BLITAR KAWENTAR - Fenomena quarter life crisis (QLC) menjadi tren di kalangan anak muda, khususnya Gen Z, belakangan ini.
Keberadaan media sosial (medsos) hingga pamer kesuksesan di usia muda memengaruhi pikiran anak muda.
Menurut dosen manajemen sumber daya manusia UNISBA Blitar, Bambang Septiawan, ini merupakan hal yang wajar dialami anak muda, terutama setelah lulus SMA atau kuliah.
Pada fase ini, mereka cenderung mencari jati diri dan arah hidup yang sering diwarnai kegagalan serta proses trial and error.
“Ya, di usia 18 sampai 20-an, anak muda memang berada pada fase mencari makna hidup dan jati diri,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Blitar.
Dia menilai faktor pemicu utama berasal dari tekanan sosial, ekspektasi diri, hingga pengaruh medsos yang kerap membentuk standar hidup tidak realistis.
Baca Juga: Tips Influencer Cegah Dampak Buruk Fenomena Flexing Kesuksesan di Medsos di Usia Muda
”Makanya tak sedikit anak muda terlalu berekspektasi tinggi karena melihat media sosial, padahal belum tentu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki,” jelasnya.
Meski begitu, dia menekankan pentingnya lingkungan positif sebagai penopang agar anak muda mampu melewati fase tersebut.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Mobil Keluarga Bekas Terbaik untuk Mudik: Avanza hingga Innova Diesel Paling Diburu!
Lingkungan yang positif dan sehat akan membentuk pemikiran dan perilaku yang positif pula.
”Lingkungan yang mendukung sangat penting agar mereka tetap kuat dan bisa berkembang,” pungkasnya.(bud/c1/sub)
Editor : Muhammad Adib Falih Rifly