Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Arema FC Terancam Bubar Usai Tragedi Kanjuruhan dan Tekanan Suporter, Ini Kronologi Dualisme hingga Krisis Klub

Novica Satya Nadianti • Rabu, 18 Februari 2026 | 19:20 WIB

 

Arema FC terancam bubar usai tragedi Kanjuruhan dan konflik internal. Simak kronologi dualisme liga hingga krisis klub Singo Edan.
Arema FC terancam bubar usai tragedi Kanjuruhan dan konflik internal. Simak kronologi dualisme liga hingga krisis klub Singo Edan.

JAKARTA – Nasib Arema FC kembali menjadi sorotan setelah klub berjuluk Singo Edan itu dikabarkan mempertimbangkan pembubaran. Situasi tersebut dipicu berbagai tekanan, mulai dari konflik internal, penolakan penggunaan stadion, hingga dampak panjang pasca tragedi kelam sepak bola nasional.

Ancaman Arema FC bubar tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang dualisme kompetisi sepak bola Indonesia yang pernah terjadi. Konflik tersebut bermula ketika muncul kompetisi tandingan bernama Liga Premier Indonesia yang menyaingi Indonesia Super League. Dualisme tersebut memecah sejumlah klub besar, termasuk Arema.

Pada masa itu, Arema Indonesia memutuskan bergabung ke LPI sesuai keinginan pengurus yayasan klub yang dipimpin oleh Luki Ayub Zainal. Namun keputusan tersebut menimbulkan perpecahan internal. Sebagian pihak menolak langkah tersebut dan memilih membentuk klub baru bernama Arema Cronus yang berlaga di ISL di bawah dukungan tokoh lain, termasuk Rendra Kresna.

Dualisme Klub Memecah Dukungan Suporter

Setelah dualisme kompetisi berakhir, PSSI menetapkan hanya satu kompetisi resmi. Klub yang sempat bergabung ke LPI diizinkan kembali berkompetisi, namun harus memulai dari kasta terbawah.

Kondisi tersebut memunculkan dua entitas Arema di bawah naungan PSSI. Arema Cronus yang kemudian berubah nama menjadi Arema FC tetap bertahan di kasta tertinggi kompetisi nasional. Sementara Arema Indonesia harus berjuang di kompetisi level bawah.

Situasi itu membuat kelompok suporter Aremania dilanda dilema besar. Awalnya, sebagian besar suporter mendukung Arema Indonesia yang bermain di LPI. Namun seiring waktu, dukungan beralih ke Arema Cronus karena klub tersebut diperkuat sejumlah pemain bintang.

Beberapa pemain yang memperkuat Arema Cronus saat itu antara lain Kurnia Meiga, Ahmad Alfarisi, Dendi Santoso, dan M. Ridwan. Kehadiran para pemain tersebut memperkuat posisi Arema Cronus di hati suporter.

Penggabungan Pelita Jaya Memperkuat Arema

Perjalanan Arema Cronus semakin kuat setelah klub melebur dengan Pelita Jaya pada Oktober 2012. Proses tersebut terjadi setelah klub diakuisisi oleh Bakrie Group.

Penggabungan tersebut membuat Arema mendapatkan tambahan pemain bintang seperti Greg Nwokolo dan Joko Sasongko. Dengan kekuatan skuad yang semakin solid, Arema FC kemudian menjadi salah satu klub papan atas Indonesia dan mendapatkan dukungan penuh Aremania.

Dampak Besar Tragedi Kanjuruhan

Namun perjalanan klub berubah drastis setelah tragedi besar yang terjadi di Stadion Kanjuruhan. Peristiwa yang dikenal sebagai Tragedi Kanjuruhan menjadi salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah sepak bola Indonesia.

Akibat insiden tersebut, kompetisi sepak bola nasional sempat dihentikan sementara. Selain itu, Arema FC juga menerima sanksi larangan bermain di Malang dan harus menjalani laga kandang di luar daerah dengan jarak minimal 25 kilometer dari kota asalnya.

Masalah semakin kompleks karena sejumlah komunitas suporter menolak berbagi stadion dengan Arema FC. Penolakan tersebut membuat klub kesulitan menentukan kandang untuk menjalani pertandingan.

Tekanan Internal Memperparah Situasi Klub

Tidak hanya menghadapi tekanan eksternal, Arema FC juga dilanda persoalan internal. Klub dinilai kurang aktif dalam proses pengusutan tragedi Kanjuruhan. Hal tersebut memicu aksi demonstrasi suporter yang berujung bentrokan di kantor klub dan menyebabkan sejumlah korban luka.

Komisaris PT Arema Aremania Bersatu Berprestasi Indonesia, Tatang Dwi Arvianto, mengungkapkan bahwa manajemen memahami duka mendalam yang masih dirasakan masyarakat Malang. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan serius dalam menentukan masa depan klub.

Manajemen Arema FC dikabarkan telah menggelar rapat untuk membahas langkah selanjutnya. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah membubarkan klub atau menghentikan aktivitas sementara hingga situasi kembali kondusif.

Ancaman Sanksi Jika Mundur dari Kompetisi

Jika Arema FC benar-benar mundur dari kompetisi, klub berpotensi menghadapi sanksi berat sesuai regulasi PSSI. Selain denda besar, klub juga terancam turun ke kasta kompetisi yang lebih rendah.

Situasi tersebut membuat masa depan Arema FC masih berada dalam ketidakpastian. Klub yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Malang kini menghadapi salah satu periode paling sulit dalam sejarahnya.

Editor : Novica Satya Nadianti
#Tragedi Kanjuruhan #aremania #Arema FC #sepak bola indonesia