Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah The Jakmania Terungkap: Dari 40 Pendiri, Anggota Pertama Nomor 10 Kotabaru hingga Jadi Kekuatan Besar Persija

Natasha Eka Safrina • Rabu, 11 Februari 2026 | 16:45 WIB

Sejarah The Jakmania terungkap, dari 40 pendiri, anggota pertama Kotabaru, hingga perjuangan awal suporter Persija Jakarta.
Sejarah The Jakmania terungkap, dari 40 pendiri, anggota pertama Kotabaru, hingga perjuangan awal suporter Persija Jakarta.

JAKARTA - Sejarah The Jakmania kembali diungkap langsung oleh para pendiri menjelang peringatan hari jadi organisasi suporter Persija Jakarta tersebut. Dalam sebuah pertemuan penuh nostalgia, sejumlah tokoh awal The Jakmania berkumpul untuk meluruskan berbagai kesalahan informasi yang selama ini beredar mengenai sejarah berdirinya suporter Macan Kemayoran.

Sejarah The Jakmania bermula dari 40 orang pendiri yang kemudian dikenal dengan sebutan JM1 hingga JM40. Namun, para pendiri menegaskan bahwa setelah deklarasi tersebut, anggota baru pertama yang tercatat secara resmi bukan berasal dari kelompok 40 itu. Anggota baru pertama justru berasal dari Kotabaru, tercatat dengan nomor keanggotaan 10, yang direkrut melalui komunikasi langsung antarpenggagas.

Menjelang ulang tahun The Jakmania, Ferry Indra Syarif—mantan ketua umum—menginisiasi pertemuan para pendiri untuk menggali kembali cerita-cerita autentik yang nyaris terlupakan. Dari sekitar 42 tokoh awal yang tercatat dalam sejarah, beberapa di antaranya telah wafat, ada yang sakit, dan sebagian berada di luar kota sehingga tidak semua bisa hadir.

Baca Juga: Benarkah Ada Rapel dan Kenaikan Gaji Pensiunan PNS 12 Persen di Maret 2026? Ini Penjelasan Resmi Taspen!

Dari Nonton Bareng Lebak Bulus hingga Ide Membentuk Organisasi

Cerita awal Sejarah The Jakmania berawal dari kebiasaan menonton Persija Jakarta bersama di Stadion Lebak Bulus. Kala itu, sekelompok anak muda dengan latar belakang usia SMP hingga SD berkumpul hanya bermodal kecintaan pada Persija. Mereka membawa spanduk sederhana berwarna biru dan oranye, dicat menggunakan pilox seadanya.

Pertemuan demi pertemuan akhirnya mempertemukan mereka dengan pihak manajemen Persija, termasuk Diza Rasyid Ali dan Edi Sukatmo. Dari sanalah muncul arahan agar para pendukung ini membentuk organisasi resmi agar lebih terkoordinasi dan bertanggung jawab.

Rapat-rapat awal pun dilakukan secara sederhana, bahkan hanya di kamar tidur salah satu pendiri. Dari diskusi itulah cikal bakal struktur organisasi The Jakmania mulai terbentuk, meski pada awalnya belum memiliki nama resmi.

Baca Juga: Rahasia Arema FC Bungkam Persija Jakarta 2-0 Terungkap, Marcos Santos Puji Taktik dan Debut Walison Maya di Super League 2025/2026

Belum Punya Nama, Hingga Lahir The Jakmania

Dalam catatan Sejarah The Jakmania, penentuan nama menjadi fase krusial. Awalnya muncul beberapa opsi, termasuk Persija Fans Club (PFC). Namun nama tersebut dianggap kurang merepresentasikan semangat modern dan identitas Jakarta.

Inspirasi datang ketika para pendiri melihat spanduk bertuliskan “Welcome Jak” dengan warna oranye. Manajemen Persija saat itu menginginkan julukan yang lebih modern dibanding Macan Kemayoran. Dari sinilah muncul gagasan nama The Jakmania, yang kemudian disepakati dan menjadi identitas resmi hingga kini.

Logo awal pun dibuat secara manual, disemprot cat sederhana, jauh dari kesan profesional. Namun justru dari kesederhanaan itu, identitas The Jakmania mulai dikenal luas.

Baca Juga: Viral Rapel Kenaikan Gaji Pensiunan Diklaim Sudah Cair, TASPEN Tegaskan Fakta Sebenarnya dan Bongkar Status Kebijakan Pemerintah

Perjuangan Mencari Anggota di Kampung-Kampung

Perjalanan The Jakmania di awal berdirinya tidak mudah. Para pendiri harus berkeliling kampung di lima wilayah Jakarta menggunakan mobil sewaan, mengajak warga mendukung Persija. Tak jarang mereka dicemooh, dianggap orang aneh, bahkan ditolak mentah-mentah.

Pendaftaran anggota dilakukan manual, di rumah salah satu pendiri yang bahkan sempat terasa seperti sekolah dadakan. Anak-anak di bawah umur diwajibkan membawa izin orang tua karena faktor keamanan. Meski demikian, antusiasme perlahan tumbuh.

Dari hanya 40 orang, jumlah anggota mulai meningkat menjadi ratusan. Wilayah seperti Pasar Minggu, Manggarai, dan Cibubur menjadi basis awal pertumbuhan The Jakmania.

Baca Juga: Benarkah Ada Rapel dan Kenaikan Gaji Pensiunan PNS 12 Persen di Maret 2026? Ini Penjelasan Resmi Taspen!

Dari Diremehkan hingga Jadi Suporter Ikonik

Dalam Sejarah The Jakmania, para pendiri juga mengenang masa-masa diusir dari stadion, dipindahkan ke pojok tribun, hingga dianggap sebelah mata oleh banyak pihak. Namun semangat kebersamaan dan satu komando menjadi kunci bertahannya organisasi ini.

Kini, The Jakmania telah menjelma menjadi salah satu kelompok suporter terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia. Dari spanduk pilox hingga koreografi megah, dari mobil keliling kampung hingga ribuan massa di stadion, perjalanan The Jakmania menjadi bukti bahwa loyalitas dan konsistensi mampu membesarkan sebuah identitas.

Editor : Natasha Eka Safrina
#persija jakarta #suporter persija #the jakmania #Sejarah The Jakmania