GIANYAR - Persiapan krusial Persebaya Surabaya menjelang laga sarat gengsi bertajuk Derbi Jawa Timur kontra Arema FC tercoreng oleh insiden tidak mengenakkan. Skuad berjuluk Green Force tersebut dilaporkan terlantar di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, setelah mendarat pada 31 Maret 2026. Alih-alih mendapatkan sambutan layak dari panitia pelaksana (Panpel), pemain dan ofisial Persebaya harus menunggu jemputan yang tidak kunjung datang tanpa kejelasan.
Skuad Persebaya terlantar di Bali selama lebih dari satu jam, sebuah situasi yang jelas sangat merugikan bagi tim yang sedang membutuhkan fokus penuh menjelang pertandingan besar. Kondisi ini memicu kemarahan di kalangan pendukung setia, Bonek, yang menilai perlakuan Panpel Arema FC terhadap tim tamu sangat jauh dari standar profesionalitas. Insiden ini pun menjadi sorotan tajam lantaran terjadi hanya sehari sebelum laga krusial yang menuntut kondisi fisik dan mental prima bagi seluruh pemain.
Ketidakprofesionalan pihak tuan rumah semakin terlihat ketika jemputan yang dijanjikan tak kunjung tiba meski waktu telah berlalu cukup lama. Demi menjaga ritme persiapan dan tidak membuang waktu lebih banyak, pihak tim akhirnya mengambil inisiatif mandiri. Pemain Persebaya terpaksa harus menyewa taksi menuju lokasi latihan agar program persiapan tetap berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan oleh tim pelatih.
Baca Juga: Tolak Alih Fungsi Hutan Tretes, Alam Bukan Untuk Dikorbankan Demi Real Estate
Panpel Arema FC Jadi Sorotan Utama
Kejadian yang menimpa tim asuhan Bernardo Tavares ini langsung menuai beragam kecaman dari berbagai pihak. Sebagai penyelenggara pertandingan yang seharusnya menjamin kenyamanan dan kelancaran operasional tim tamu, tindakan Panpel Arema FC dinilai sangat tidak pantas. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana koordinasi yang dilakukan oleh tuan rumah dalam menyambut tim lawan, terutama dalam laga dengan tensi tinggi seperti Derbi Jawa Timur.
Bagi Persebaya Surabaya, insiden ini bukan sekadar masalah teknis transportasi, melainkan telah menyentuh ranah profesionalitas penyelenggaraan liga. Kejadian memalukan ini seolah mencoreng citra kompetisi BRI Super League yang seharusnya menjunjung tinggi sportivitas dan rasa saling menghormati antarklub. Terlebih, laga ini merupakan partai besar yang akan disaksikan oleh jutaan pasang mata, sehingga setiap detail penyelenggaraan seharusnya ditangani dengan sangat serius dan terencana.
Motivasi Tambahan di Lapangan Hijau
Di tengah situasi yang merugikan ini, pelatih dan pemain Persebaya Surabaya memilih untuk tetap tenang dan fokus pada tujuan utama. Alih-alih meladeni polemik di luar lapangan, para pemain bertekad untuk membalas perlakuan tidak layak ini dengan performa maksimal di atas rumput hijau. Mereka ingin membuktikan bahwa harga diri dan profesionalitas tim Surabaya tidak akan goyah meski diganggu oleh tindakan yang tidak sportif dari pihak lawan.
Baca Juga: Sempat Alami Trouble Teknis, Dispendik Kabupaten Blitar Bakal Evaluasi Pelaksanaan TKA Jenjang SMP
Semangat membara kini menyelimuti skuad Green Force. Insiden terlantar di bandara justru menjadi bahan bakar tambahan bagi para pemain untuk bermain lebih agresif dan memenangkan pertandingan. Bagi Bonek, kemenangan di laga ini akan terasa jauh lebih berarti sebagai jawaban atas tindakan tidak profesional dari Panpel Arema FC. Kini, semua mata tertuju pada duel panas yang akan tersaji, di mana Persebaya Surabaya datang dengan satu misi: membalas kekecewaan di luar lapangan dengan kemenangan mutlak di atas lapangan.
Editor : Natasha Eka Safrina