BLITAR - Dinamika politik tanah air kembali memanas seiring dengan langkah mengejutkan yang diambil oleh relawan Pro Jokowi (Projo). Dalam Kongres III Projo yang digelar di Jakarta Pusat, Ketua Umum terpilih periode 2025-2030, Budi Arie Setiadi, secara terbuka meminta izin kepada seluruh anggotanya untuk merapat dan bergabung dengan Partai Gerindra. Langkah ini menandai babak baru bagi organisasi relawan yang selama ini dikenal sebagai loyalis garis keras Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Langkah reforma organisasi ini terlihat jelas lewat transformasi identitas Projo. Organisasi ini resmi mengganti logonya dengan menghilangkan siluet wajah Joko Widodo yang selama ini menjadi ciri khas utama. Budi Arie menegaskan bahwa perubahan ini bukan berarti Projo meninggalkan kesetiaan kepada Jokowi, melainkan sebuah adaptasi strategis untuk mendukung agenda politik Presiden Prabowo Subianto dalam jangka panjang.
Bagi publik, fenomena ini dibaca sebagai upaya Projo untuk tetap berada di orbit kekuasaan. Pengamat politik menilai bahwa Projo sedang melakukan akselerasi agar tetap memiliki posisi tawar yang kuat di masa depan. Bergabungnya pucuk pimpinan Projo ke partai pemenang pemilu dianggap sebagai langkah realistis untuk menjaga eksistensi organisasi pasca-transisi kepemimpinan nasional.
Gerindra Terbuka: Sinyal Hijau bagi Budi Arie Setiadi
Merespons keinginan tersebut, Sekretaris Dewan Pembina Partai Gerindra, Ahmad Muzani, menyatakan bahwa partainya selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin memperkuat perjuangan Gerindra. Selama memenuhi syarat sebagai warga negara Indonesia dan berkomitmen pada perjuangan partai, Gerindra siap menerima keanggotaan dari berbagai latar belakang, termasuk tokoh sekaliber Budi Arie.
Meski demikian, banyak pihak yang masih menanti realisasi konkret dari rencana ini, seperti kepemilikan Kartu Tanda Anggota (KTA). Sinyal kehangatan antara Gerindra dan Projo sebenarnya sudah terlihat dari kehadiran sejumlah petinggi Gerindra dalam kongres tersebut. Hal ini memperkuat dugaan bahwa proses "merapatnya" Projo ke rumah baru sudah dibicarakan di level elit.
Transformasi Projo: Bukan Lagi Sekadar 'Pro Jokowi'?
Keputusan untuk mengubah logo dan makna singkatan Projo memicu spekulasi luas. Pengamat politik Adi Prayitno menyebutkan adanya paradoks dalam langkah ini. Di satu sisi, Projo mengklaim diri sebagai relawan paling militan, namun di sisi lain mereka memilih bergabung dengan partai politik yang sudah ada ketimbang bertransformasi menjadi partai mandiri.
"DNA Projo tampaknya selalu ingin dekat dengan pemenang," ujar Adi dalam sebuah diskusi. Hal ini menjelaskan mengapa Gerindra menjadi pilihan utama dibandingkan partai lain yang secara historis lebih dekat dengan keluarga besar Jokowi. Fokus Projo kini sepenuhnya diarahkan untuk mengawal program-program pemerintahan Prabowo-Gibran hingga 2029 mendatang.
Restu Jokowi dan Komitmen Kawal Prabowo
Wakil Ketua Umum DPP Projo, Fredy Alex Damanik, mengonfirmasi bahwa arah politik organisasi selalu dikoordinasikan dengan Joko Widodo. Meskipun tidak ada arahan spesifik untuk masuk ke partai tertentu, Jokowi disebut selalu menekankan pentingnya Projo untuk terus mendukung dan mengawal keberlanjutan pemerintahan saat ini di bawah komando Presiden Prabowo Subianto.
Dengan komitmen baru ini, Projo berharap dapat mensinergikan kekuatan relawan dengan mesin partai politik untuk memenangkan agenda-agenda strategis pemerintah, baik di tingkat eksekutif maupun parlemen. Bagi Projo, masa depan politik Indonesia adalah tentang keberlanjutan, dan bergabung dengan Gerindra dianggap sebagai jalan tol menuju tujuan tersebut. (*)