JAKARTA - Kontroversi wasit Hadi Nur Cahya dalam laga Persik Kediri vs Bhayangkara FC pada pekan ke-22 kembali menjadi sorotan publik sepak bola nasional. Keputusan yang diambil dalam pertandingan tersebut memicu perdebatan panas, terutama terkait insiden pelanggaran yang melibatkan pemain Bhayangkara FC, Wahyu Subo Seto.
Dalam pertandingan Persik Kediri vs Bhayangkara FC itu, salah satu momen krusial terjadi ketika Wahyu Subo Seto melakukan tekel berisiko saat mencoba merebut bola dari pemain Persik. Aksi tersebut dinilai ceroboh dan berpotensi membahayakan lawan. Namun, wasit Hadi Nur Cahya tidak mengeluarkan kartu kuning kedua, padahal sebelumnya pemain yang sama sudah menerima kartu kuning.
Keputusan tersebut langsung memicu polemik. Banyak pihak mempertanyakan konsistensi wasit dalam menerapkan Laws of the Game. Dalam tayangan ulang, tekel Wahyu terlihat dilakukan dengan kecepatan tinggi dan kehilangan keseimbangan. Meski titik kontak memperlihatkan kaki bertemu kaki, cara masuknya dinilai sebagai reckless challenge yang lazimnya berbuah kartu kuning.
Konsistensi Wasit Dipertanyakan
Pada insiden pertama, wasit Hadi Nur Cahya dinilai tepat saat memberikan kartu kuning kepada Wahyu Subo Seto. Namun pada pelanggaran kedua yang memiliki karakter serupa—ceroboh dan berisiko—wasit justru tidak memberikan kartu apa pun.
Di sinilah konsistensi menjadi sorotan utama. Dalam pertandingan seketat Persik Kediri vs Bhayangkara FC, keputusan kecil dapat berdampak besar terhadap jalannya laga. Jika kartu kuning kedua diberikan, Wahyu otomatis harus meninggalkan lapangan dan Bhayangkara FC bermain dengan 10 pemain.
Banyak pengamat menilai, secara interpretasi regulasi, tekel tersebut memenuhi unsur kelalaian serius. Tantangan dengan intensitas tinggi tanpa kontrol penuh umumnya masuk kategori reckless. Namun keputusan akhir tetap berada di tangan pengadil lapangan.
Mengapa VAR Tak Bisa Intervensi?
Salah satu hal yang juga disorot publik adalah peran Video Assistant Referee (VAR). Dalam kasus ini, VAR tidak bisa melakukan intervensi untuk memberikan kartu kuning kedua.
Sesuai regulasi, VAR hanya dapat turun tangan dalam empat situasi: gol, penalti, kartu merah langsung, dan kesalahan identitas pemain. Pemberian kartu kuning kedua tidak termasuk dalam ruang lingkup intervensi VAR.
Artinya, meskipun tayangan ulang menunjukkan potensi pelanggaran serius, wasit tidak dapat dipanggil untuk meninjau ulang melalui monitor pinggir lapangan. Keputusan tetap sepenuhnya berada di tangan wasit utama.
Inilah yang membuat kontroversi sulit dihindari. Seandainya regulasi mengizinkan evaluasi untuk kartu kuning kedua, kemungkinan besar situasinya bisa berbeda.
Fokus ke Laga Persis Solo
Terlepas dari polemik wasit, Persik Kediri kini harus segera mengalihkan fokus. Skuad Macan Putih dijadwalkan menghadapi Persis Solo pada pekan ke-33 Liga 1.
Pertandingan tersebut akan digelar pada 1 Maret 2026 pukul 20.30 WIB di Stadion Manahan. Laga tandang ini diprediksi tidak mudah, mengingat Persis tampil solid di kandang.
Pelatih Persik, Marcos Reina, mengaku khawatir dengan kondisi lini pertahanan timnya. Dalam beberapa laga terakhir, Macan Putih terlalu mudah kebobolan. Teranyar, mereka harus mengakui keunggulan Bhayangkara FC dengan skor telak empat gol saat bermain di Stadion Brawijaya.
Komposisi lini belakang Persik pun belum menemukan pakem pasti. Nama-nama seperti M. Virly, Hamra Hehanusa, Kiko, dan Chechu Menese kerap dipasang bergantian. Rotasi ini menunjukkan belum solidnya duet bek tengah utama.
Produktif di Depan, Rapuh di Belakang
Meski rapuh di lini belakang, Persik justru tampil tajam dalam menyerang. Dalam lima laga terakhir putaran kedua, mereka mampu mencetak 10 gol. Catatan ini menunjukkan potensi besar di sektor ofensif.
Kehadiran John Toral dan Adrian Luna memberikan warna baru dalam kreativitas serangan. Umpan-umpan terukur dan visi bermain keduanya membuat alur serangan lebih variatif. Ditambah dengan ketajaman Ernesto Gomez, Ezra Walian, dan Enrique, Persik memiliki daya gedor yang patut diperhitungkan.
Namun sepak bola bukan hanya soal mencetak gol. Tanpa perbaikan signifikan di lini pertahanan, Persik berisiko kembali kehilangan poin. Apalagi menghadapi tim sekelas Persis Solo yang dikenal agresif saat bermain di Manahan.
Kontroversi wasit dalam laga Persik Kediri vs Bhayangkara FC memang menyisakan tanda tanya besar. Tetapi bagi Persik, pekerjaan rumah sesungguhnya adalah menemukan keseimbangan antara lini depan yang produktif dan lini belakang yang kokoh. Jika tidak, ambisi meraih hasil positif di Solo bisa kembali terganggu.
Editor : Anggi Septian A.P.