mahal dan berpengalaman. Gol pembuka Arema lahir dari aksi individual Gabi yang mempermalukan pertahanan tuan rumah.
Kericuhan Usai Laga dan Sanksi Pelatih
Ketegangan memuncak setelah peluit panjang dibunyikan. Mauricio Souza mendatangi bench Arema FC, diduga untuk memprotes tindakan Gabi. Pelatih Arema FC spontan melindungi anak asuhnya, sehingga adu argumen tak terhindarkan.
Wasit akhirnya turun tangan dan mengeluarkan kartu kuning kepada sejumlah ofisial kedua tim. Meski tidak berujung kerusuhan massal, insiden ini dinilai mencoreng sportivitas laga besar.
Komdis kemudian menjatuhkan sanksi kepada Mauricio Souza berupa larangan mendampingi Persija pada satu pertandingan. Hukuman tersebut dinilai sangat merugikan, mengingat Persija tengah berusaha bangkit dari tren negatif.
Kedewasaan Suporter Jadi Sorotan Positif
Di tengah panasnya situasi, suporter justru menunjukkan kedewasaan. The Jakmania tidak terpancing emosi dan tetap menjaga keamanan, termasuk terhadap suporter Arema FC yang hadir di GBK.
Para pemain dari kedua tim pun tetap menunjukkan sikap profesional. Usai laga, pemain Persija dan Arema terlihat saling menyapa, menegaskan bahwa panasnya pertandingan hanya berlangsung selama 90 menit.
Dampak ke Klasemen
Kekalahan ini membuat Persija semakin tertinggal dari pesaing utama seperti Persib Bandung dan Borneo FC, yang sama-sama meraih kemenangan. Jarak poin kian melebar dan tekanan terhadap tim ibu kota pun semakin besar.
Kericuhan Persija vs Arema FC akhirnya menjadi pelajaran penting. Bukan hanya soal emosi di lapangan, tetapi juga tentang profesionalisme ofisial agar tidak memberi contoh buruk di tengah upaya sepak bola Indonesia yang kian dewasa.
Editor : Natasha Eka Safrina