Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah Persija Jakarta dari Era VIJ hingga Super League Indonesia: 11 Gelar, Lahirnya The Jakmania, dan Rivalitas Panas Lawan Persib

Davina Ar Raafika • Kamis, 19 Februari 2026 | 22:10 WIB
Sejarah Persija Jakarta dari era VIJ, 11 gelar juara, lahirnya The Jakmania hingga rivalitas panas lawan Persib.
Sejarah Persija Jakarta dari era VIJ, 11 gelar juara, lahirnya The Jakmania hingga rivalitas panas lawan Persib.

JAKARTA - Sejarah Persija Jakarta adalah potret panjang perjalanan klub ibu kota yang sudah eksis bahkan sebelum Indonesia merdeka. Sejarah Persija Jakarta dimulai sejak era kolonial Belanda dengan nama Football Bond Indonesia Jakarta (VIJ) dan terus bertahan hingga kini tanpa pernah terdegradasi ke kasta kedua kompetisi nasional.

Sebagai salah satu klub tertua di Indonesia, Sejarah Persija Jakarta mencatat 9 gelar era Perserikatan dan dua gelar Liga Indonesia. Namun, perjalanan Macan Kemayoran tidak selalu berjalan mulus. Klub ini sempat besar di lapangan, tetapi sepi dukungan suporter sebelum akhirnya lahir The Jakmania pada 1997 yang mengubah wajah Persija secara drastis.

Hingga memasuki musim 2025-2026 yang kini bertajuk Super League Indonesia, Persija tetap menjadi kandidat kuat juara. Konsistensi prestasi dan basis suporter masif menjadi fondasi utama klub kebanggaan ibu kota tersebut.

Lahir di Era Kolonial, Jadi Penggagas PSSI

Sejarah Persija Jakarta bermula pada 28 November 1928 saat Suri dan Ali mendirikan Football Bond Bumiputra. Setahun kemudian, namanya berubah menjadi Football Bond Indonesische Jacatra (VIJ). Klub ini lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap diskriminasi federasi bentukan Belanda, Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB).

VIJ kemudian menjadi salah satu penggagas berdirinya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada 19 April 1930 di Yogyakarta. Di tahun pertama kompetisi Perserikatan 1931, Persija—yang saat itu masih bernama VIJ—langsung menjadi juara.

Gelar berikutnya diraih pada 1933, 1934, dan 1938. Setelah Indonesia merdeka, tepatnya tahun 1950, VIJ resmi berganti nama menjadi Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta atau Persija.

Raja Perserikatan yang Sepi Suporter

Di era Perserikatan, Persija kembali berjaya dengan gelar 1954, 1964, 1973, 1975, dan 1979. Total sembilan trofi diraih di kompetisi tersebut. Namun ironisnya, kejayaan itu tak diiringi euforia besar dari pendukung.

Jakarta yang heterogen dan didominasi masyarakat urban membuat fanatisme kedaerahan relatif rendah. Berbeda dengan Persib Bandung yang kuat dengan identitas Sunda atau Persebaya Surabaya dengan fanatisme Jawa, Persija kesulitan membangun basis massa loyal.

Situasi berubah drastis pada 1997.

Era Sutiyoso dan Lahirnya The Jakmania

Tahun 1997 menjadi titik balik. Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso, melakukan revolusi besar terhadap Persija. Warna klub diubah dari merah menjadi oranye, pengelolaan diperbaiki, dan dukungan dana APBD dikucurkan.

Di tahun yang sama, lahirlah The Jakmania dengan Gugun Gondrong sebagai ketua umum pertama. Kehadiran kelompok suporter ini langsung mengubah atmosfer sepak bola Jakarta. Stadion yang sebelumnya lengang mulai dipenuhi lautan oranye.

Persija pun meraih gelar Liga Indonesia 2001—trofi pertama di era liga modern dan yang ke-10 secara keseluruhan jika digabung dengan era Perserikatan.

Rivalitas Panas dengan Persib Bandung

Tak lengkap membahas Sejarah Persija Jakarta tanpa menyinggung rivalitasnya dengan Persib Bandung. Laga kedua tim kerap disebut sebagai yang terpanas di Indonesia.

Gesekan antar suporter telah terjadi sejak akhir 1990-an dan terus memanas di era 2000-an hingga 2010-an. Beberapa insiden tragis bahkan memakan korban jiwa dari kedua kubu.

Rivalitas ini tak hanya terjadi di dalam stadion, tetapi juga merembet ke luar lapangan dan media sosial. Faktor fanatisme kewilayahan serta persaingan prestasi membuat duel Persija kontra Persib selalu sarat tensi tinggi.

Stadion Berpindah-Pindah, Akhirnya Berlabuh di JIS

Sepanjang sejarahnya, Persija termasuk klub yang sering berpindah kandang. Mulai dari Lapangan Petojo, Stadion Ikada, Stadion Menteng, hingga Stadion Lebak Bulus.

Setelah Lebak Bulus dialihfungsikan, Persija sempat menggunakan Stadion Utama Gelora Bung Karno sebagai markas. Namun status sebagai penyewa membuat klub tidak leluasa.

Kini, Persija memiliki kesepakatan penggunaan Jakarta International Stadium (JIS) untuk musim 2025-2026. Kehadiran stadion modern ini menjadi harapan baru stabilitas kandang Macan Kemayoran.

Julukan Macan Kemayoran 

Julukan Macan Kemayoran terinspirasi dari sosok legendaris Murtado, jawara asal Kemayoran yang dikenal berani melawan ketidakadilan pada abad ke-19. Semangat keberanian itulah yang diadopsi Persija.

Maskot klub bernama Bang J, seekor harimau, menjadi simbol kegagahan sekaligus hiburan bagi suporter di stadion.

Era Profesional dan Gelar 2018

Ketika kompetisi berubah menjadi Liga Super Indonesia pada 2008, Persija termasuk klub yang sukses bertransformasi secara profesional. Dukungan sponsor dan basis suporter besar menjadi kekuatan finansial utama.

Setelah penantian panjang, Persija akhirnya juara Liga 1 2018. Itu adalah gelar ke-11 sepanjang sejarah klub. Ratusan ribu suporter turun ke jalan merayakan kemenangan, membanjiri Jakarta dengan warna oranye.

Meski sejak 2018 belum kembali meraih gelar liga hingga 2025, Persija tetap konsisten bersaing di papan atas. Memasuki era Super League Indonesia 2025-2026, Macan Kemayoran kembali digadang-gadang sebagai kandidat kuat juara.

Lebih dari sekadar klub sepak bola, Persija adalah simbol identitas ibu kota—klub yang lahir sebelum Indonesia merdeka dan tetap berdiri kokoh hingga hari ini.

Editor : Davina Ar Raafika
#macan kemayoran #liga indonesia #Sejarah Persija Jakarta #the jakmania #persib bandung