Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah Panjang Persija Jakarta: Dari Era VIJ, Lahirnya The Jakmania 1997, hingga Rivalitas Panas Lawan Persib

Davina Ar Raafika • Kamis, 19 Februari 2026 | 22:15 WIB
Sejarah Persija Jakarta dari era VIJ, lahirnya The Jakmania 1997, 11 gelar juara, hingga rivalitas panas lawan Persib Bandung.
Sejarah Persija Jakarta dari era VIJ, lahirnya The Jakmania 1997, 11 gelar juara, hingga rivalitas panas lawan Persib Bandung.

JAKARTA – Sejarah Persija Jakarta adalah kisah panjang klub ibu kota yang telah berdiri bahkan sebelum Indonesia merdeka. Berdiri pada 28 November 1928 dengan nama Football Bond Bumiputra, klub ini kemudian berganti nama menjadi VIJ (Football Bond Indonesische Jacatra) sebelum resmi menjadi Persija pada 1950. Sejarah Persija Jakarta mencatat 9 gelar Perserikatan dan 2 gelar Liga Indonesia, menjadikannya salah satu klub tersukses di Tanah Air.

Meski prestasi mentereng, Persija lama mengalami kesepian dukungan. Pada era Perserikatan hingga awal Liga Indonesia, stadion kerap tidak penuh ketika Persija bertanding di kandang. Situasi berubah drastis pada 1997, tahun yang menjadi titik balik lahirnya basis suporter besar Macan Kemayoran.

Tahun itu, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso, melakukan revolusi besar. Warna klub yang sebelumnya merah-putih diubah menjadi oranye. Manajemen diperkuat dan dukungan dana digelontorkan. Di momen inilah lahir The Jakmania yang dipimpin Gugun Gondrong sebagai ketua umum pertama.

Dari Diskriminasi Kolonial hingga Juara Perserikatan

Di era Hindia Belanda, sepak bola dikelola oleh NIVB (Nederlandsch Indische Voetbal Bond) yang dinilai diskriminatif terhadap pemain pribumi. Sebagai respons, tokoh Suri dan Ali mendirikan klub untuk masyarakat pribumi Jakarta. Klub ini kemudian menjadi salah satu penggagas berdirinya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada 19 April 1930 di Yogyakarta.

Persija langsung juara pada kompetisi Perserikatan pertama tahun 1931, lalu kembali meraih gelar pada 1933, 1934, dan 1938. Setelah kemerdekaan, Persija tetap konsisten bersaing dan menambah koleksi gelar pada 1954, 1964, 1973, 1975, serta 1979. Total sembilan trofi Perserikatan diraih.

Namun berbeda dengan klub seperti Persib Bandung atau Persebaya Surabaya yang memiliki basis etnis kuat, Persija kesulitan membangun fanatisme karena Jakarta bersifat heterogen dan didominasi masyarakat urban dari berbagai daerah.

Revolusi 1997 dan Lahirnya The Jakmania

Perubahan besar terjadi pada 1997. Selain mengganti warna menjadi oranye, dibentuklah The Jakmania sebagai wadah resmi suporter. Tiket disebar luas, transportasi bus disiapkan, dan atmosfer stadion berubah total.

Dari stadion yang sepi, Jakarta berubah menjadi lautan oranye setiap kali Persija bertanding. Kebangkitan ini membuahkan hasil dengan gelar Liga Indonesia 2001—trofi pertama di era liga modern dan gelar ke-10 sepanjang sejarah klub.

Persija kemudian bertransformasi menjadi klub profesional ketika Liga Super Indonesia digulirkan pada 2008. Dukungan suporter yang besar menjadi kekuatan finansial penting untuk menarik sponsor dan pemain berkualitas.

Puncaknya, Persija meraih gelar Liga 1 2018. Kota Jakarta berubah oranye, ratusan ribu suporter turun ke jalan merayakan gelar ke-11 sepanjang sejarah klub.

Rivalitas Kronis dengan Persib Bandung

Tak bisa dipungkiri, rivalitas Persija dengan Persib Bandung menjadi salah satu yang terpanas di Asia Tenggara. Ketegangan yang bermula akhir 1990-an berkembang menjadi konflik berkepanjangan.

Sejumlah insiden tragis terjadi dalam duel kedua tim, baik di Stadion Gelora Bandung Lautan Api maupun di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Ketegangan tak hanya terjadi di dalam stadion, tetapi juga di luar arena pertandingan dan media sosial.

Rivalitas ini dipicu fanatisme kewilayahan, persaingan prestasi, serta sejarah panjang kedua klub yang sama-sama belum pernah terdegradasi sepanjang kompetisi nasional.

Perjalanan Stadion dan Identitas Macan Kemayoran

Sepanjang sejarahnya, Persija kerap berpindah kandang: dari Lapangan Petojo, Stadion Ikada, Stadion Menteng, Stadion Lebak Bulus, hingga akhirnya bermarkas di Jakarta International Stadium (JIS).

Julukan Macan Kemayoran terinspirasi dari tokoh legendaris Murtado, jawara Kemayoran abad ke-19 yang dikenal berani melawan ketidakadilan. Semangat keberanian itulah yang diadopsi Persija. Maskot klub, Bang J, seekor harimau, menjadi simbol kegagahan sekaligus hiburan bagi suporter.

Menuju Era Super League Indonesia

Memasuki musim 2025-2026, Liga 1 berganti nama menjadi Super League Indonesia. Persija kembali diprediksi menjadi kandidat kuat juara berkat manajemen profesional dan dukungan suporter besar.

Satu fakta yang tetap konsisten: sejak berdiri pada 1928 hingga kini, Persija belum pernah terdegradasi ke kasta kedua kompetisi nasional. Dari era kolonial, kemerdekaan, hingga sepak bola modern, Persija Jakarta tetap berdiri sebagai simbol kebanggaan ibu kota.

Editor : Davina Ar Raafika
#macan kemayoran #liga indonesia #Sejarah Persija Jakarta #the jakmania #persib bandung