BLITAR - Penyelenggaraan Brisbane Olimpiade 2032 kini ramai dijuluki sebagai “Hot Mess Olympics”. Julukan itu muncul karena proyek pesta olahraga dunia tersebut dinilai amburadul: biaya membengkak hingga miliaran dolar, rencana stadion berubah-ubah, hingga gelombang penolakan dari sebagian masyarakat Queensland.
Sorotan terhadap Brisbane Olimpiade 2032 semakin tajam setelah pemerintah setempat melakukan putar balik kebijakan berkali-kali terkait venue utama. Dari rencana renovasi Gabba Stadium, pindah ke Queensland Sport and Athletics Centre (QSAC), hingga akhirnya kembali mengusulkan pembangunan stadion baru berkapasitas 63.000 kursi di Victoria Park.
Padahal, Brisbane Olimpiade 2032 seharusnya menjadi momentum kebangkitan kota terbesar ketiga di Australia itu. Setelah suksesnya Sydney 2000, banyak pihak berharap Brisbane mampu menghadirkan warisan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi serupa. Namun perjalanan menuju 2032 justru diwarnai kontroversi.
Dari Kota Sunshine State ke Tuan Rumah Olimpiade
Brisbane terletak di negara bagian Queensland, sebelah utara Sydney dan Melbourne. Kota ini dikenal sebagai “sunshine state” dengan suhu bisa mencapai 40 derajat Celsius, pantai indah, serta populasi sekitar dua juta jiwa.
Dalam dua dekade terakhir, Brisbane tumbuh pesat berkat migrasi internal dari Sydney dan Melbourne. Harga rumah yang lebih terjangkau dan cuaca hangat menjadi daya tarik utama. Namun di balik pertumbuhan itu, muncul tantangan serius seperti krisis perumahan dan kenaikan biaya hidup.
Brisbane sebenarnya sudah lama mengincar Olimpiade. Mereka pernah mengajukan diri untuk Olimpiade 1992, namun kalah dari Barcelona. Empat dekade kemudian, melalui sistem bidding baru IOC yang lebih tertutup dan tanpa kampanye mahal, Brisbane akhirnya ditetapkan sebagai tuan rumah Olimpiade 2032.
Sistem Baru IOC dan “Kemenangan Tanpa Lawan”
Sejak 2020, Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengubah sistem pemilihan tuan rumah. Kota tidak lagi bersaing terbuka dengan kampanye besar-besaran, melainkan dipilih melalui dialog tertutup lebih awal.
Hasilnya, saat penentuan tuan rumah 2032, Brisbane praktis tidak memiliki pesaing serius. Kota ini mendapat waktu persiapan 11 tahun, lebih panjang dari biasanya tujuh tahun.
Brisbane menjanjikan 80 persen venue sudah tersedia atau bersifat sementara. Ajang akan digelar di lebih dari 30 lokasi di kawasan Queensland tenggara, termasuk Gold Coast, Sunshine Coast, Logan, Ipswich, dan Redlands.
Namun rencana ambisius itu tidak berjalan mulus.
Kontroversi Stadion dan Lonjakan Anggaran
Pusat polemik Brisbane Olimpiade 2032 ada pada stadion utama. Awalnya, pemerintah berencana merobohkan dan membangun ulang Gabba Stadium agar memenuhi kapasitas minimal 50 ribu penonton. Biaya yang semula diperkirakan USD 1 miliar melonjak menjadi USD 2,7 miliar.
Rencana tersebut menuai kemarahan publik karena berdampak pada bangunan warisan budaya, sekolah, dan penutupan jalan utama selama konstruksi.
Setelah pergantian pemerintahan, proyek Gabba dibatalkan dan dialihkan ke QSAC di pinggiran kota. Namun lokasi ini dinilai minim akses transportasi publik. Kritik kembali bermunculan.
Teranyar, pemerintah Queensland mengusulkan stadion baru berkapasitas 63 ribu kursi di Victoria Park, lengkap dengan kompleks akuatik 25 ribu kursi di Spring Hill. Keputusan ini dianggap bertolak belakang dengan janji awal untuk tidak membangun stadion baru.
Penolakan Publik dan Gugatan Adat
Di tengah tekanan biaya hidup dan krisis perumahan, sebagian warga mempertanyakan urgensi anggaran besar untuk Olimpiade. “Mengapa membiayai pesta olahraga mahal ketika banyak warga kesulitan membeli rumah?” menjadi pertanyaan yang sering muncul.
Tak hanya itu, kelompok masyarakat adat juga menggugat pembangunan stadion di Victoria Park. Mereka menilai kawasan tersebut memiliki nilai sejarah dan spiritual, termasuk keberadaan pohon tua, artefak, hingga kemungkinan situs leluhur.
Situasi ini membuat Brisbane tertinggal dari jadwal perencanaan. Pemerintah bahkan meminta perpanjangan waktu kepada IOC untuk menyelesaikan rancangan final venue pada 2026.
Infrastruktur dan Harapan Warisan Jangka Panjang
Meski penuh kontroversi, dampak positif mulai terlihat. Proyek Cross River Rail senilai USD 6,3 miliar sedang berjalan, termasuk jalur rel bawah tanah sepanjang 10,2 kilometer yang melintasi pusat kota.
Pendukung Olimpiade menilai infrastruktur ini akan menjadi warisan jangka panjang. Mereka mencontohkan kesuksesan Sydney 2000 yang mengubah Homebush Bay menjadi kawasan modern dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Brisbane sendiri diproyeksikan tumbuh menjadi kota berpenduduk empat juta jiwa dalam 15 tahun ke depan. Bagi sebagian pihak, Olimpiade adalah momentum untuk naik kelas sejajar dengan Melbourne dan Sydney.
Namun waktu akan membuktikan apakah Brisbane Olimpiade 2032 menjadi kisah sukses transformasi kota, atau justru contoh lain dari proyek olahraga global yang penuh polemik.
Editor : Axsha Zazhika