BLITAR – Memasuki hari-hari awal Ramadan, umat Muslim diingatkan untuk tidak terjebak dalam rutinitas puasa yang sekadar menahan lapar dan dahaga.
Ustaz Adi Hidayat, melalui bedah Kitab Shahih Bukhari (Kitabus Shum), menekankan adanya perbedaan besar antara puasa "standar" dengan puasa "kualitas utama" yang mampu menghapuskan seluruh dosa masa lalu.
Ustaz Adi menjelaskan bahwa puasa berkualitas utama harus memenuhi tiga unsur mutlak: Iman (motivasi murni karena Allah), Ihtisab (keikhlasan yang dibarengi evaluasi diri atau muhasabah), dan Niat yang benar.
Niat ini menjadi vektor penentu; jika seseorang bekerja atau belajar selama Ramadan hanya demi tujuan duniawi, maka ia tidak akan mendapatkan bagian di akhirat.
Sebaliknya, jika segala aktivitas dikonversikan menjadi ibadah, maka setiap keringatnya akan bernilai pahala di sisi Allah.
Lebih lanjut, beliau memaparkan bahwa puasa adalah "perisai" (Junnah) yang melatih moral manusia untuk berhenti dari maksiat dan meningkatkan kedermawanan.
Keutamaan puasa ini begitu spesial karena pahalanya tidak menggunakan standar hitungan biasa (10 hingga 700 kali lipat), melainkan Allah sendiri yang akan memberikan ganjaran tak terhingga sesuai kehendak-Nya.
Bagi mereka yang berhasil menjaga lisannya dari kata kotor dan perbuatan tercela, Allah menjanjikan aroma mewangi saat mereka dibangkitkan di hari kiamat kelak.(*)
Editor : Satria Wira Yudha Pratama