JEREZ – Nama pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama, kini tengah menjadi fenomena global di ajang Moto3 World Championship 2026. Penampilannya yang luar biasa pada seri Spanyol di Sirkuit Jerez, Minggu (26/4), benar-benar mengguncang peta persaingan balap motor dunia. Veda berhasil mencatatkan comeback yang sulit dipercaya, di mana ia mampu finis di posisi keenam setelah memulai balapan dari posisi ke-17, sebuah pencapaian yang di luar nalar untuk ukuran kelas seketat Moto3.
Veda Ega Pratama tampil bak predator di lintasan Jerez. Meskipun start dari barisan belakang yang biasanya menjadi zona "mati" bagi pembalap, Veda tidak sedikit pun menunjukkan keraguan. Sejak lampu start padam, ia langsung menunjukkan agresi yang terkontrol. Satu per satu pembalap di depannya dilibas dengan manuver yang bersih, cepat, dan penuh perhitungan. Total, ada 11 pembalap yang berhasil ia susul sepanjang balapan, sebuah statistik yang langsung membuat media otomotif ternama di Spanyol, seperti Marca dan AS, menobatkannya sebagai "revelasi dari Asia".
Puncaknya terjadi ketika Veda terlibat duel sengit dengan pembalap tuan rumah sekaligus rivalnya, Brian Uriarte. Di depan publik Spanyol yang awalnya menaruh harapan besar pada Uriarte, Veda justru menunjukkan keberanian luar biasa saat mengambil racing line sempit di tikungan cepat. Overtake bersih yang dilakukan Veda membuat para penonton di sirkuit terdiam, sementara komentator Spanyol berubah menjadi histeris karena aksi tersebut di luar dugaan mereka.
Baca Juga: Satu Rumah, Satu Saluran Air: Langkah Nyata Menuju Surabaya Bersih dan Bebas Banjir
Pengakuan Lawan dan Sorotan Media
Performa Veda yang agresif namun tetap cerdas mendapatkan apresiasi langsung dari Brian Uriarte. Dalam wawancara singkat seusai balapan, Uriarte mengaku sangat terkejut dengan ritme balap yang dimiliki Veda. "Sejak pertengahan balapan, saya menyadari Veda memiliki ritme yang sangat kuat. Manuvernya sangat bersih dan sulit untuk dibalas," ungkap Uriarte dengan nada respek. Ia bahkan mengakui bahwa keberanian dan kontrol Veda saat ini berada di level yang sangat matang bagi seorang rookie.
Sementara itu, Hakim Danish, rival Veda lainnya, memilih untuk fokus melakukan evaluasi. Meski sempat tertinggal di Jerez, Danish menegaskan ambisinya untuk bangkit pada seri berikutnya di Prancis. Namun, publik sudah terlanjur terpikat oleh aksi fenomenal Veda. Performa pembalap asal Indonesia ini benar-benar memecah dominasi pembalap tuan rumah yang biasanya menguasai jalannya balapan di Jerez.
Bukti Mentalitas Kelas Dunia
Bagi pengamat balap, lompatan 11 posisi yang dilakukan Veda bukan sekadar keberuntungan. Ini adalah perpaduan antara skill tingkat tinggi, kecerdasan membaca situasi, dan mentalitas baja. Veda tidak memaksakan diri secara ceroboh, melainkan membangun ritme secara bertahap hingga ia mampu memangkas jarak dengan kelompok terdepan. Konsistensi lap time yang ditunjukkan sepanjang balapan adalah bukti nyata bahwa ia adalah pembalap dengan paket lengkap.
Baca Juga: Data BPS Ungkap IPM 2025 Kota Blitar Naik, Pengeluaran Warga Ikut Terkerek
Kini, sorotan dunia sepenuhnya tertuju pada apa yang akan dilakukan Veda di seri selanjutnya. Jika di sirkuit teknis seperti Jerez ia bisa melakukan hal segila ini, maka ekspektasi akan Veda akan terus meningkat di balapan berikutnya. Veda Ega Pratama bukan lagi sekadar pembalap pendatang baru; ia adalah ancaman nyata bagi para veteran di grid Moto3. Konsistensi menjadi tantangan selanjutnya, namun dengan mentalitas yang ia miliki saat ini, Veda telah membuktikan bahwa dirinya sudah siap bertarung di level tertinggi balap dunia.
Editor : Natasha Eka Safrina