SURABAYA – Persebaya kalah 1-2 dari Bhayangkara FC pada Sabtu malam, 14 Februari 2026, di Stadion Gelora Bung Tomo. Hasil ini bukan sekadar kehilangan tiga poin, tetapi juga memunculkan evaluasi besar bagi skuad Bajul Ijo di kompetisi Super League 2025-2026.
Kekalahan Persebaya dari Bhayangkara FC di kandang sendiri terasa menyakitkan. Atmosfer Stadion Gelora Bung Tomo yang biasanya angker mendadak sunyi saat peluit akhir berbunyi. Rekor positif sejak Oktober akhirnya terhenti, dan sorotan kini tertuju pada respons tim serta peran suporter untuk mengawal kebangkitan.
Pelatih Persebaya, Bernardo Tavares, tak menutup mata atas kekurangan timnya. Ia menilai kontrol emosi dan efektivitas penyelesaian akhir menjadi titik krusial dalam laga tersebut. Menurutnya, Persebaya kehilangan keseimbangan setelah kebobolan lebih dulu.
Evaluasi Mental dan Efektivitas
Dalam konferensi pers usai laga, Tavares menyoroti aspek mental yang memengaruhi jalannya pertandingan. “Ketika mereka punya peluang pertama dan mencetak gol, saya rasa kami bermain lebih dengan hati daripada dengan kepala,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa Bhayangkara FC hanya memiliki dua tembakan tepat sasaran di babak pertama, namun keduanya berbuah gol melalui bola mati dan transisi cepat. Situasi itu, menurutnya, menunjukkan celah yang sebenarnya sudah dipetakan sebelum pertandingan.
Di sisi lain, Persebaya mampu membangun serangan lewat Rivera dan Bruno. Beberapa peluang tercipta, tetapi lagi-lagi penyelesaian akhir menjadi masalah klasik. “Kami menciptakan peluang, tetapi penyelesaian akhir kami tidak akurat. Kami juga kalah dalam perebutan bola kedua di lini tengah,” tambah Tavares.
Memasuki babak kedua, intensitas permainan meningkat. Persebaya tampil lebih agresif dan mendominasi penguasaan bola. Gol Mihailo Perovic pada menit ke-64 sempat membuka asa. Bahkan, strategi ekstrem diterapkan dengan mendorong bek tengah menjadi penyerang tambahan di menit akhir demi menambah daya gedor.
“Saya menghargai kerja keras para pemain, terutama pada babak kedua. Kami bahkan harus menempatkan bek tengah sebagai penyerang di menit akhir,” jelasnya.
Respons Tavares soal Bruno Moreira
Selain hasil akhir, perhatian publik juga tertuju pada reaksi kapten tim, Bruno Moreira, yang terlihat kesal saat ditarik keluar. Gestur frustrasi itu memunculkan spekulasi di kalangan suporter.
Tavares memilih merespons dengan tenang. Ia tidak menganggap reaksi tersebut sebagai drama. “Saya pikir tidak ada pemain yang suka untuk diganti. Kalau dia harus keluar lapangan, saya tidak suka. Saya lebih memilih dia keluar dengan rasa marah atau kecewa karena ingin tetap bermain,” tegasnya.
Menurut Tavares, emosi karena ingin terus berada di lapangan adalah sinyal mental kompetitif. Namun, ia juga mengingatkan bahwa standar performa tetap menjadi prioritas, terlebih bagi seorang kapten.
“Performa hari ini tak sebagus yang saya ekspektasikan dari seorang Bruno. Sangat penting bagi pemain dengan peran yang dia emban. Bruno adalah kapten kami,” imbuhnya.
Bagi Tavares, status kapten tidak menjamin tempat otomatis di lapangan. Setiap pemain harus membuktikan diri lewat konsistensi dan kontribusi nyata.
Paul Munster dan Strategi Disiplin
Di kubu lawan, pelatih Bhayangkara FC, Paul Munster, mengungkapkan bahwa kemenangan diraih berkat disiplin taktik dan persiapan detail. Ia mengaku memahami karakter permainan Persebaya serta atmosfer Stadion Gelora Bung Tomo.
“Kami tahu ini akan sulit mengalahkan Persebaya di Stadion GBT dengan Bonek Bonita. Tapi kami fokus. Kami punya strategi 100% untuk pertandingan ini dan berhasil meraih tiga poin,” katanya.
Munster juga melakukan penyesuaian strategi saat Persebaya meningkatkan intensitas di babak kedua. Perubahan taktis itu dinilai krusial dalam meredam tekanan tuan rumah.
Meski menang, Munster tetap menunjukkan respek. “Hanya saja minta maaf kami menang, tapi di akhir pertandingan ini adalah sepak bola,” tuturnya.
Saatnya Suporter Jadi Energi Tambahan
Kini, Tavares menegaskan bahwa ia telah mengantongi kelemahan timnya. Evaluasi sudah dilakukan, baik dari sisi mental, efektivitas serangan, maupun transisi bertahan. Fokus selanjutnya adalah memastikan kebangkitan benar-benar terwujud di laga berikutnya.
Persebaya kalah 1-2 dari Bhayangkara FC menjadi pelajaran mahal. Namun kompetisi masih panjang. Dukungan Bonek dan Bonita diyakini tetap menjadi energi utama di Stadion Gelora Bung Tomo.
Pesan Tavares jelas: emosi boleh ada, tetapi performa tetap menjadi penentu. Dan saatnya seluruh elemen tim, termasuk suporter, bersatu untuk memastikan Persebaya bangkit dan kembali ke jalur kemenangan.
Editor : Dyah Wulandari