BLITAR - Menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) seringkali dipandang sebelah mata sebagai pekerjaan kasar. Namun, kisah sukses Mukini, seorang purna PMI asal Tulungagung, membuktikan bahwa nasib seseorang bisa berubah drastis melalui investasi ilmu dan ketekunan. Berawal dari bekerja sebagai asisten rumah tangga di Hongkong, kini Mukini bertransformasi menjadi seorang pengusaha sukses sekaligus pendidik dan penguji pijat refleksi tingkat nasional yang telah melahirkan ribuan tenaga kerja terampil.
Kisah perjalanan Mukini dimulai pada tahun 2006 saat ia memutuskan berangkat ke Hongkong. Di balik kesibukannya mengurus rumah tangga dan merawat lansia, ia memiliki ambisi besar untuk tidak selamanya menjadi buruh migran. Keberuntungan berpihak padanya saat bertemu dengan majikan yang sangat mendukung pendidikan. "Majikan saya bilang, kalau pulang ke Indonesia hanya lulusan SMP, kamu akan tetap jadi babu. Kamu harus jadi bos," kenang Mukini saat menceritakan kisahnya dalam sebuah kunjungan bersama jajaran Kementerian Ketenagakerjaan di Tulungagung baru-baru ini.
Berbekal dukungan tersebut, Mukini memanfaatkan waktu liburnya pada hari Sabtu dan Minggu untuk belajar. Ia memulai dengan program penyetaraan Paket C, lalu melanjutkan ke berbagai kursus profesional. Tak tanggung-tanggung, Mukini menempuh pendidikan di Young Men's Christian Association (YMCA) selama empat tahun untuk mendalami ilmu spa and body treatment. Kerja kerasnya membuahkan hasil manis dengan meraih gelar Diploma Intermediate dengan predikat cumlaude.
Baca Juga: 7 Mobil Bekas 100 Jutaan Terbaik 2026, Nyaman, Irit, hingga Rasa Mobil Mewah, Ini Rekomendasinya !
Ketekunan Mukini di luar negeri tidak hanya berhenti pada belajar. Ia bahkan sempat dipercaya menjadi instruktur spa untuk wilayah Asia, mengajar ke berbagai negara seperti Thailand, Vietnam, hingga Malaysia, sembari tetap menyelesaikan kontrak kerjanya. Pengalaman internasional inilah yang membentuk mentalitas dan keahliannya di bidang terapi kesehatan dan kecantikan.
Sekembalinya ke tanah air pada akhir 2015, Mukini tidak lantas berpuas diri. Ia memilih pulang ke daerah asalnya dan mulai merintis Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) yang diberi nama Amuskin. Melalui LPK ini, ia fokus menularkan ilmunya kepada masyarakat sekitar, khususnya bagi warga kurang mampu, yatim piatu, dan para janda di wilayah Tulungagung dan sekitarnya. "Bagi saya, ilmu adalah investasi terbaik. Saya ingin teman-teman PMI atau masyarakat kecil punya skill agar bisa mandiri secara ekonomi," tegasnya.
Perjuangan Mukini mendirikan LPK tidaklah mudah, namun ia mengaku banyak dibantu oleh kemudahan perizinan dari Disnaker dan Kemendikbud. Kini, LPK Amuskin telah meluluskan lebih dari 2.000 siswa sejak tahun 2016. Banyak dari lulusannya yang kini bekerja secara profesional di hotel-hotel berbintang di Tulungagung, bahkan ada pula yang telah membuka praktik mandiri hingga mendirikan lembaga pelatihan sendiri.
Satu hal yang unik dari metode pengajaran Mukini adalah perpaduan teknik Barat dan tradisional Indonesia. Ia mengadopsi teknik pijat Eropa seperti Swedish massage dan lymphatic drainage, namun dipadukan dengan kearifan lokal seperti penggunaan batu panas (hot stone) dan bambu. Inovasi ini membuat layanan terapinya memiliki nilai jual tinggi dan diminati banyak orang.
Mukini juga berpesan kepada calon PMI yang ingin mengadu nasib ke luar negeri agar tidak hanya mengandalkan tenaga. Menurutnya, ada tiga kunci utama yang harus dibawa: skill, knowledge, dan attitude. Ia menekankan agar para migran tidak terjebak dalam gaya hidup konsumtif atau hura-hura selama di luar negeri. Alih-alih hanya membangun rumah mewah, ia menyarankan untuk menginvestasikan hasil kerja keras pada peningkatan kompetensi diri dan modal usaha.
Kisah Mukini menjadi potret nyata bahwa program Desmigratif (Desa Migran Produktif) yang diusung pemerintah dapat berjalan maksimal jika didukung oleh sosok-sosok inspiratif di daerah. Keberhasilannya menciptakan lapangan kerja baru di Tulungagung membuktikan bahwa purna PMI adalah aset berharga bagi pembangunan ekonomi lokal jika dibekali dengan pendampingan dan kemauan belajar yang tinggi. (*)
Editor : Muhammad Adib Falih Rifly
Sumber : Kementerian Ketenagakerjaan RI