JAKARTA - Piala AFF 2026 bisa menjadi titik balik sejarah Timnas Indonesia. Fenomena pulang kampung para pemain diaspora ke Liga Super Indonesia justru menghadirkan berkah tersendiri bagi skuad Garuda. Tanpa harus bergantung pada pemain yang merumput di Eropa, pelatih anyar John Herdman memiliki kedalaman materi yang melimpah untuk menatap turnamen yang selama ini menjadi “hantu” penasaran.
Optimisme menatap Piala AFF 2026 semakin menguat karena komposisi skuad disebut hampir full diaspora yang kini bermain di kompetisi domestik. Kondisi ini membuat proses pemanggilan lebih mudah dan persiapan bisa dilakukan lebih intens. Dengan materi seperti ini, publik mulai bertanya: apakah ini momen tepat Indonesia meraih gelar AFF pertama sepanjang sejarah?
Di atas kertas, kekuatan Timnas Indonesia di Piala AFF 2026 terlihat mengerikan. Namun, jalan menuju trofi tetap terjal. Kamboja, Singapura, hingga Vietnam menanti dengan karakter permainan berbeda. Herdman dituntut meramu strategi matang, tak boleh setengah-setengah.
Kiper Modern Sesuai Filosofi Herdman
Meski tanpa Maarten Paes dan Emil Audero, Herdman tetap punya solusi. Nama Cyrus Margono mencuat sebagai opsi utama. Kiper muda yang kini memperkuat Persija Jakarta itu memiliki latar akademi Inter Milan dan pengalaman di Yunani.
Dengan tinggi 1,91 meter, Margono unggul secara fisik dan refleks. Catatan penyelamatannya mencapai rata-rata 2,6 per laga di klub sebelumnya. Lebih menarik lagi, ia bertipe sweeper-keeper—kiper yang aktif membangun serangan. Akurasi umpannya diklaim menyentuh 86 persen, bahkan pernah mencatat assist. Karakter ini selaras dengan filosofi permainan progresif Herdman.
Sebagai pelapis, Teja Paku Alam tampil impresif bersama Persib Bandung. Catatan 15 clean sheet musim ini membuktikan kualitasnya tetap relevan di level ASEAN.
Trio Bek Solid dan Fleksibel
Menggunakan skema tiga bek sejajar, Herdman berpotensi mengandalkan kombinasi Rizky Ridho, Jordi Amat, dan Dion Markx. Ridho memberi stabilitas di sisi kanan, Jordi menghadirkan pengalaman Eropa, sementara Markx kuat dalam distribusi bola dengan akurasi umpan di atas 77 persen.
Baca Juga: Persik Kediri Mengamuk di Pekan Terakhir, Ezra Walian hingga Ezekiel Vidal Bikin PSIM Tersungkur
Pelapis seperti Komang Teguh dari Borneo FC menambah kedalaman. Opsi fleksibel juga tersedia lewat Sandy Walsh yang bisa digeser ke tengah jika diperlukan.
Wingback Agresif, Kunci Skema 3-4-3
Peran wingback akan krusial. Di kanan, Sandy Walsh atau Yakob Sayuri bisa menjadi motor serangan. Yakob bahkan tampil produktif sebagai salah satu top skor pemain lokal musim ini.
Di kiri, Shayne Pattynama diproyeksikan jadi andalan. Pengalamannya di era sebelumnya membuktikan kemampuannya melakukan overlap dan pressing tinggi. Herdman dikenal menuntut wingback untuk dominan di flank dan menciptakan overload di sepertiga akhir lapangan—mirip peran Alphonso Davies saat ia melatih Kanada.
Lini Tengah Dinamis dan Adaptif
Sektor gelandang kemungkinan diisi Thom Haye dan Ivar Jenner. Kombinasi keduanya memberi keseimbangan antara kreativitas dan kedalaman. Jika memakai tiga gelandang, Eliano Reijnders bisa menjadi opsi mobilitas tinggi.
Marc Klok menawarkan stabilitas, sementara Ricky Kambuaya menghadirkan penetrasi agresif. Variasi ini membuat Indonesia bisa bermain fleksibel—baik dengan dua pivot maupun tiga gelandang dinamis.
Ujung Tombak Targetman dan Kombinasi Dua Striker
Di lini depan, Mauro Zijlstra disebut-sebut jadi pilihan utama. Striker bertinggi 1,88 meter itu cocok sebagai targetman, serupa peran Cyle Larin di Kanada era Herdman. Ia tak hanya mencetak gol, tetapi juga membuka ruang dan menjadi pemantul bola.
Baca Juga: Gustavo Almeida Janji Tak Kasih Ampun, Gawang Bali United Jadi Target Usai Persija Terpeleset
Opsi duet dengan Rafael Struick atau Ezra Walian memberi alternatif taktik dua penyerang. Kombinasi ini memungkinkan Indonesia tampil lebih direct saat dibutuhkan.
Secara keseluruhan, kedalaman skuad Indonesia jelang Piala AFF 2026 sangat menjanjikan. Tanpa pemain Eropa pun, kualitas tetap kompetitif. Kini segalanya bergantung pada sentuhan Herdman dalam menyatukan potensi menjadi sistem solid.
Jika momentum ini tak dimanfaatkan, entah kapan lagi Garuda punya peluang sebesar ini untuk mengakhiri dahaga trofi AFF. Optimisme membumbung, tapi pembuktian tetap harus dilakukan di lapangan.
Baca Juga: Gol Vico dan Alex Martins Bawa Dewa United Bungkam PSM Makassar, Tuan Rumah Gagal Manfaatkan Peluang
Editor : Dyah Wulandari