BLITAR KAWENTAR - Polemik Piala Dunia 2026 kembali mencuat menjelang 146 hari menuju kick off. Seorang jurnalis ternama secara terbuka menyarankan agar FIFA mempertimbangkan pemindahan Piala Dunia 2026 dari Amerika Serikat ke Inggris. Wacana ini mencuat di tengah meningkatnya kontroversi politik yang melibatkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Isu ini langsung menyedot perhatian publik global. Piala Dunia 2026 sejatinya akan digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada Juni hingga Juli 2026. Namun dinamika kebijakan politik dan luar negeri pemerintahan Trump dinilai berpotensi berdampak pada kelancaran turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.
Amerika Serikat sendiri dijadwalkan menjadi tuan rumah 78 dari total 104 pertandingan Piala Dunia 2026 di 11 kota, termasuk laga final yang rencananya digelar di MetLife Stadium, New Jersey, pada 19 Juli 2026. Dengan porsi terbesar tersebut, jika benar terjadi pemindahan, maka dampaknya akan sangat signifikan terhadap struktur penyelenggaraan.
Kebijakan Imigrasi Jadi Sorotan
Desakan pemindahan Piala Dunia 2026 tidak lepas dari kebijakan imigrasi terbaru pemerintah Amerika Serikat. Salah satu kebijakan yang menjadi sorotan adalah penangguhan pemrosesan visa imigran bagi warga dari 75 negara yang diumumkan mulai berlaku pada 21 Januari 2026.
Secara teori, pembekuan tersebut hanya berlaku untuk visa imigran, bukan visa kunjungan. Namun, kebijakan ini tetap menimbulkan kekhawatiran luas, terutama terkait akses masuk bagi suporter, ofisial, hingga keluarga pemain yang ingin menyaksikan langsung pertandingan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat.
Beberapa negara yang terdampak kebijakan tersebut disebut-sebut termasuk peserta Piala Dunia seperti Haiti dan Iran. Situasi ini memicu kekhawatiran bahwa kebijakan domestik dapat mengganggu prinsip inklusivitas dan keterbukaan yang selama ini dijunjung dalam ajang olahraga internasional.
Tekanan Politik dari Inggris dan Eropa
Gelombang kritik tidak hanya datang dari kalangan jurnalis. Sebanyak 23 anggota parlemen Inggris dari berbagai partai politik menandatangani mosi yang mendesak badan olahraga internasional mempertimbangkan pencabutan status tuan rumah Amerika Serikat untuk Piala Dunia 2026.
Mereka berargumen bahwa ajang olahraga global tidak semestinya menjadi sarana untuk melegitimasi atau menormalisasi kebijakan yang dinilai kontroversial secara hukum internasional. Desakan ini membuat isu Piala Dunia 2026 semakin politis dan sensitif.
Inggris sendiri dinilai memiliki kapasitas dan pengalaman jika harus mengambil alih. Negara tersebut terakhir kali menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 1966 dan sukses menggelar berbagai ajang besar setelahnya.
Rekam Jejak Inggris sebagai Tuan Rumah
Inggris memiliki sejarah panjang sebagai tuan rumah kompetisi sepak bola internasional. Pada Piala Dunia 1966, tim nasional Inggris bahkan sukses meraih gelar juara di Stadion Wembley.
Selain itu, Inggris juga menjadi tuan rumah Euro 1996 dan dipercaya menggelar sejumlah pertandingan penting termasuk final Euro 2020 yang dilangsungkan pada 2021 akibat pandemi Covid-19.
Infrastruktur stadion, sistem keamanan, serta pengalaman penyelenggaraan menjadi modal utama Inggris jika wacana pemindahan Piala Dunia 2026 benar-benar dipertimbangkan FIFA.
FIFA Belum Beri Pernyataan Resmi
Hingga kini, FIFA belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait desakan pemindahan Piala Dunia 2026. Namun tekanan publik dan politik yang terus meningkat bisa menjadi pertimbangan tersendiri bagi federasi sepak bola dunia tersebut.
Sebagai turnamen pertama yang diikuti 48 tim dan digelar di tiga negara, Piala Dunia 2026 sudah sejak awal diproyeksikan menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah. Segala bentuk gangguan, terutama yang berkaitan dengan akses dan keamanan peserta, tentu menjadi perhatian utama.
Di sisi lain, mencabut status tuan rumah dari Amerika Serikat bukan perkara mudah. Selain faktor teknis dan kontrak penyelenggaraan, aspek logistik dan kesiapan stadion juga telah dirancang sejak lama.
Dengan waktu tersisa kurang dari enam bulan, wacana pemindahan ini menambah tensi menjelang Piala Dunia 2026. Apakah FIFA akan tetap pada keputusan awal atau mempertimbangkan opsi lain, publik sepak bola dunia kini menanti kepastian.
Satu hal yang jelas, Piala Dunia 2026 bukan sekadar ajang olahraga. Ia telah menjelma menjadi panggung global yang bersinggungan erat dengan dinamika politik internasional.
Editor : Edo Trianto