JAKARTA - Naturalisasi Timnas Indonesia kembali menjadi topik hangat sejak kedatangan pelatih anyar, John Hartman. Federasi disebut memberi keleluasaan penuh kepada sang pelatih untuk memilih pemain diaspora tanpa batasan kuota ketat. Kebijakan ini diyakini menjadi fondasi penting dalam proyek jangka panjang Timnas Indonesia mengejar ketertinggalan dari kekuatan Asia seperti Iran, Korea Selatan, dan Jepang.
Di era baru ini, naturalisasi Timnas Indonesia bukan sekadar solusi instan, melainkan strategi membangun fondasi kuat dengan pengalaman dan mentalitas Eropa. John Hartman disebut ingin mengombinasikan talenta lokal dengan pemain keturunan berkualitas demi memperkaya kedalaman skuad Garuda.
Beberapa nama pun mulai mencuat. Dari penjaga gawang hingga striker muda, daftar calon pemain naturalisasi Timnas Indonesia terbilang menarik dan berpotensi besar.
Kenny Van Oevelen, Kiper 199 Cm dari Belanda
Nama pertama adalah Kenny Van Oevelen. Kiper berusia 22 tahun itu saat ini menjadi penjaga gawang utama FC Volendam. Musim 2025-2026, ia mencatatkan 19 penampilan di kasta kedua Liga Belanda.
Dengan tinggi 199 cm, Kenny memiliki jangkauan luas dalam duel udara. Ia juga ambipedal, mampu menggunakan kaki kanan dan kiri sama baiknya, sehingga distribusi bola dari belakang menjadi lebih fleksibel. Darah Indonesia mengalir dari sang nenek yang lahir di Surabaya pada masa Hindia Belanda. Secara regulasi, peluang naturalisasinya terbuka.
Jenson Seelt dan Daijiro Chirino Perkuat Lini Belakang
Di sektor pertahanan, ada nama Jenson Seelt yang kini menjalani masa peminjaman di Bundesliga dari Sunderland. Bek tengah bertipikal Eropa ini dikenal kuat dalam duel satu lawan satu dan dominan di udara. Garis keturunan Indonesia berasal dari kakeknya yang lahir di Maluku.
Seelt bahkan dikabarkan sudah menjalin komunikasi dengan pihak terkait dan menunjukkan minat membela Indonesia.
Selain itu, ada Daijiro Chirino yang saat ini terdaftar sebagai pemain Almeria di Spanyol. Bek kanan kelahiran Zwolle ini memiliki darah Maluku dari sang ibu. Secara teknis, ia masih bisa membela Indonesia meski sempat dipanggil tim senior Curacao.
Laurin Ulrich dan Julian Oerip di Sektor Tengah
Untuk lini tengah, nama Laurin Ulrich mencuat sebagai gelandang serang potensial. Pemain Stuttgart II yang dipinjamkan ke FC Magdeburg itu memiliki visi bermain tajam serta kreativitas tinggi. Ia memiliki darah Indonesia dari kakeknya yang lahir di Surabaya.
Ulrich pernah tampil di Bundesliga dan dikenal sebagai gelandang modern dengan kemampuan distribusi bola yang matang.
Nama lain adalah Julian Oerip. Gelandang AZ Alkmaar U-21 ini berdarah Surabaya dari sang ayah. Ia fleksibel bermain sebagai gelandang serang, bertahan, hingga sayap. Dominan kaki kiri dan piawai dalam dribel progresif, Oerip dinilai cocok dengan filosofi permainan cepat Hartman.
Luke Fikri dan Robin Mirisola Jadi Prioritas
Di lini depan, naturalisasi Timnas Indonesia juga mengincar dua nama muda potensial. Pertama adalah Luke Fikri yang kini bermain di Australia. Meski lahir di Hawaii, ia memiliki garis keturunan Indonesia dari neneknya yang berasal dari Medan. Fikri sudah mencetak lima gol dan dua assist musim ini serta belum membela tim senior Australia.
Nama kedua adalah Robin Mirisola yang bermain untuk klub Belgia KRC Genk. Striker 19 tahun ini sudah menembus skuad utama dan tampil di kompetisi domestik serta Eropa. Postur 184 cm serta kemampuan finishing membuatnya dianggap sebagai prospek jangka panjang.
Mirisola memiliki darah Yogyakarta dari sang kakek dan belum memperkuat timnas senior Belgia, sehingga masih memenuhi regulasi FIFA untuk dinaturalisasi.
Proyek Jangka Panjang Hartman
Naturalisasi Timnas Indonesia di bawah John Hartman tampak dirancang sistematis. Sang pelatih tidak hanya mengejar nama besar, tetapi juga memperhatikan keseimbangan usia dan potensi berkembang.
Dengan kombinasi pemain diaspora dan talenta lokal, Timnas Indonesia diharapkan memiliki kedalaman skuad lebih kompetitif. Kini, publik menunggu langkah konkret federasi dalam mengamankan nama-nama tersebut sebelum dipinang negara lain.
Jika proses berjalan cepat, bukan tak mungkin era Hartman akan menjadi titik balik kebangkitan Garuda di level Asia.
Editor : Novica Satya Nadianti