Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah The Jakmania: Lahir dari Minimnya Suporter Persija Jakarta hingga Jadi Organisasi Pendukung Terbesar

Novica Satya Nadianti • Rabu, 18 Februari 2026 | 19:05 WIB

Sejarah The Jakmania bermula dari minimnya suporter Persija Jakarta hingga menjadi organisasi pendukung terbesar dan paling solid di Indonesia.
Sejarah The Jakmania bermula dari minimnya suporter Persija Jakarta hingga menjadi organisasi pendukung terbesar dan paling solid di Indonesia.

JAKARTA - Sejarah The Jakmania tidak bisa dilepaskan dari perjalanan Persija Jakarta yang pernah mengalami masa sulit dalam hal dukungan suporter. Organisasi suporter yang kini dikenal sebagai salah satu yang terbesar di Indonesia ini lahir dari kegelisahan terhadap minimnya pendukung klub kebanggaan ibu kota.

Sebelum dikenal luas, Persija sebenarnya sudah memiliki kelompok pendukung sejak era Hindia Belanda. Saat itu, klub yang masih bernama Voetbalbond Indonesische Jacatra memiliki suporter bernama Vrijer. Namun setelah Indonesia merdeka dan klub berganti nama menjadi Persija Jakarta, kelompok suporter tersebut perlahan menghilang.

Upaya membentuk kembali komunitas pendukung Persija sempat dilakukan melalui pembentukan Persija Fans Club. Sayangnya, keanggotaan kelompok ini hanya terbatas pada keluarga pemain, pengurus klub, serta kalangan selebritas Jakarta sehingga tidak berkembang secara luas di masyarakat.

Lahirnya The Jakmania pada 1997

Kondisi tersebut melahirkan gagasan untuk membentuk organisasi suporter baru pada 1997. Ide pembentukan The Jakmania muncul dari manajer Persija saat itu, Diza Rasyid Ali. Gagasan tersebut mendapat dukungan penuh dari Sutiyoso yang menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sekaligus pembina Persija.

Sutiyoso dikenal memiliki kecintaan terhadap sepak bola dan berambisi menghidupkan kembali kejayaan Persija, baik dari sisi prestasi tim maupun dukungan suporter. Pembentukan The Jakmania pun menjadi langkah penting untuk membangun basis pendukung klub secara lebih terorganisir.

Pada awal berdiri, The Jakmania masih berbentuk komunitas kecil. Jumlah anggota hanya sekitar 100 orang dengan kepengurusan yang terdiri dari 40 orang. Meski masih terbatas, organisasi ini memiliki visi besar untuk menjadi rumah bagi seluruh pendukung Persija.

Gugun Gondrong, Ketua Umum Pertama

Dalam proses pembentukan organisasi, dipilih figur publik yang dinilai mampu menarik perhatian masyarakat, yakni Gugun Gondrong. Ia dipercaya menjadi ketua umum pertama The Jakmania.

Meski berasal dari kalangan selebritas, Gugun berusaha memimpin organisasi dengan sederhana. Ia menolak diperlakukan secara istimewa dan menempatkan dirinya sejajar dengan anggota lainnya. Kepemimpinannya menjadi fondasi awal perkembangan The Jakmania.

Pada masa itu juga lahir identitas khas organisasi, yakni simbol tangan dengan jari membentuk huruf “J”. Lambang tersebut dirancang oleh humas Persija saat itu dan hingga kini masih digunakan sebagai simbol jati diri The Jakmania. Simbol ini juga dikenal dengan slogan Sajete atau salam jempol telunjuk.

Era Kepemimpinan Ferry Indra Sjarif

Setelah masa kepemimpinan Gugun Gondrong berakhir, tongkat kepemimpinan dilanjutkan oleh Ferry Indra Sjarif yang akrab disapa Bung Ferry. Ia memimpin organisasi dalam beberapa periode, yakni 1999-2001, 2001-2003, 2003-2005, serta kembali menjabat pada 2017-2019.

Di bawah kepemimpinan Bung Ferry, The Jakmania mengalami perkembangan pesat. Struktur organisasi mulai ditata lebih rapi dan sistem keanggotaan diperluas. Namun, pada awalnya pengurus menghadapi tantangan besar karena sulit mengajak masyarakat Jakarta bergabung.

Momentum penting datang saat Tim Nasional Indonesia menjalani persiapan menjelang Piala Asia. Pengurus The Jakmania menyebarkan formulir pendaftaran di luar stadion, yang kemudian berhasil menarik minat masyarakat. Dalam waktu singkat, jumlah anggota meningkat hingga ribuan orang.

Seiring bertambahnya anggota, organisasi membentuk koordinator wilayah atau korwil untuk memudahkan koordinasi. Sistem ini menjadi fondasi kuat bagi penyebaran jaringan The Jakmania di berbagai daerah.

Perkembangan dan Soliditas Suporter Persija

Setelah melalui pemilihan umum organisasi pada 2005, kepemimpinan The Jakmania dilanjutkan oleh Hanan Joe Ismayani yang dikenal dengan nama Duyung Danang. Kepemimpinan organisasi kemudian terus berganti seiring perkembangan jumlah anggota yang semakin besar.

Popularitas Persija yang terus meningkat turut memunculkan berbagai komunitas pendukung baru. Kelompok-kelompok seperti ultras, komunitas regional, hingga komunitas kreatif suporter mulai bermunculan. Meski demikian, berbagai kelompok tersebut tetap berada dalam satu payung organisasi The Jakmania demi menjaga solidaritas suporter Persija.

Kini, The Jakmania telah berkembang menjadi organisasi suporter besar dengan jaringan luas di berbagai wilayah Indonesia. Loyalitas dan militansi anggota menjadi kekuatan utama yang menjadikan The Jakmania sebagai simbol kecintaan masyarakat terhadap Persija Jakarta.

Perjalanan panjang The Jakmania menunjukkan bahwa organisasi ini bukan sekadar kelompok suporter, tetapi juga bagian penting dari sejarah dan perkembangan sepak bola ibu kota.

 

Editor : Novica Satya Nadianti
#persija jakarta #suporter persija #Gugun Gondrong #the jakmania #Sejarah The Jakmania