JAKARTA - Isu naturalisasi Timnas Indonesia kembali menghangat jelang FIFA Series 2026. Mantan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, memberikan tanggapan positif terkait tren kembalinya sejumlah pemain naturalisasi ke kompetisi domestik Super League.
Menurut Shin Tae-yong, kepindahan para pemain diaspora ke klub-klub dalam negeri bukan persoalan besar selama profesionalisme tetap dijaga.
Naturalisasi Timnas Indonesia, kata dia, harus dilihat sebagai bagian dari proses peningkatan kualitas, bukan sekadar polemik identitas.
Fenomena ini melibatkan beberapa nama besar seperti Thom Haye, Jordi Amat, hingga Rafael Struick yang kini memperkuat klub papan atas seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, dan Dewa United.
Kehadiran mereka diharapkan mendongkrak daya saing liga nasional sekaligus mempermudah pemanggilan pemain untuk ajang internasional.
Dukungan untuk John Herdman
Shin juga menyatakan dukungan penuh terhadap penunjukan pelatih anyar Timnas Indonesia, John Herdman. Ia menilai pengalaman Herdman membawa Kanada tampil di Piala Dunia 2022 menjadi modal penting untuk membangun era baru skuad Garuda.
Selama lima tahun menangani Indonesia (2020–2025), Shin mencatat sejarah dengan menembus babak 16 besar Piala Asia 2023 dan melaju hingga putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Meski periode berikutnya tak berujung tiket Piala Dunia, Shin melihat fondasi sepak bola nasional kini jauh lebih kuat.
Ia menekankan pentingnya kesinambungan sistem dan struktur tim. Jika fokus pembangunan tetap terjaga, peluang Indonesia tampil di Piala Dunia 2030 atau 2034 dinilai bukan hal mustahil.
Modal Positif Jelang FIFA Series 2026
John Herdman akan menjalani debut resminya di FIFA Series 2026 akhir Maret di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Indonesia dijadwalkan menghadapi St Kitts and Nevis pada 27 Maret dalam format gugur.
Jika menang, Garuda akan melaju ke final menghadapi pemenang laga Bulgaria versus Kepulauan Solomon.
Optimisme Herdman bertambah berkat performa solid dua bek andalan, Jay Idzes dan Justin Hubner, di kompetisi Eropa. Idzes tampil impresif bersama Sassuolo di Serie A, sementara Hubner menunjukkan konsistensi di liga Belanda.
Stabilitas lini belakang menjadi fondasi penting bagi proyek naturalisasi Timnas Indonesia yang kini memasuki fase selektif.
Damian Van Dijk dan Proyek Naturalisasi Baru
Salah satu nama yang mencuat adalah Damian Gabriel Van Dijk, bek muda 21 tahun yang bermain di FC Den Bosch U-21. Pemain kelahiran Haarlem itu memiliki darah Indonesia dari ayahnya yang berasal dari Bogor, Jawa Barat.
Damian mengaku komunikasi dengan PSSI sudah terjalin sejak awal proses naturalisasi generasi sebelumnya. Meski belum ada kepastian resmi, ia menyatakan siap meningkatkan performa demi mewujudkan impian membela tanah leluhur.
Herdman sendiri menegaskan standar naturalisasi kini lebih ketat. Ia memprioritaskan pemain level satu dan dua yang berkompetisi di lima liga top Eropa. Pendekatan ini diharapkan memberi dampak instan sekaligus menjaga kualitas jangka panjang.
Pascal Struijk yang Gagal Didapat
Di tengah sukses program naturalisasi yang membawa Indonesia melaju jauh di Piala Asia 2023 dan kualifikasi Piala Dunia 2026, ada pula nama yang gagal direkrut, yakni Pascal Struijk. Bek Leeds United itu memilih memprioritaskan peluang membela Belanda.
Struijk, yang didatangkan dari Ajax pada 2018, kini menjadi pilar penting Leeds United dengan ratusan penampilan dan nilai pasar mencapai 17 juta pounds. Loyalitas dan konsistensinya menjadikannya salah satu bek paling stabil di klub tersebut.
Kegagalan mendapatkan Struijk menjadi pelajaran bahwa naturalisasi Timnas Indonesia tak selalu berjalan mulus.
Namun, dengan kriteria yang semakin selektif dan dukungan penuh dari figur seperti Shin Tae-yong, proyek ini diyakini tetap berada di jalur yang tepat.
Kini, publik menanti bagaimana Herdman meramu kombinasi pemain lokal dan diaspora di FIFA Series 2026. Apakah strategi naturalisasi Timnas Indonesia kembali membuahkan hasil? Jawabannya akan segera terlihat di lapangan.
Editor : Novica Satya Nadianti