JAKARTA – Persija Jakarta kian tertekan dalam persaingan papan atas Super League 2026 usai takluk dari Arema FC. Kekalahan tersebut membuat Macan Kemayoran semakin tertinggal dari rival abadinya, Persib Bandung, di klasemen sementara.
Situasi Persija Jakarta makin pelik karena hasil negatif itu datang saat para pesaing justru meraih kemenangan. Kini Rizky Ridho dan kawan-kawan terpaut enam poin dari Persib Bandung yang kokoh di puncak klasemen Super League 2026 dengan koleksi 47 angka.
Tak hanya tertinggal dari Maung Bandung, Persija Jakarta juga harus melihat Borneo FC nyaman di posisi kedua dengan 46 poin. Artinya, selisih lima angka memisahkan Macan Kemayoran dari peringkat runner-up. Tekanan pun semakin besar jelang pekan-pekan krusial musim ini.
Mauricio Souza: Kompetisi Masih Panjang
Menanggapi kondisi tersebut, pelatih Persija Jakarta Mauricio Souza memilih tetap tenang. Alih-alih meratapi kemenangan para pesaingnya di pekan ke-20 Super League 2026, pelatih asal Brasil itu justru mengirim pesan tegas kepada anak asuhnya.
“Laga ini memang sangat penting karena tim di atas kami menang,” ujarnya.
Baca Juga: Stop Percaya Tanggal Pasti! Ini Fakta Resmi soal Rapel dan Kenaikan Pensiun
Namun, ia menegaskan bahwa kompetisi belum berakhir. Masih ada 14 pertandingan tersisa yang bisa mengubah segalanya. Menurutnya, selisih poin bukan alasan untuk kehilangan fokus.
Souza meminta para pemain tidak terdistraksi oleh jarak di klasemen. Ia menekankan pentingnya konsistensi dan mentalitas bangkit jika ingin kembali bersaing dalam perebutan gelar juara Super League 2026.
Pesan tersebut menjadi suntikan motivasi di tengah kekecewaan yang dirasakan tim dan suporter.
Baca Juga: Heboh Rapelan dan THR Pensiunan 2026 Disebut Sudah Disahkan Presiden, Ini Klarifikasi Resmi TASPEN
Keributan Usai Laga, Souza Buka Suara
Kekalahan dari Arema FC tak hanya berdampak pada klasemen, tetapi juga memunculkan insiden panas di lapangan. Mauricio Souza buka-bukaan soal keributan yang terjadi selepas pertandingan.
Pelatih berusia 50 tahun itu membeberkan kronologi versinya. Ia menilai salah satu pihak, yakni Gabi, menunjukkan perilaku yang tidak sopan. Meski demikian, Souza tak ingin polemik tersebut mengganggu fokus tim menghadapi laga berikutnya.
Baca Juga: Viral Kabar Kenaikan Gaji Pensiunan Maret 2026, TASPEN Tegaskan Belum Ada Keputusan Pemerintah
Insiden tersebut menambah sorotan terhadap situasi internal Persija Jakarta yang tengah berada dalam tekanan besar.
Tujuh Pemain Baru, Ultimatum untuk Pelatih
Di tengah badai kritik, manajemen Persija Jakarta menunjukkan keseriusan melakukan pembenahan. Direktur klub, Muhammad Prapanca, sebelumnya telah mendatangkan tujuh pemain baru untuk memperkuat skuad di putaran kedua Super League 2026.
Tak hanya pemain lokal, Persija juga merekrut tiga legiun asing dengan rekam jejak mentereng. Tambahan amunisi ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing tim dalam perburuan gelar.
Namun, tambahan kekuatan tersebut juga menjadi tantangan tersendiri bagi Mauricio Souza. Prapanca secara terbuka meminta sang pelatih membuktikan kapasitasnya.
“Selesai, sudah waktunya buktiin,” tulis Prapanca melalui akun Instagram pribadinya.
Pernyataan itu jelas menjadi ultimatum halus. Dengan skuad yang kini lebih dalam dan kompetitif, tak ada lagi alasan bagi Persija Jakarta untuk gagal bersaing.
Rivalitas dengan Persib Kian Memanas
Ketertinggalan enam poin dari Persib Bandung semakin memperkeruh rivalitas klasik dua tim besar tersebut. Bagi The Jakmania, melihat Maung Bandung kokoh di puncak klasemen Super League 2026 tentu menjadi pukulan tersendiri.
Namun, dengan 14 laga tersisa, peluang belum sepenuhnya tertutup. Konsistensi menjadi kunci jika Persija Jakarta ingin memangkas jarak dan kembali menekan papan atas.
Kini, semua mata tertuju pada Mauricio Souza. Mampukah ia memaksimalkan tujuh pemain baru dan membawa Macan Kemayoran bangkit? Ataukah tekanan akan semakin berat jika hasil positif tak segera datang?
Super League 2026 masih menyisakan banyak cerita. Persija Jakarta dituntut menjawab tantangan, bukan sekadar lewat kata-kata, tetapi melalui pembuktian di lapangan.
Editor : Dyah Wulandari