KEDIRI - Gading Marten resmi jadi Presiden Persik Kediri, menandai babak baru perjalanan klub berjuluk Macan Putih tersebut. Pergantian kepemimpinan ini diyakini menjadi bagian dari proyek besar Persik Kediri untuk menjelma sebagai kekuatan utama di Liga 1 musim 2022/2023 dan seterusnya.
Gading Marten resmi jadi Presiden Persik Kediri menggantikan Abdul Hakim Bafagih. Masuknya figur publik yang juga dikenal aktif di industri olahraga itu dinilai sebagai langkah strategis manajemen setelah hadirnya investor baru, PT Astar Asia Global, yang mengakuisisi saham mayoritas klub.
Perubahan struktural ini bukan langkah instan. Sebelum Gading Marten resmi jadi Presiden Persik Kediri, fondasi pembenahan sudah dimulai dari sisi teknis melalui kedatangan pelatih Javier Roca. Di bawah arahan Roca, Persik mulai menunjukkan pembenahan taktik dan karakter permainan. Kemudian hadir Danilo Fernando sebagai direktur teknik untuk memperkuat struktur pengembangan tim.
Transformasi Menuju Klub Profesional
Masuknya investor baru membawa angin segar bagi manajemen. Dengan dukungan finansial dan visi jangka panjang, Persik diharapkan mampu tampil lebih profesional, baik dalam pengelolaan klub maupun prestasi di lapangan.
Figur Gading Marten dinilai memiliki jaringan luas dan pengalaman manajerial yang mumpuni. Ia diharapkan mampu membangun citra modern Persik Kediri tanpa melupakan akar historis klub yang telah berdiri sejak 19 Mei 1950.
Persik sendiri didirikan oleh R.M. Machin yang saat itu menjabat Bupati Kediri, bersama sejumlah tokoh lokal. Sebagai klub perserikatan yang terdaftar di PSSI, Persik menjadi kebanggaan masyarakat Kediri dan bermarkas di Stadion Brawijaya yang berkapasitas sekitar 20 ribu penonton.
Era Keemasan dan Juara Liga Indonesia
Nama Persik Kediri mulai bersinar pada awal 2000-an. Di bawah kepemimpinan manajer Iwan Budianto dan pelatih Jaya Hartono, Macan Putih promosi ke Divisi Utama dan langsung mencetak sejarah.
Baca Juga: Noor Alam Shah dan Kisah Panas di Arema: Dari Sopir Grab hingga Jadi Provokator Juara Liga Indonesia
Tahun 2003 menjadi momen emas ketika Persik yang berstatus tim promosi justru keluar sebagai juara Liga Indonesia. Prestasi itu terbilang fenomenal karena mereka mampu mengungguli klub-klub mapan seperti PSM Makassar dan Persija.
Kesuksesan berlanjut pada 2006 saat Persik kembali menjuarai Liga Indonesia di bawah pelatih Daniel Roekito. Skuad bertabur bintang seperti Cristian Gonzales, Danilo Fernando, Ronald Fagundes, dan Budi Sudarsono membawa Persik mengalahkan PSIS Semarang 1-0 di final yang digelar di Stadion Manahan Solo.
Persik tercatat sebagai salah satu klub yang dua kali menjadi juara dengan status tim promosi—sebuah pencapaian langka dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Masa Sulit dan Degradasi
Namun perjalanan Persik tak selalu mulus. Pergantian kepemimpinan dan krisis finansial membuat prestasi klub menurun. Pada musim 2009/2010, Persik harus terdegradasi.
Masalah keuangan kembali menghantam pada 2015 hingga membuat Persik dicoret dari kompetisi ISL. Bahkan pada 2017, mereka terpuruk hingga ke Liga 3.
Meski begitu, semangat Macan Putih tak pernah padam. Musim 2018 menjadi titik kebangkitan saat Persik menjuarai Liga 3 setelah menang agregat 3-2 atas PSCS Cilacap. Setahun berselang, mereka kembali membuat kejutan dengan menjuarai Liga 2 musim 2019 usai menaklukkan Persita Tangerang 3-2 di final.
Prestasi tersebut kembali menegaskan identitas Persik sebagai tim yang kerap bangkit dari keterpurukan.
Harapan Baru di Era Gading Marten
Kini, dengan Gading Marten resmi jadi Presiden Persik Kediri, harapan baru kembali mengemuka. Kombinasi manajemen modern, dukungan investor, dan sejarah panjang klub menjadi modal penting untuk membangun kekuatan yang lebih stabil.
Persikmania dan Ultras Cyberxtreme sebagai kelompok suporter fanatik tentu berharap era baru ini tak sekadar perubahan nama di struktur organisasi. Mereka menanti konsistensi prestasi, pembinaan pemain muda, serta tata kelola profesional yang membawa Persik kembali bersaing di papan atas.
Macan Putih memiliki sejarah, tradisi juara, dan basis suporter loyal. Dengan manajemen yang solid, bukan tak mungkin Persik Kediri kembali menorehkan tinta emas seperti 2003 dan 2006.
Kini semua mata tertuju pada langkah Gading Marten. Mampukah ia membawa Persik menapak tangga menuju kejayaan baru? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: Macan Putih tak pernah kehilangan semangat untuk mengaum.
Editor : Dyah Wulandari