SURABAYA - Logo Bonek Mania berupa gambar “wong mangap” sudah menjadi simbol yang melekat kuat pada identitas suporter Persebaya Surabaya. Logo tersebut kerap terlihat di berbagai sudut kota, atribut suporter, hingga tribun stadion saat Bajul Ijo berlaga. Namun, tidak banyak yang mengetahui sejarah panjang di balik lahirnya logo ikonik Bonek Mania tersebut.
Bagi pendukung Persebaya, logo wong mangap bukan sekadar gambar. Simbol ini mencerminkan semangat militansi, keberanian, dan loyalitas tinggi para suporter dalam mendukung klub kebanggaan mereka. Seiring berkembangnya waktu, logo tersebut bahkan sudah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Surabaya.
Ekspresi wajah berteriak dalam logo wong mangap menggambarkan semangat tanpa batas Bonek saat memberikan dukungan di stadion. Sementara rambut gondrong dan ikat kepala dalam ilustrasi tersebut memiliki filosofi historis yang berkaitan dengan karakter arek-arek Suroboyo pada masa perjuangan kemerdekaan.
Terinspirasi Tokoh Perjuangan Surabaya
Sejumlah spekulasi sempat muncul mengenai sosok yang menjadi inspirasi logo wong mangap. Sebagian kalangan menyebut ilustrasi tersebut terinspirasi dari sosok pahlawan nasional Bung Tomo yang dikenal berpidato lantang dalam membakar semangat rakyat Surabaya melawan penjajah.
Bung Tomo memang identik dengan gaya orasi penuh semangat yang mampu menggerakkan masyarakat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan. Karakter keberanian dan semangat juang tersebut dianggap selaras dengan nilai yang diusung Bonek sebagai suporter militan Persebaya.
Namun, terdapat versi lain yang menyebut bahwa inspirasi logo wong mangap justru berasal dari sosok tokoh media nasional Dahlan Iskan. Versi ini diperkuat melalui dokumentasi foto lama yang menampilkan Dahlan Iskan mengenakan ikat kepala bertuliskan Persebaya pada tahun 1987.
Peran Desainer Grafis dalam Lahirnya Logo Ikonik
Cikal bakal logo wong mangap bermula dari ilustrasi karya seorang karyawan media bernama Muchtar pada tahun 1987. Ilustrasi tersebut dibuat berdasarkan foto Dahlan Iskan yang tengah mengenakan ikat kepala Persebaya.
Awalnya, Muchtar menggambar ilustrasi secara manual menggunakan coretan tangan. Ilustrasi tersebut kemudian diterbitkan pada halaman utama harian Jawa Pos sebagai bagian dari pemberitaan Persebaya. Dalam publikasi tersebut, terdapat tiga ilustrasi berbeda yang digunakan sebagai ikon suporter.
Seiring waktu, salah satu ilustrasi wong mangap semakin populer dan diterima publik sebagai simbol suporter Persebaya. Logo tersebut kemudian menyebar luas melalui berbagai media, termasuk kaos, stiker, hingga atribut stadion.
Evolusi Desain Logo Wong Mangap
Perkembangan teknologi percetakan turut memengaruhi evolusi desain logo wong mangap. Pada Maret 1995, saat harian Jawa Pos mulai menggunakan halaman berwarna, ilustrasi karya Muchtar disempurnakan dengan desain berwarna.
Dalam versi terbaru, karakter wong mangap digambarkan menyerupai sosok pejuang Surabaya dengan rambut panjang, mengenakan ikat kepala, sarung, serta membawa bambu runcing. Unsur tersebut memperkuat filosofi bahwa Bonek adalah representasi semangat perjuangan arek-arek Suroboyo.
Logo ini tidak hanya menggambarkan ekspresi dukungan terhadap Persebaya, tetapi juga menjadi simbol keberanian, solidaritas, dan kebanggaan terhadap identitas kota Surabaya.
Simbol Militansi dan Identitas Suporter
Kini, logo wong mangap telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan Bonek Mania. Setiap pertandingan Persebaya hampir selalu diwarnai atribut suporter yang menampilkan logo tersebut.
Bagi Bonek, membawa simbol wong mangap bukan hanya bentuk dukungan terhadap klub, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan masyarakat Surabaya. Logo ini menjadi pengingat bahwa semangat keberanian dan loyalitas harus terus dijaga dalam mendukung tim kebanggaan.
Keberadaan logo wong mangap juga memperlihatkan bagaimana sepak bola mampu menjadi medium ekspresi budaya dan identitas masyarakat. Melalui simbol sederhana, Bonek berhasil membangun identitas kuat yang dikenal luas di Indonesia.
Seiring perjalanan waktu, logo wong mangap tidak hanya menjadi simbol suporter Persebaya, tetapi juga lambang kebanggaan arek Surabaya yang mencerminkan semangat “wani” atau keberanian dalam berbagai aspek kehidupan.
Editor : Novica Satya Nadianti