BLITAR - Penjaga gawang andalan Timnas Indonesia dan Persebaya Surabaya, Ernando Ari, melontarkan pernyataan emosional terkait masa depannya bersama klub kebanggaan warga Surabaya. Di tengah persaingan sengit kompetisi kasta tertinggi tanah air, kiper yang akrab disapa Nando ini menegaskan target pribadinya untuk membawa Green Force meraih gelar juara Super League 2025-2026.
Target besar ini bukan tanpa alasan. Ernando baru saja menorehkan tinta emas dalam perjalanan kariernya dengan mencatatkan 100 penampilan bersama Persebaya. Momen bersejarah tersebut terjadi dalam laga klasik melawan Persib Bandung. "Ini bukan perjalanan yang singkat, dan saya sangat bersyukur bisa dipercaya untuk terus membantu tim sejauh ini. Ambisi saya jelas, ingin membawa Persebaya meraih gelar juara Super League 2025-2026," tegas kiper asli Semarang tersebut.
Optimisme Ernando menjadi angin segar bagi para pendukung, meski ia mengakui bahwa persaingan menuju takhta juara Super League 2025-2026 sangatlah terjal. Persebaya harus berhadapan dengan tembok besar dari tim-tim papan atas lainnya seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, Borneo FC Samarinda, hingga kekuatan baru Malut United. Namun, dengan statistik impresif 32 clean sheet dari 100 laga, Ernando yakin konsistensi adalah kunci utama.
Mengenang Penalti Krusial Lawan Arema FC
Dalam perjalanannya menuju angka 100 laga, Ernando menyebutkan satu momen yang tidak akan pernah ia lupakan. Momen tersebut adalah saat laga kontra Arema FC pada April 2023. Persebaya yang sudah unggul 1-0 hampir saja kehilangan kemenangan di menit-menit akhir babak tambahan (90+5) setelah wasit menghadiahi penalti untuk Singo Edan.
Ketangkasan Ernando dalam menggagalkan eksekusi Rizky Dwi saat itu menjadi titik balik yang memperkuat mentalitasnya. "Itu momen yang sangat krusial dan menjadi kenangan yang sangat berarti bagi saya pribadi. Dari situ, saya belajar bahwa fokus hingga detik terakhir adalah segalanya," ungkapnya. Untuk musim ini, ia berjanji akan menjaga kebugaran tubuh dan disiplin di luar lapangan demi mewujudkan mimpi Bonek melihat tim kesayangan mereka mengangkat trofi.
Ironi Rekrutan Anyar di Super League 2025-2026
Namun, di balik ambisi besar Ernando, ada sisi lain yang menjadi sorotan tajam di putaran kedua kompetisi. Meski bursa transfer paruh musim diramaikan oleh kedatangan pemain-pemain bereputasi besar, nyatanya banyak dari mereka yang justru "tenggelam" di bangku cadangan. Setidaknya ada sembilan pemain baru di liga yang kini menyandang status minim menit bermain.
Kondisi ini dialami oleh klub-klub raksasa seperti Persija Jakarta dan Persib Bandung. Di kubu Macan Kemayoran, nama-nama seperti Cyrus Margono, Mauro Zijlstra, Pablo Ricardo, hingga Shayne Pattynama masih kesulitan menembus skuat utama. Mauro Zijlstra misalnya, baru mencatatkan 21 menit bermain, sementara Shayne Pattynama hanya mengoleksi 35 menit. Lebih tragis lagi, Kodai Tanaka di Dewa United bahkan belum mencatatkan satu menit pun bermain di putaran kedua ini.
Nasib Bruno Paraiba di Persebaya
Situasi serupa ternyata juga merembet ke internal Persebaya Surabaya. Rekrutan anyar mereka, Bruno Paraiba, kini tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan Bonek. Sebagai striker yang diharapkan menjadi mesin gol baru untuk membantu target juara Super League 2025-2026, menit bermainnya justru sangat minim.
Hingga saat ini, Bruno Paraiba tercatat baru bermain selama 19 menit. Angka yang sangat sedikit bagi seorang pemain asing yang didatangkan dengan ekspektasi tinggi. Faktor adaptasi taktik dan ketatnya persaingan internal disinyalir menjadi penyebab utama mengapa pemain asal Brasil ini belum mendapatkan kepercayaan penuh dari tim pelatih.
Tentu, jika Persebaya benar-benar ingin mengunci gelar juara Super League 2025-2026, efektivitas pemain baru seperti Bruno Paraiba harus segera ditingkatkan. Super League musim ini masih menyisakan laga-laga krusial yang menuntut kedalaman skuat yang mumpuni. Mampukah Ernando Ari menjaga gawangnya tetap perawan sementara lini depan mulai panas? Menarik untuk dinantikan langkah Green Force selanjutnya. (*)
Editor : Riftanta Yuna Fellanda