BLITAR KAWENTAR - Ricuh Persib Bandung vs Ratchaburi FC mewarnai akhir laga leg kedua AFC Champions League 2 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Rabu malam. Kekecewaan terhadap kepemimpinan wasit asal Arab Saudi, Majed Muhammad Alamrani, memicu sekelompok suporter turun ke lapangan dan mengejar perangkat pertandingan hingga ke lorong stadion.
Ricuh Persib Bandung vs Ratchaburi FC ini terjadi sesaat setelah peluit panjang dibunyikan. Meski Maung Bandung menang 1-0 atas wakil Thailand tersebut, hasil itu tak cukup membawa Persib lolos ke babak delapan besar AFC Champions League 2 karena kalah agregat 1-3 setelah sebelumnya takluk 0-3 pada leg pertama.
Situasi semakin memanas ketika sejumlah oknum suporter melemparkan kembang api dan petasan ke arah lapangan. Aksi tersebut diduga dipicu ketidakpuasan terhadap beberapa keputusan wasit Majed Muhammad Alamrani yang dianggap merugikan Persib Bandung sepanjang pertandingan.
Suporter Turun ke Lapangan
Kericuhan bermula dari tribun selatan. Beberapa suporter terlihat melompati pembatas dan berlari menuju tengah lapangan. Target mereka adalah wasit yang memimpin laga panas tersebut.
Wasit kemudian bergegas menuju lorong stadion untuk menghindari amukan massa. Namun sejumlah suporter terus mengejar hingga mendekati area masuk ruang ganti. Situasi ini membuat aparat keamanan dan petugas stadion bergerak cepat menghalau massa.
Beberapa pemain Persib Bandung juga tampak turun tangan menenangkan suporter. Pelatih Bojan Hodak bahkan terlihat berusaha menghalangi dan meminta massa kembali ke tribun. Upaya tersebut sempat meredakan situasi, meski ketegangan tetap terasa di sekitar lorong stadion.
Pemicunya: Kepemimpinan Wasit Disorot
Sepanjang laga, keputusan wasit Majed Muhammad Alamrani memang menjadi sorotan. Sejumlah momen krusial memancing protes dari pemain maupun suporter. Beberapa pelanggaran yang dianggap keras luput dari kartu, sementara insiden yang melibatkan pemain Persib dinilai cepat mendapat peringatan.
Atmosfer pertandingan memang sudah panas sejak menit awal. Persib Bandung tampil agresif demi mengejar defisit tiga gol dari leg pertama. Tekanan tinggi dan intensitas permainan membuat setiap keputusan wasit menjadi sangat sensitif.
Kekecewaan memuncak saat laga berakhir. Meski menang 1-0 lewat permainan dominan, hasil itu tak cukup membalikkan keadaan. Harapan lolos ke babak 8 besar AFC Champions League 2 pupus di kandang sendiri.
Baca Juga: Sergio Castel Resmi ke Persib Bandung? Ini Profil Lengkap Striker Spanyol dengan 217 Laga dan 62 Gol
Aparat Amankan Situasi
Petugas keamanan langsung membentuk barikade di sekitar lorong stadion. Sejumlah suporter yang mencoba mendekat dipukul mundur. Aparat juga mengamankan area lapangan untuk memastikan perangkat pertandingan dapat keluar dengan aman.
Beruntung, kericuhan tidak berlangsung lama. Setelah beberapa menit, situasi mulai terkendali dan suporter perlahan kembali ke tribun. Tidak ada laporan resmi terkait korban luka serius dalam insiden tersebut, namun suasana tegang sempat menyelimuti GBLA.
Pihak panitia pelaksana pertandingan diperkirakan akan melakukan evaluasi menyeluruh. Insiden ini berpotensi mendapat perhatian dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), mengingat laga tersebut merupakan bagian dari kompetisi resmi AFC Champions League 2.
Persib tersingkir kepala tegak
Di luar kericuhan, Persib Bandung sebenarnya menunjukkan perlawanan sengit. Gol tunggal di leg kedua menjadi bukti semangat juang Maung Bandung di hadapan puluhan ribu Bobotoh.
Namun agregat 1-3 membuat langkah Persib terhenti di babak 16 besar. Kekalahan 0-3 pada pertemuan pertama di Thailand menjadi beban berat yang sulit dikejar.
Pelatih Bojan Hodak sebelumnya menegaskan timnya akan berjuang hingga menit akhir. Hasil 1-0 menunjukkan determinasi tersebut, meski pada akhirnya belum cukup untuk membawa Persib melangkah lebih jauh di pentas Asia.
Kericuh Persib Bandung vs Ratchaburi FC menjadi catatan penting bagi semua pihak. Emosi dalam sepak bola memang tak terhindarkan, namun keselamatan dan sportivitas tetap harus dijaga.
Kini, fokus Persib Bandung akan kembali ke kompetisi domestik. Evaluasi menyeluruh, baik dari sisi teknis maupun manajemen pertandingan, menjadi pekerjaan rumah agar insiden serupa tak terulang di masa depan.
Editor : Edo Trianto