BLITAR - Kekalahan telak Persebaya Surabaya dari Persija Jakarta kembali memicu gelombang kekecewaan di kalangan suporter. Hasil buruk ini membuat tuntutan rombakan Persebaya musim depan semakin menguat, terutama dari Bonek yang menilai performa tim jauh dari harapan.
Pada pekan ke-27 Super League 2025-2026, Persebaya harus mengakui keunggulan Persija dengan skor 0-3 di Stadion Gelora Bung Karno. Kekalahan ini bukan sekadar hasil buruk, tetapi juga menjadi simbol dari penampilan tim yang dinilai kehilangan arah sepanjang pertandingan.
Sejak awal laga, Persebaya terlihat kesulitan mengembangkan permainan. Minimnya kreativitas di lini tengah membuat serangan Bajol Ijo mudah dipatahkan. Situasi ini semakin memperkuat dorongan publik agar dilakukan rombakan Persebaya musim depan secara menyeluruh.
Baca Juga: Promo Toyota Calya 2026 Jelang Lebaran Bikin Kaget, Harga Mulai Rp100 Jutaan, DP Cuma Rp20 Juta
Performa Jauh dari Ekspektasi
Tiga gol Persija masing-masing dicetak oleh Alano pada menit kelima dan Exel Runtukahu yang tampil impresif sepanjang laga. Sementara itu, Persebaya tidak mampu menciptakan satu pun tembakan tepat sasaran selama 90 menit.
Kondisi ini menjadi sorotan utama para suporter. Di media sosial, Bonek secara terbuka mempertanyakan strategi pelatih hingga kualitas pemain yang diturunkan. Banyak yang menilai bahwa permainan Persebaya terlalu monoton, dengan umpan panjang yang mudah diantisipasi oleh lawan.
Tidak sedikit pula yang menyoroti performa pemain asing yang dianggap belum memberikan kontribusi maksimal. Nama-nama seperti Raikovik, Perovik, Lelis, hingga Gustavo disebut-sebut perlu dievaluasi serius.
Selain itu, sejumlah pemain lokal yang tampil cukup baik musim ini juga dinilai belum cukup untuk membawa Persebaya bersaing di papan atas. Kombinasi ini memunculkan desakan agar manajemen segera mengambil langkah tegas melalui rombakan Persebaya musim depan.
Suara Keras Bonek di Media Sosial
Kekecewaan Bonek memuncak setelah pertandingan. Berbagai komentar tajam membanjiri media sosial, menuntut perubahan besar di tubuh tim.
Beberapa suporter mempertanyakan apakah masalah utama terletak pada strategi pelatih atau kualitas pemain. Bahkan, ada yang menyebut permainan Persebaya “tidak berjalan sama sekali” dan jauh dari identitas tim yang dikenal agresif.
Baca Juga: Promo Toyota Calya 2026 Masih Gila Setelah Lebaran! Cicilan Mulai Rp1,6 Jutaan, Diskon Tetap Jalan
Desakan ini menjadi sinyal kuat bagi manajemen bahwa perubahan tidak bisa lagi ditunda. Evaluasi menyeluruh dinilai menjadi satu-satunya cara untuk mengembalikan performa tim di musim mendatang.
Perjuangan Azrul Ananda yang Berakhir Pahit
Di tengah kekecewaan tersebut, perhatian juga tertuju pada aksi Presiden Persebaya, Azrul Ananda. Ia melakukan perjalanan ekstrem dengan bersepeda sejauh 821 kilometer dari Surabaya ke Jakarta untuk mendukung tim secara langsung.
Perjalanan tersebut ditempuh selama tiga hari, melewati rute panjang dari Surabaya menuju Salatiga, Cirebon, hingga akhirnya tiba di Jakarta. Yang lebih mengesankan, perjalanan ini dilakukan setelah Azrul menjalani operasi lutut.
Baca Juga: Promo Toyota Calya 2026 Bikin Heboh! Cicilan Mulai Rp1 Jutaan, Bisa Tanpa Bunga dan DP Ringan
Bersama komunitas pesepeda Azrul Ananda Sports Society (AASS), ia tetap menunjukkan totalitas dukungan terhadap tim. Sepanjang perjalanan, rombongan mengenakan jersey Persebaya sebagai simbol loyalitas.
Namun, perjuangan luar biasa itu harus berakhir pahit setelah Persebaya kalah telak dari Persija. Meski demikian, Azrul tetap menunjukkan sikap positif dan berharap hubungan baik antar suporter tetap terjaga.
Ia bahkan mendapatkan sambutan hangat dari suporter Persija, The Jak Mania, selama perjalanan menuju Jakarta. Momen ini menjadi bukti bahwa rivalitas di sepak bola tetap bisa berjalan berdampingan dengan sportivitas.
Sinyal Perubahan Besar
Kekalahan ini menjadi alarm keras bagi Persebaya. Tekanan dari suporter, ditambah performa tim yang menurun, membuat manajemen berada di persimpangan penting.
Rombakan besar, baik dari sisi pemain maupun strategi, tampaknya menjadi opsi yang sulit dihindari. Jika ingin kembali bersaing di papan atas, Persebaya harus segera berbenah.
Musim ini menjadi pelajaran berharga bahwa dukungan besar dari suporter dan manajemen harus diimbangi dengan performa maksimal di lapangan. Tanpa itu, harapan untuk meraih prestasi hanya akan menjadi angan.
Dengan berakhirnya musim, kini semua mata tertuju pada langkah manajemen dalam menentukan arah Persebaya ke depan. Apakah akan ada perubahan besar? Jawabannya akan sangat menentukan nasib Bajol Ijo di musim berikutnya. (*)
Editor : Riftanta Yuna Fellanda