JAKARTA – Peta kekuatan klub Jawa Timur di Super League 2025-2026 mengalami perubahan drastis. Dari sejumlah wakil yang tampil di kasta tertinggi sepak bola nasional musim ini, hanya Persebaya Surabaya yang masih mampu menjaga stabilitas performa.
Situasi ini cukup mengejutkan karena Jawa Timur dikenal sebagai salah satu provinsi dengan basis sepak bola kuat di Indonesia. Namun hingga memasuki pekan ke-25 Super League 2025-2026, sebagian besar klub asal Jawa Timur justru kesulitan bersaing di papan klasemen.
Di tengah kondisi tersebut, Persebaya Surabaya menjadi satu-satunya klub yang masih mampu bertahan di papan tengah kompetisi. Tim berjuluk Bajul Ijo itu mengoleksi 39 poin dari 25 pertandingan dan menempati posisi ketujuh klasemen sementara.
Meski belum cukup untuk bersaing dalam perebutan gelar juara, capaian tersebut setidaknya membuat Persebaya tetap aman dari ancaman zona degradasi.
Persebaya Jaga Stabilitas
Sepanjang musim Super League 2025-2026, Persebaya menunjukkan performa yang relatif stabil dibandingkan klub Jawa Timur lainnya. Meski belum konsisten meraih kemenangan, Bajul Ijo mampu menjaga jarak dari papan bawah.
Salah satu faktor yang menghambat laju Persebaya ke papan atas adalah banyaknya hasil imbang. Hingga pekan ke-25, mereka tercatat sudah meraih sembilan hasil seri.
Jika sebagian hasil imbang tersebut mampu diubah menjadi kemenangan, peluang Persebaya untuk menembus lima besar klasemen masih terbuka.
Arema FC Masih Inkonsisten
Berbeda dengan Persebaya, performa Arema FC sepanjang musim justru cenderung fluktuatif. Tim berjuluk Singo Edan itu saat ini berada di posisi ke-11 klasemen dengan koleksi 31 poin dari 25 pertandingan.
Dari sisi statistik, Arema sebenarnya cukup produktif di lini depan dengan mencetak 36 gol. Namun jumlah kebobolan mereka juga sama, yakni 36 gol.
Selisih gol nol tersebut menggambarkan inkonsistensi permainan Arema. Lini serang mampu mencetak gol, tetapi sektor pertahanan kerap menjadi titik lemah yang dimanfaatkan lawan.
Kondisi ini membuat Arema kesulitan untuk menembus papan atas klasemen.
Persik Kediri Bermasalah di Pertahanan
Situasi lebih sulit dialami Persik Kediri. Tim berjuluk Macan Putih tersebut kini berada di posisi ke-12 klasemen dengan 29 poin dari 25 pertandingan.
Masalah terbesar Persik berada di lini pertahanan. Sepanjang musim ini mereka sudah kebobolan hingga 45 gol, salah satu catatan terburuk di kompetisi.
Selain itu, Persik juga sempat menjalani musim sebagai tim musafir. Stadion Brawijaya yang belum sepenuhnya memenuhi standar membuat mereka beberapa kali harus berpindah kandang.
Kondisi tersebut turut mempengaruhi stabilitas permainan tim sepanjang musim.
Madura United Terancam Degradasi
Kondisi paling mengkhawatirkan dialami Madura United. Tim berjuluk Laskar Sape Kerrab itu kini berada di posisi ke-16 klasemen dengan 20 poin dari 25 pertandingan.
Posisi tersebut menempatkan mereka tepat di batas awal zona degradasi.
Masalah utama Madura United berada pada produktivitas gol yang rendah. Dari 25 laga, mereka hanya mampu mencetak 24 gol.
Di sisi lain, pertahanan mereka juga belum solid dengan kebobolan 42 gol. Kombinasi lini depan yang tumpul dan pertahanan rapuh membuat tim kesulitan meraih kemenangan.
Baca Juga: Francesco Bagnaia Isyaratkan Sudah Ambil Keputusan MotoGP 2027, Rumor Gabung Aprilia Menguat
Jika tidak segera menemukan konsistensi permainan, Madura United berpotensi benar-benar terdegradasi pada akhir musim Super League 2025-2026.
Green North 27 Soroti Penutupan Tribun Utara GBT
Di tengah situasi kompetisi tersebut, polemik lain juga muncul di tubuh Persebaya Surabaya. Manajemen klub memutuskan menutup tribun utara Stadion Gelora Bung Tomo hingga akhir musim 2025-2026.
Keputusan ini langsung mendapat tanggapan dari kelompok suporter Green North 27, yang selama ini menempati tribun utara stadion.
Melalui pernyataan resmi yang dirilis pada Kamis, 12 Maret 2026, Green North 27 menyatakan menerima keputusan tersebut. Namun mereka menyampaikan sejumlah catatan kepada manajemen klub.
Kelompok suporter tersebut menilai keputusan penutupan tribun dilakukan tanpa komunikasi terlebih dahulu dengan pihak suporter.
Padahal tribun utara selama ini dikenal sebagai pusat dukungan paling vokal bagi Persebaya ketika bermain di kandang.
Dampak Insiden dan Potensi Kerugian Klub
Penutupan tribun utara berkaitan dengan sanksi dari Komite Disiplin PSSI setelah insiden penyalaan petasan dan kembang api saat laga Persebaya melawan Persib Bandung pada 2 Maret 2026.
Dalam putusannya, Komdis PSSI menjatuhkan hukuman penutupan tribun untuk satu pertandingan kandang serta denda sebesar Rp250 juta.
Namun manajemen Persebaya memutuskan menutup tribun utara hingga akhir musim.
Selain berdampak pada atmosfer pertandingan, kebijakan tersebut juga berpotensi mempengaruhi pendapatan klub.
Tribun utara Stadion Gelora Bung Tomo memiliki kapasitas sekitar 8.000 tempat duduk. Dengan jumlah kursi sebesar itu, potensi pemasukan dari penjualan tiket tentu ikut berkurang.
Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Persebaya Surabaya yang kini menjadi satu-satunya harapan klub Jawa Timur di Super League 2025-2026.
Editor : Dyah Wulandari