Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Piala AFF U-17 2026 Jadi Penentuan! 42 Gol Semusim dan Pemain Berdarah Jerman Tanpa Naturalisasi Masuk Radar Timnas Indonesia

Davina Ar Raafika • Kamis, 19 Februari 2026 | 20:50 WIB
Piala AFF U-17 2026 jadi penentuan Timnas Indonesia, 42 gol semusim dan pemain Jerman tanpa naturalisasi masuk radar.
Piala AFF U-17 2026 jadi penentuan Timnas Indonesia, 42 gol semusim dan pemain Jerman tanpa naturalisasi masuk radar.

JAKARTA - Piala AFF U-17 2026 bukan sekadar turnamen regional biasa. Ajang ini menjadi pintu awal penentuan nasib Timnas Indonesia menuju panggung dunia. Dengan waktu persiapan hanya sekitar dua setengah bulan, tekanan terhadap skuad Garuda Asia kian memuncak.

Piala AFF U-17 akan digelar pada 11–23 April 2026 dan diproyeksikan sebagai laboratorium taktik sebelum menghadapi Piala Asia U-17 di Arab Saudi. Turnamen level Asia itulah yang menjadi gerbang sesungguhnya menuju Piala Dunia U-17 di Qatar. Artinya, Piala AFF U-17 harus dimanfaatkan sebagai ajang pemanasan maksimal, bukan sekadar berburu trofi ASEAN.

Pelatih Kurniawan Dwi Yulianto menghadapi tantangan besar. Waktu yang mepet memaksanya menyusun strategi matang demi menjaga keseimbangan fisik, mental, dan taktik pemain. Publik memang berharap gelar juara di kandang sendiri, namun prioritas utama tetap pada kesiapan menembus persaingan Asia.

Fokus Fisik Jadi Kunci

Pengamat sepak bola Eduward Chong mengingatkan bahwa aspek fisik harus menjadi pondasi utama sebelum bicara taktik. Menurutnya, menjadi juara Piala AFF U-17 tak akan berarti jika stamina pemain rontok saat bertarung di Piala Asia U-17.

Australia, Thailand, dan Vietnam sudah lebih dulu mengasah mental lewat atmosfer kompetitif. Sementara Indonesia masih berpacu dengan waktu. Mirza Firzatullah dan kolega dituntut tampil konsisten agar mimpi tampil di Qatar tetap terjaga.

Talenta Liga 2 Masuk Radar

Di tengah persiapan, pelatih anyar Timnas Indonesia, John Hertman, mulai aktif memantau bakat-bakat potensial dari kompetisi domestik, termasuk Liga 2.

Nama pertama yang mencuri perhatian adalah Ikram Alghifari. Kiper berusia 20 tahun itu tampil solid bersama FC Bekasi City dengan catatan lima clean sheet dari 12 laga. Refleks dan ketenangannya di bawah mistar membuatnya digadang-gadang sebagai pesaing serius di level lebih tinggi.

Selain itu, ada Asir Aziz yang tampil impresif bersama PSPS Pekanbaru. Gelandang kreatif ini telah mengoleksi delapan assist musim ini. Visi bermain dan akurasi umpannya dinilai cocok dengan skema transisi cepat yang kerap diterapkan Hertman.

Tak kalah menarik, Jam Kelly Sroyer kembali menunjukkan kualitasnya bersama Persipura Jayapura. Eks pemain emas SEA Games 2023 itu mencatatkan dua gol dan empat assist. Kecepatan eksplosifnya dinilai bisa menjadi senjata tambahan bagi skuad Garuda.

Baca Juga: Taktik John Hertman di Timnas Indonesia Terungkap! Skema 3 Bek, High Pressing, dan Target Lolos Piala Dunia 2030

Pencetak 42 Gol Semusim Buka Peluang

Sorotan berikutnya tertuju pada sosok diaspora berdarah Banten, Abdurrahman Iwan Kuswanto. Pemain yang kini memperkuat Al Wakrah SC itu pernah mencetak 42 gol dalam satu musim di level junior dan menyabet predikat pemain terbaik versi kompetisi usia muda Spanyol.

Lahir di Doha dari orang tua asal Serang, Iwan memiliki kelengkapan administratif untuk membela Timnas Indonesia tanpa proses naturalisasi. Ia merupakan jebolan Aspire Academy dan sempat masuk daftar pemain elite versi La Liga pada 2017.

Meski sempat membawa Timnas Qatar U-17 lolos ke Piala Asia, Iwan mengaku belum pernah menerima panggilan resmi dari PSSI. Kini, dengan pendekatan baru di tubuh timnas, peluang memboyong sang gelandang kembali terbuka lebar.

Pemain Berdarah Jerman Tanpa Naturalisasi

Selain Iwan, muncul pula nama pemain berdarah Jerman yang memenuhi syarat membela Indonesia tanpa naturalisasi, yakni Renault Mons. Bek kelahiran Jakarta 2 Oktober 2005 ini merupakan produk akademi Bayer Leverkusen dan kini bermain reguler di kasta kedua Bundesliga.

Berdasarkan Statuta FIFA Pasal 7, pemain berhak membela negara tempat kelahirannya. Artinya, Renault secara hukum dapat memperkuat Timnas Indonesia tanpa prosedur naturalisasi panjang. Nilai pasarnya yang menyentuh Rp20 miliar menjadi indikator kualitasnya.

Namun tantangan terbesar bukan soal regulasi, melainkan emosional. Renault mengaku tidak memiliki banyak kenangan tentang Jakarta karena meninggalkan Indonesia sejak balita. Ia juga masih aktif membela tim junior Jerman.

Kini, keputusan ada di tangan federasi dan pelatih. Jika pendekatan berjalan efektif, bukan tidak mungkin Garuda akan mendapatkan tambahan amunisi kelas Eropa tanpa proses rumit.

Piala AFF U-17 2026 pun menjadi titik krusial. Bukan hanya soal trofi, tetapi momentum membangun fondasi menuju level Asia dan dunia. Kombinasi talenta lokal, diaspora produktif, dan pemain eligible tanpa naturalisasi bisa menjadi pembeda dalam perjalanan panjang menuju Qatar.

Editor : Davina Ar Raafika
#Timnas Indonesia #Renault Mons #John Hertman #Abdurrahman Iwan Kuswanto #Piala AFF U17 2026