JAKARTA - NOC Indonesia protes terhadap regulasi baru yang dinilai merugikan peluang Timnas Indonesia U23 tampil di Asian Games 2026. Kebijakan yang diterbitkan oleh otoritas sepak bola Asia itu memicu polemik, sekaligus membuka kembali harapan Garuda Muda untuk tetap ambil bagian di pesta olahraga terbesar se-Asia tersebut.
Isu NOC Indonesia protes mencuat setelah muncul aturan baru yang hanya mengizinkan negara peserta yang lolos Piala Asia U-23 untuk tampil di cabang sepak bola Asian Games 2026. Kebijakan ini dianggap sepihak dan tidak melalui proses kualifikasi terbuka seperti edisi sebelumnya.
Ketua NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari, menilai regulasi tersebut tidak lazim. Menurutnya, sepanjang sejarah Asian Games, cabang sepak bola selalu terbuka untuk seluruh negara peserta tanpa pembatasan ketat berbasis hasil turnamen tertentu.
Regulasi Baru Dinilai Tidak Adil
Perubahan aturan yang melibatkan Olympic Council of Asia (OCA) dan AFC ini disebut sebagai sistem grading tanpa proses kualifikasi mandiri. Dampaknya, Indonesia yang gagal lolos ke putaran final Piala Asia U-23 terancam tidak bisa berpartisipasi.
Raja Sapta Oktohari menegaskan bahwa kebijakan tersebut berpotensi menghilangkan semangat inklusivitas Asian Games. Ia menilai pembatasan kuota hanya untuk 16 negara tidak sejalan dengan semangat kompetisi terbuka yang selama ini menjadi roh turnamen multievent tersebut.
NOC Indonesia pun bergerak cepat. Protes resmi telah disampaikan kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga, sekaligus membuka komunikasi hingga ke level pimpinan OCA. Bahkan, sejumlah federasi lain dikabarkan memiliki pandangan serupa terkait pembatasan tersebut.
Langkah diplomasi ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia tidak tinggal diam. Perjuangan dilakukan di meja negosiasi demi memastikan Timnas Indonesia U23 tetap memiliki peluang tampil di Asian Games 2026.
Erick Thohir Jawab Tuduhan Media Malaysia
Di tengah dinamika tersebut, Ketua Umum PSSI Erick Thohir juga menjadi sorotan. Media Malaysia sempat menuding Erick Thohir sebagai pihak yang melaporkan federasi mereka ke FIFA terkait dugaan pelanggaran administrasi naturalisasi pemain.
Federasi Sepak Bola Malaysia sendiri tengah menghadapi sanksi berat dari FIFA akibat dugaan pemalsuan dokumen tujuh pemain asing. Namun, tudingan terhadap Erick Thohir langsung dibantah tegas.
Menanggapi tuduhan yang mencuat pada Februari 2026, Erick menyebut narasi tersebut tidak berdasar dan tidak masuk akal. Ia menegaskan tidak memiliki kepentingan untuk mengintervensi urusan internal federasi negara lain.
Menurutnya, energi sepak bola Asia Tenggara seharusnya difokuskan pada peningkatan kualitas kompetisi dan prestasi, bukan pada konflik administratif yang kontraproduktif. Sikap ini dinilai sebagai respons elegan di tengah panasnya isu regional.
Media Italia dan Belanda Soroti Pemain Indonesia
Di sisi lain, kabar positif datang dari pemain Indonesia yang berkarier di Eropa. Media Italia menyoroti penampilan solid Jay Idzes bersama Sassuolo saat menghadapi Hellas Verona.
Jay tampil disiplin dan tanpa kesalahan berarti, membantu timnya meraih clean sheet dan kemenangan penting. Beberapa media Italia bahkan memberikan pujian atas kepemimpinannya di lini belakang.
Sementara di Belanda, duel bertajuk “derby Indonesia” mempertemukan Justin Hubner bersama Fortuna Sittard melawan tim yang diperkuat Miliano Jonathans.
Hubner tampil penuh selama 90 menit dan mencatatkan statistik impresif dengan lima tekel sukses serta dua intersep. Fortuna Sittard pun mengamankan kemenangan yang mendongkrak posisi mereka di klasemen sementara liga Belanda.
Konsistensi para pemain diaspora ini mempertegas bahwa kualitas sepak bola Indonesia semakin kompetitif di level internasional. Hal tersebut juga menjadi modal penting bagi Timnas Indonesia U23 jika nantinya benar-benar mendapat lampu hijau tampil di Asian Games 2026.
Kini, perhatian publik tertuju pada keputusan akhir OCA. Apakah protes Indonesia membuahkan hasil? Ataukah regulasi baru tetap diberlakukan? Yang jelas, NOC Indonesia protes menjadi momentum penting dalam memperjuangkan hak Garuda Muda di panggung Asia.
Editor : Novica Satya Nadianti