JAKARTA – Narasi besar tengah ditulis di Ibu Kota. Persija Jakarta mendadak menjelma menjadi klub paling agresif di bursa transfer paruh musim Super League 2025/2026. Di tengah cibiran dan sindiran, strategi bisnis Persija Jakarta justru mencuri perhatian publik sepak bola nasional.
Macan Kemayoran yang musim lalu sempat diterpa isu krisis finansial, kini tampil bak klub elite. Tujuh pemain baru didatangkan dalam satu jendela transfer, dan bukan nama sembarangan. Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa strategi bisnis Persija Jakarta tidak lahir secara instan, melainkan hasil perencanaan matang yang penuh perhitungan.
Nama paling menyita perhatian adalah Jean Mota, mantan rekan setim Lionel Messi di Inter Miami. Selain itu, Persija juga merekrut Paulo Ricardo yang sebelumnya tampil di UEFA Conference League, serta Aladin Ajari, top skor Liga India musim lalu.
Tak hanya pemain asing, Persija juga memboyong pemain diaspora dan lokal potensial seperti Mauro Zilstra dan Cyrus Margono. Kombinasi ini membuat Persija kini resmi menyandang status sebagai klub dengan nilai skuad termahal kedua di Indonesia, tepat di bawah Persib Bandung.
Belanja Rp36 Miliar, Persija Tak Main-main
Total belanja Persija pada bursa transfer Januari mencapai Rp36,49 miliar untuk tujuh pemain baru. Angka ini jauh melampaui pengeluaran Persib Bandung yang hanya sekitar Rp22,60 miliar untuk lima pemain. Fakta ini menegaskan ambisi Persija mematahkan dominasi rivalnya di kompetisi domestik.
Pertanyaan besar pun muncul: dari mana dana sebesar itu berasal?
Jawabannya terletak pada kolaborasi strategis antara Persija dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dukungan datang melalui sejumlah BUMD seperti Bank DKI, PAM Jaya, TransJakarta, hingga MRT Jakarta. Menurut Direktur Utama Persija Muhammad Prapanca, target komersialisasi dari sponsor BUMD mencapai Rp7 miliar.
Selain BUMD, Persija juga disokong sponsor swasta besar, mulai dari perusahaan tambang nasional hingga perusahaan asal Korea Selatan Hyundai Motors. Meski nilai kontrak tak diungkap, suntikan dana ini disebut signifikan menopang operasional klub.
Peran Pramono Anung dan Ambisi 2027
Kuatnya dukungan pemerintah daerah tak lepas dari peran Pramono Anung. Orang nomor satu di Jakarta itu terang-terangan memiliki ambisi besar: Persija harus menjadi juara liga pada 2027, bertepatan dengan perayaan 500 tahun Jakarta.
Langkah konkret pun diberikan, salah satunya melalui keringanan pajak tontonan hingga 60 persen. Dengan kebijakan ini, Persija hanya membayar pajak hiburan sekitar 4 persen, membuat ruang finansial klub jauh lebih longgar untuk investasi tim.
Tak heran, Persija sempat dicibir sebagai “klub APBD” atau “klub Papa Pram”. Namun secara regulasi, kerja sama BUMD dan klub profesional diperbolehkan selama transparan dan dapat dipertanggungjawabkan ke publik.
Nirwan Bakrie dan Model Government-Backed Football
Pengelolaan Persija berada di tangan PT Persija Jaya Jakarta (PJJ) yang dimiliki penuh oleh Bakrie Group. Pucuk pimpinan perusahaan ini adalah Nirwan Bakrie, sosok lama di industri sepak bola nasional.
Model yang diterapkan Persija kerap disebut sebagai government-backed football, yakni kolaborasi erat antara klub dan pemerintah daerah. Model ini bukan hal baru bagi Nirwan Bakrie dan terbukti sukses saat Persija meraih gelar juara Liga 1 pada 2018.
Namun, model ini juga menyimpan risiko. Tanpa kontrol ketat, campur tangan pemerintah berpotensi disalahgunakan. Sejarah klub besar seperti Persipura Jayapura dan Sriwijaya FC menjadi pengingat bahwa kejayaan instan bisa berujung kemerosotan jika tata kelola buruk.
Tantangan di Lapangan Masih Mengintai
Meski jor-joran di transfer, performa Persija di bawah pelatih Mauricio Souza masih menuai tanda tanya. Kekalahan di kandang dari Arema FC memperlebar jarak poin dengan Persib Bandung dan menegaskan pekerjaan rumah besar bagi manajemen.
Pada akhirnya, strategi bisnis Persija Jakarta hanya akan bernilai jika diimbangi pengelolaan profesional, stabilitas finansial, dan prestasi di lapangan. Jalan yang dipilih Persija berbeda dari Persib Bandung yang lebih mandiri. Siapa yang akan bertahan sukses lebih lama, waktu yang akan menjawab.
Editor : Novica Satya Nadianti