Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pesan Haedar Nashir soal Perbedaan Awal Ramadan 1447 H: Jangan Saling Menyalahkan, Kedepankan Tasamuh dan Kedewasaan

Vicky Hernanda • Jumat, 20 Februari 2026 | 10:05 WIB
Perbedaan Awal Ramadan 1447 H
Perbedaan Awal Ramadan 1447 H

BLITAR - Perbedaan awal Ramadan 1447 H kembali menjadi perhatian publik. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, meminta umat Muslim di Indonesia untuk menghargai jika terjadi perbedaan dalam penetapan awal puasa tahun ini.

Dalam pernyataannya, Haedar Nashir menegaskan bahwa perbedaan awal Ramadan 1447 H seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan. Ia mengingatkan bahwa tujuan utama puasa adalah melahirkan ketakwaan, bukan memperdebatkan siapa yang paling benar dalam menentukan tanggal 1 Ramadan.

Menurutnya, meski boleh jadi terdapat perbedaan dalam memulai puasa 1447 Hijriah, umat Islam diharapkan tetap menjalaninya dengan tasamuh atau sikap toleran. Ia juga menekankan pentingnya kecerdasan dan kedewasaan dalam menyikapi dinamika perbedaan awal Ramadan 1447 H tersebut.

Haedar Nashir: Puasa Bertujuan Meningkatkan Ketakwaan

Haedar menyampaikan bahwa esensi ibadah puasa adalah membentuk pribadi yang lebih bertakwa. Karena itu, perbedaan dalam memulai ibadah seharusnya tidak mengaburkan tujuan utama Ramadan.

“Puasa itu melahirkan outcome dan tujuan agar kita semakin bertakwa,” ujarnya.

Ia menilai, dalam konteks penetapan awal Ramadan, ruang ijtihad memang terbuka. Selama belum ada satu sistem kalender global yang disepakati bersama, perbedaan kemungkinan besar akan terus terjadi di tengah umat Islam.

Menurut Haedar, kondisi tersebut merupakan realitas yang perlu diterima dengan lapang dada. Perbedaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriah adalah bagian dari khazanah pemikiran Islam yang sudah berlangsung lama.

Belum Ada Kalender Global yang Disepakati

Haedar juga menyoroti belum adanya satu sistem kalender Islam global yang disepakati seluruh pihak. Selama sistem bersama itu belum terwujud, perbedaan awal Ramadan 1447 H maupun awal bulan Hijriah lainnya sangat mungkin terjadi.

“Selama kita belum punya satu sistem kalender global yang disepakati bersama, tentu kita akan sering berbeda,” katanya.

Ia menekankan bahwa dalam ruang ijtihad, tidak perlu ada sikap saling menyalahkan atau merasa paling benar sendiri. Perbedaan pandangan dalam menentukan awal Ramadan merupakan konsekuensi dari metode dan pendekatan yang digunakan masing-masing pihak.

Karena itu, Haedar mengajak umat Islam untuk mengembangkan kearifan dalam menyikapi perbedaan. Sikap dewasa dan toleran dinilai menjadi kunci menjaga persatuan umat di tengah perbedaan penetapan awal puasa.

Kedepankan Tasamuh dan Kearifan

Dalam pesannya, Haedar Nashir secara khusus menekankan pentingnya tasamuh atau toleransi. Ia mengingatkan agar perbedaan awal Ramadan 1447 H tidak memicu perdebatan yang berujung pada perpecahan.

Menurutnya, ketika terjadi perbedaan, umat Islam cukup menjalankan keyakinan masing-masing dengan penuh kedewasaan. Tidak perlu memperuncing perbedaan atau menjadikannya ajang untuk saling menyalahkan.

Ia juga mengajak seluruh umat untuk mengedepankan kecerdasan dalam melihat persoalan. Perbedaan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dikelola dengan bijak agar tetap menjaga ukhuwah Islamiyah.

Pesan tersebut disampaikan di tengah potensi perbedaan penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah di Indonesia. Seperti tahun-tahun sebelumnya, perbedaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriah kerap memunculkan variasi tanggal mulai puasa.

Namun demikian, Haedar berharap umat Islam tidak terjebak pada polemik yang tidak produktif. Ia menegaskan bahwa nilai utama Ramadan adalah peningkatan kualitas diri, penguatan ketakwaan, dan pembentukan karakter yang lebih baik.

Dengan mengedepankan tasamuh, kecerdasan, dan kedewasaan, perbedaan awal Ramadan 1447 H diharapkan tidak mengganggu kekhusyukan ibadah. Umat Islam pun dapat tetap menjaga persatuan di tengah keberagaman pandangan yang ada. (*)

Editor : Vicky Hernanda
#Perbedaan awal Ramadan 1447 H #muhammadiyah #haedar nashir #Awal Puasa 2026 #tasamuh