JAKARTA – Peluncuran jersey Timnas Indonesia 2026 beberapa waktu lalu memicu beragam reaksi dari publik. Selain desain yang menjadi perbincangan, harga jersey yang mencapai Rp1,5 juta untuk versi player issue juga menuai kritik dari sejumlah pengamat dan netizen.
Dalam berbagai diskusi di media sosial dan komunitas sepak bola, banyak yang mempertanyakan apakah harga tersebut sebanding dengan brand yang memproduksi jersey Timnas Indonesia saat ini, yakni Kelme.
Seorang pengamat sepak bola yang aktif di media sosial menilai desain jersey Timnas Indonesia 2026 sebenarnya tidak buruk. Namun, ia menilai harga yang dipatok terlalu tinggi jika dibandingkan dengan kondisi ekonomi masyarakat Indonesia.
“Kalau dari tampilan pertama di Instagram, sebenarnya tidak jelek. Bahkan menurut saya cukup menarik. Hanya saja memang aksen putihnya terlihat lebih banyak dibanding jersey timnas sebelumnya,” ujarnya dalam sebuah ulasan video.
Menurutnya, selama ini jersey Timnas Indonesia identik dengan dominasi warna merah yang kuat dengan sedikit aksen putih. Desain terbaru dinilai sedikit berbeda karena memiliki garis putih yang lebih menonjol.
Desain Dinilai Mirip Jersey Badminton
Selain soal harga, sebagian netizen juga menyoroti desain jersey yang dinilai sekilas menyerupai jersey olahraga lain, terutama badminton.
Komentar tersebut muncul setelah beberapa pengguna media sosial membandingkan desain jersey terbaru dengan seragam yang biasa digunakan atlet bulu tangkis.
Meski begitu, kritik tersebut tidak sepenuhnya bernada negatif. Beberapa pengamat menyebut desainnya tetap menarik dan masih layak digunakan sebagai jersey timnas.
“Bukan berarti jelek. Tapi ada yang bilang terlihat seperti jersey badminton. Itu soal selera saja, ada yang suka dan ada yang tidak,” katanya.
Harga Jersey Jadi Sorotan Utama
Perdebatan terbesar justru muncul terkait harga jersey Timnas Indonesia 2026 yang mencapai Rp1,5 juta untuk versi player issue. Sementara versi replika dijual sekitar Rp800 ribu.
Menurut pengamat tersebut, harga tersebut sulit diterima jika dibandingkan dengan tingkat pendapatan masyarakat Indonesia.
Ia mencontohkan, Upah Minimum Regional (UMR) di Jakarta berada di kisaran hampir Rp6 juta per bulan. Dengan demikian, membeli satu jersey seharga Rp1,5 juta berarti sekitar 25 persen dari pendapatan bulanan.
Di beberapa daerah lain bahkan lebih tinggi. Misalnya di kota dengan UMR sekitar Rp2,5 juta hingga Rp2,6 juta, harga jersey tersebut bisa mencapai lebih dari 50 persen gaji bulanan.
“Tidak masuk akal kalau satu jersey harganya bisa setengah dari gaji bulanan di beberapa daerah,” ujarnya.
Perbandingan dengan Brand Global
Ia juga membandingkan harga tersebut dengan jersey tim nasional yang diproduksi brand global seperti Adidas atau Nike.
Sebagai contoh, jersey tim nasional Jerman atau Argentina produksi Adidas dijual sekitar Rp2 juta untuk versi player issue. Namun harga tersebut dianggap wajar karena brand tersebut memiliki reputasi global yang kuat.
Brand seperti Adidas, Nike, dan Puma dikenal sebagai produsen apparel olahraga kelas dunia yang memiliki pasar global sangat luas.
Sementara itu, Kelme dinilai berada di tingkat brand internasional yang lebih kecil jika dibandingkan dengan raksasa apparel olahraga tersebut.
“Kalau Adidas menjual jersey Rp2 juta masih bisa dipahami karena brand mereka global dan dipakai banyak tim besar,” katanya.
Faktor Produksi dan Distribusi
Kritik lain juga menyentuh soal lokasi produksi. Kelme diketahui memproduksi sebagian besar produknya di China.
Menurut pengamat tersebut, biaya produksi di China umumnya lebih murah karena biaya tenaga kerja yang lebih rendah dibandingkan banyak negara lain.
Dengan produksi dalam jumlah besar dan distribusi massal, ia menilai seharusnya harga produk bisa ditekan agar lebih terjangkau.
Namun ia menegaskan bahwa kritik tersebut bukan berarti menolak produk luar negeri.
“Bukan masalah dibuat di China atau bukan. Tapi kalau biaya produksinya lebih murah, seharusnya harga jualnya juga lebih masuk akal,” ujarnya.
Harapan Harga Bisa Diturunkan
Sebagian penggemar berharap harga jersey Timnas Indonesia 2026 bisa diturunkan agar lebih banyak masyarakat yang mampu membeli versi resmi.
Menurut mereka, jika harga lebih terjangkau, potensi pembelian jersey palsu juga bisa berkurang.
Harga yang lebih ramah di kantong diyakini akan membuat lebih banyak suporter memilih membeli produk resmi.
“Kalau harganya di bawah Rp1 juta, peluang orang membeli jersey asli akan jauh lebih besar,” katanya.
Karena itu, beberapa penggemar berharap pihak produsen maupun federasi dapat mempertimbangkan kembali harga jersey tersebut di masa mendatang.
Editor : Novica Satya Nadianti