BLITAR - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, membawa misi besar dalam transformasi sumber daya manusia di lingkungan pesantren. Dalam sebuah pertemuan strategis baru-baru ini, beliau menekankan pentingnya penguasaan teknologi bagi generasi muda nahdliyin. Secara spesifik, Menteri Nusron Wahid Stem menjadi sorotan utama karena ia menginginkan para santri mulai dipersiapkan dan dikader sebagai pelaksana kebijakan yang andal di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Langkah ini dinilai sebagai upaya progresif untuk menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan agama dan kebutuhan industri teknis di Indonesia. Menteri Nusron Wahid Stem percaya bahwa santri memiliki kedisiplinan moral yang kuat, yang jika dipadukan dengan keahlian teknis, akan menciptakan birokrat atau pelaksana kebijakan yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga berintegritas tinggi. Baginya, santri tidak boleh hanya puas di sektor sosial-keagamaan, melainkan harus masuk ke jantung kebijakan teknokratis.
"Kita membutuhkan kader-kader dari kalangan santri yang mampu menguasai bidang STEM. Mereka harus menjadi pelaksana kebijakan yang memahami data, teknologi, dan teknik untuk membangun bangsa ini," tegas Menteri Nusron Wahid saat memberikan motivasi di hadapan para santri dan pendidik. Ia menilai, penguasaan di bidang sains dan teknologi adalah kunci bagi Indonesia untuk bersaing di level global, terutama dalam mengelola administrasi pertanahan dan tata ruang yang kini semakin berbasis digital.
Visi Besar: Santri dan Tantangan Digitalisasi
Menteri Nusron Wahid memaparkan bahwa selama ini bidang STEM seringkali dianggap jauh dari jangkauan pesantren. Namun, seiring dengan percepatan teknologi, pandangan tersebut harus segera diubah. Kaderisasi di bidang sains dan teknologi dianggap sebagai bentuk jihad modern. Para santri diharapkan mampu mengisi pos-pos penting di kementerian maupun lembaga teknis agar kebijakan yang diambil tetap memiliki sentuhan etika dan kemanusiaan.
Dalam kacamata Nusron, tantangan besar di Kementerian ATR/BPN sendiri sangat berkaitan erat dengan teknologi. Mulai dari pemetaan satelit, pengelolaan basis data geospasial, hingga sistem sertipikat elektronik, semuanya membutuhkan tenaga ahli yang mumpuni. Jika santri dikader di bidang STEM sejak dini, mereka akan menjadi aset bangsa yang mampu mengelola aset negara dengan transparansi maksimal dan risiko penyimpangan yang minimal.
Pemerintah melalui Kementerian ATR/BPN pun mulai melirik potensi besar dari pesantren sebagai pusat inkubasi kader pelaksana kebijakan. Nusron menekankan bahwa literasi digital dan penguasaan matematika terapan adalah fondasi dasar yang harus diperkuat. Beliau mengajak para pengasuh pesantren untuk mulai memasukkan kurikulum penunjang yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa harus meninggalkan tradisi literasi kitab kuning yang menjadi ciri khas pesantren.
Baca Juga: Mobil Bekas Rp40 Jutaan Minim Perbaikan, Ini 5 Pilihan Paling Bandel dan Murah Dirawat !
Membangun SDM Unggul dan Berintegritas
Lebih lanjut, Nusron menjelaskan bahwa program pengaderan ini bukan sekadar wacana. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan sektor swasta untuk menciptakan jalur karier yang jelas bagi santri berprestasi di bidang STEM. Harapannya, dalam beberapa tahun ke depan, kita akan melihat lebih banyak pelaksana kebijakan di sektor publik yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren yang kuat di bidang teknologi dan sains.
Sentuhan personal Menteri Nusron dalam memberikan motivasi ini terlihat dari semangatnya mendorong santri untuk "keluar dari zona nyaman". Menurutnya, santri memiliki keunggulan kompetitif berupa ketahanan mental dan kepatuhan pada nilai-nilai kebenaran. "Jika keunggulan ini digabungkan dengan penguasaan STEM, maka para pelaksana kebijakan kita akan sangat kokoh. Tidak mudah disuap dan sangat teknis dalam bekerja," imbuhnya dengan nada optimis.
Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa sejarah mencatat banyak ilmuwan besar muslim yang lahir dari tradisi pengkajian agama yang kuat. Oleh karena itu, kembali menguasai STEM adalah sebuah perjalanan pulang menuju kejayaan intelektual. Dengan dorongan penuh dari pemerintah, jalan bagi santri untuk menjadi pelaksana kebijakan di bidang teknologi kini terbuka lebar. Harapannya, Blitar dan daerah-daerah lainnya di Indonesia bisa melahirkan ribuan kader santri teknokrat yang siap membangun negeri.
Editor : Saifullah Muhammad Jafar