BLITAR KAWENTAR – Veda Ega Pratama mencetak sejarah membanggakan setelah berhasil meraih podium ketiga dalam ajang Moto3 Brazil 2026. Tampil di Sirkuit Ayrton Senna, pembalap muda asal Gunungkidul itu sukses mengibarkan bendera Merah Putih di panggung internasional.
Keberhasilan Veda Ega Pratama podium Moto3 Brazil menjadi sorotan publik, terutama karena ia memulai balapan restart dari posisi ke-10. Dalam kondisi tekanan tinggi dan persaingan ketat, ia mampu menembus posisi tiga besar dalam balapan yang hanya berlangsung lima lap setelah red flag.
Veda Ega Pratama podium Moto3 Brazil bukan sekadar hasil, melainkan bukti kualitas dan mentalitas pembalap muda Indonesia di level dunia. Performa impresifnya bahkan mendapat perhatian luas dari komentator internasional.
Balapan Dramatis: Red Flag Ubah Segalanya
Balapan Moto3 Brazil awalnya direncanakan berlangsung hingga 24 lap. Namun, insiden yang melibatkan salah satu pembalap memaksa race dihentikan sementara atau red flag. Regulasi kemudian mengharuskan restart balapan dengan durasi lebih singkat, yakni lima lap.
Sebelum red flag terjadi, Veda sebenarnya mengalami penurunan posisi. Ia sempat tercecer hingga posisi ke-10 akibat persaingan ketat di grup kedua. Padahal, saat start awal, ia berada di posisi keempat.
Restart balapan menjadi titik balik penting. Dengan posisi start dari baris keempat, tantangan Feda semakin besar. Namun, momentum ini justru dimanfaatkan dengan maksimal oleh pembalap muda tersebut.
Strategi Ban dan Performa Motor Jadi Penentu
Salah satu faktor kunci di balik performa Veda adalah strategi penggunaan ban. Setelah restart, sebagian besar pembalap, termasuk Veda, diduga menggunakan ban soft dari Pirelli untuk mendapatkan grip maksimal dalam balapan singkat.
Sebelumnya, Veda sempat mengeluhkan masalah grip ban belakang yang mengganggu performanya. Namun, perubahan strategi saat restart membuat motornya tampil lebih kompetitif.
Motor Honda NSF250RW yang digunakan juga menunjukkan performa menjanjikan. Meski persaingan di kelas Moto3 sangat ketat, motor tersebut masih mampu bersaing dengan pabrikan lain.
Manuver Agresif, Naik Posisi Secara Konsisten
Selepas restart, Veda langsung menunjukkan agresivitas. Di tikungan pertama, ia berhasil memperbaiki posisi dari 10 ke posisi 8. Teknik late braking yang presisi menjadi senjata utamanya.
Memasuki lap kedua, ia kembali merangsek naik ke posisi enam, lalu lima. Aksi overtake demi overtake dilakukan dengan bersih dan efektif, termasuk saat menyalip beberapa pembalap seperti Rico Salmela dan Alvaro Carpe.
Puncaknya terjadi saat ia berhasil mengamankan posisi ketiga. Manuvernya yang berani membuat lawan tampak terkejut, sekaligus menegaskan kapasitasnya sebagai rising star dari Asia.
Persaingan Ketat dan Dominasi Pembalap Spanyol
Balapan Moto3 Brazil juga diwarnai dominasi pembalap Spanyol. Maximo Quiles tampil sebagai pemenang setelah memimpin jalannya balapan.
Sementara itu, David Almansa sempat menunjukkan performa impresif sebelum akhirnya terjatuh. Insiden tersebut turut memengaruhi dinamika balapan sebelum red flag.
Di belakang mereka, grup kedua yang diisi banyak pembalap, termasuk Veda, bertarung ketat dengan selisih waktu sangat tipis, hanya sekitar 0,2 hingga 0,3 detik.
Harapan Baru Balap Indonesia
Keberhasilan Veda Ega Pratama podium Moto3 Brazil menjadi momen bersejarah bagi Indonesia. Setelah penantian panjang, akhirnya pembalap Tanah Air mampu naik podium di ajang balap dunia.
Prestasi ini tidak hanya membanggakan, tetapi juga membuka harapan baru bagi masa depan balap Indonesia. Veda dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang lebih jauh di level internasional.
Dukungan publik Indonesia pun mengalir deras. Banyak yang berharap Veda bisa terus konsisten dan meraih hasil lebih baik di seri-seri berikutnya.
Dengan usia yang masih muda dan performa yang terus meningkat, Veda Ega Pratama berpeluang menjadi ikon baru balap motor Indonesia di kancah global.
Editor : Edo Trianto