JAKARTA - Hasil imbang Persik Kediri vs PSIM Yogyakarta kembali menorehkan cerita pahit bagi Macan Putih. Bermain di Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik, Jumat 13 Februari 2026, Persik harus puas berbagi angka setelah laga berakhir 2-2. Hasil ini memperpanjang catatan minor Persik saat terusir dari kandang aslinya.
Hasil imbang Persik Kediri vs PSIM Yogyakarta tersebut sekaligus menjadi alarm keras bagi tim asuhan Marcos Reina. Bermain sebagai “musafir” ternyata belum membawa keberuntungan bagi Ezra Walian dan kawan-kawan. Dukungan suporter pun mulai berubah menjadi desakan agar Persik tak lagi menggunakan stadion di Gresik jika kembali harus pindah kandang.
Hasil imbang Persik Kediri vs PSIM Yogyakarta ini menjadi yang ketiga tanpa kemenangan selama berlaga di Stadion Gelora Joko Samudro. Sebelumnya, pada dua laga Derbi Jatim putaran pertama, Persik dipermalukan Madura United dengan skor 1-2 dan ditahan Persebaya Surabaya 1-1.
Catatan Minor di Stadion Gelora Joko Samudro
Bermain di Stadion Gelora Joko Samudro rupanya belum memberi tuah bagi Persik. Alih-alih memanfaatkan status tuan rumah, Macan Putih justru kesulitan mengamankan tiga poin.
Laga kontra PSIM Yogyakarta sejatinya berjalan cukup baik bagi Persik. Mereka tampil agresif dan menciptakan sejumlah peluang emas. Namun efektivitas penyelesaian akhir kembali menjadi pekerjaan rumah besar.
Pelatih Persik, Marcos Reina, menegaskan anak asuhnya sudah tampil maksimal. Menurutnya, secara permainan Persik layak memenangkan pertandingan. “Kami sudah main bagus dan punya banyak peluang bisa cetak gol. Seharusnya kami layak menang hari ini,” ujarnya.
Perubahan Signifikan, Hasil Belum Maksimal
Di bawah arahan Marcos Reina, Persik memang menunjukkan perubahan positif. Rekrutmen pemain baru membuat permainan lebih rancak dan agresif. Kombinasi lini depan yang diisi pemain seperti Ezra Walian menghadirkan dinamika serangan yang lebih variatif.
Namun sepak bola tak melulu soal dominasi dan peluang. Faktor keberuntungan dan konsentrasi di menit-menit krusial juga berperan besar. Meski unggul dalam beberapa fase pertandingan, Persik gagal mengunci kemenangan.
Keputusan Marcos Reina yang minim melakukan pergantian pemain juga menjadi sorotan publik. Banyak suporter menilai pergantian di akhir laga terlalu terlambat untuk memberi dampak signifikan.
Menanggapi kritik tersebut, pelatih asal Spanyol itu punya alasan tersendiri. Ia merasa komposisi pemain di lapangan masih mampu mencetak gol tambahan. “Saya memang tidak mengganti pemain karena saya lihat pemain yang ada di lapangan punya peluang cetak gol ketiga, tapi tak bisa dimaksimalkan,” jelasnya.
Ia menambahkan, setiap pergantian harus benar-benar memberi kontribusi konkret. “Ketika ada pergantian, saya harus memastikan pemain yang masuk bisa cetak gol. Namun itu juga tak terjadi,” sambungnya.
Desakan Pindah ke Sidoarjo atau Lamongan
Rentetan hasil kurang memuaskan membuat suporter Persik mulai angkat suara. Mereka meminta manajemen mempertimbangkan opsi stadion lain jika kembali harus menjadi tim musafir.
Beberapa nama stadion di Sidoarjo dan Lamongan mulai disebut sebagai alternatif. Harapannya, suasana baru bisa membawa energi positif dan mengembalikan mental bertanding tim.
Tekanan terhadap manajemen dan tim pelatih kini semakin besar. Persik tak hanya dituntut tampil atraktif, tetapi juga wajib mengamankan poin penuh demi menjaga posisi di klasemen.
Hasil imbang 2-2 kontra PSIM jelas bukan target yang diharapkan. Apalagi laga kandang, meski digelar di luar Kediri, tetap menjadi momen krusial untuk mengumpulkan angka maksimal.
Marcos Reina mencoba tetap optimistis. Ia menegaskan tim harus segera berbenah dan menjaga kepercayaan diri. Evaluasi akan dilakukan, terutama dalam penyelesaian akhir dan pengambilan keputusan di momen penting.
Bagi Persik Kediri, perjalanan sebagai tim musafir belum menunjukkan hasil manis. Jika tak segera bangkit, tekanan suporter bisa kian besar. Pertanyaannya kini, apakah manajemen akan tetap bertahan di Gresik atau mencari kandang alternatif demi memutus tren negatif?
Editor : Anggi Septian A.P.