BLITAR - Persib Bandung kembali menjadi sorotan setelah tampil dominan di BRI Super League 2026. Nama Persib Bandung bahkan dikaitkan dengan pujian legenda sepak bola dunia hingga tudingan kontroversial dari rival, yang membuat publik bertanya-tanya tentang fakta sebenarnya.
Dalam beberapa waktu terakhir, beredar narasi yang menyebut Persib Bandung mendapat pujian dari legenda Prancis Zinedine Zidane usai laga melawan Bali United. Selain itu, mantan pelatih Persija Jakarta Thomas Doll disebut mengaku iri, sementara eks striker Marco Simic melontarkan kritik pedas soal dugaan bantuan wasit.
Namun, setelah ditelusuri lebih jauh, informasi tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar.
Klarifikasi Pujian Zidane
Isu yang menyebut Zinedine Zidane memuji Persib Bandung bermula dari konten video yang beredar di YouTube. Dalam narasi tersebut, Zidane diklaim menyaksikan langsung pertandingan Persib melawan Bali United dan memberikan apresiasi terhadap permainan Maung Bandung.
Disebutkan, Persib tampil disiplin, kreatif, serta memiliki kecerdasan taktik tinggi di bawah asuhan Bojan Hodak. Bahkan, beberapa pemain seperti Beckham Putra dan Teja Paku Alam disebut mendapat sorotan khusus.
Namun, setelah dilakukan penelusuran, klaim tersebut tidak memiliki sumber resmi yang valid. Tidak ditemukan pernyataan langsung dari Zidane di media kredibel maupun kanal resmi yang bisa dipertanggungjawabkan.
Thomas Doll dan Rasa Iri yang Dipertanyakan
Narasi lain yang berkembang adalah pengakuan Thomas Doll yang disebut iri terhadap performa Persib Bandung. Dalam video tersebut, Doll digambarkan memuji sistem permainan, disiplin tim, hingga kualitas kombinasi pemain asing dan lokal.
Ia juga disebut mengakui bahwa strategi Bojan Hodak menjadi pembeda utama dalam kesuksesan Persib musim ini.
Meski terdengar masuk akal, pernyataan tersebut juga tidak ditemukan dalam wawancara resmi atau sumber terpercaya. Besar kemungkinan, pernyataan itu merupakan bagian dari konten yang direkayasa untuk menarik perhatian penonton.
Tuduhan Marco Simic soal Wasit
Yang paling kontroversial adalah pernyataan yang dikaitkan dengan Marco Simic. Eks striker Persija Jakarta itu disebut menuding Persib Bandung mendapat keuntungan dari keputusan wasit hingga campur tangan federasi.
Dalam narasi video, Simic bahkan menyinggung adanya “jalur mulus” yang mempermudah langkah Persib menuju gelar juara.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan tidak ada bukti kuat yang mendukung tudingan tersebut. Pernyataan itu juga tidak ditemukan dalam wawancara resmi Simic di media arus utama.
Konten Fiktif untuk Edukasi
Menariknya, di bagian akhir video, pembuat konten justru mengakui bahwa seluruh narasi tersebut merupakan karangan atau fiktif. Tujuannya adalah untuk memberikan edukasi kepada penonton agar lebih kritis dalam menerima informasi, terutama dari media sosial.
Fenomena ini menjadi pengingat penting di tengah maraknya berita tidak terverifikasi yang beredar luas di internet. Banyak konten dibuat dengan gaya seolah-olah faktual, padahal tidak memiliki dasar yang jelas.
Persib Bandung Tetap Solid di Lapangan
Terlepas dari isu yang beredar, performa Persib Bandung di musim ini memang patut diapresiasi. Tim asuhan Bojan Hodak tampil konsisten dan menunjukkan kualitas sebagai kandidat kuat juara.
Baca Juga: Promo Toyota Calya 2026 Jelang Lebaran Bikin Kaget, Harga Mulai Rp100 Jutaan, DP Cuma Rp20 Juta
Kombinasi pemain asing berpengalaman dan talenta lokal menjadi kekuatan utama. Selain itu, kedisiplinan taktik serta mental bertanding yang kuat membuat Persib mampu bersaing di papan atas klasemen.
Permainan kolektif yang solid serta kemampuan membaca strategi lawan menjadi nilai lebih yang dimiliki Maung Bandung dibandingkan tim lain.
Pentingnya Literasi Media
Kasus ini menjadi contoh nyata pentingnya literasi media bagi masyarakat. Tidak semua informasi yang beredar di internet bisa langsung dipercaya, apalagi jika tidak disertai sumber yang jelas.
Publik diharapkan lebih selektif dalam menyaring informasi serta tidak mudah terprovokasi oleh konten yang belum tentu kebenarannya.
Di era digital saat ini, kecepatan informasi sering kali mengalahkan akurasi. Oleh karena itu, verifikasi menjadi langkah penting sebelum mempercayai atau menyebarkan sebuah berita. (*)
Editor : Riftanta Yuna Fellanda