BLITAR KAWENTAR - Debur ombak Pantai Permisan, Nusakambangan, menjadi saksi lahirnya semangat baru dalam tradisi pembaretan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) beberapa waktu lalu.
Di tengah gemuruh yel-yel yang mengguncang pesisir selatan, sosok perwira muda asal Blitar tampil memimpin dengan suara lantang, penuh ketegasan, dan kharisma kepemimpinan yang kuat.
Dialah Letda Mohammad Bintang Revolusi, F.D., S.Tr. Han, perwira muda TNI AD yang kini menjadi salah satu representasi generasi patriot Indonesia. Kehadirannya di garis terdepan memimpin yel-yel pembaretan bukan sekadar simbol formalitas militer, melainkan representasi dari perjalanan panjang, tempaan disiplin, serta konsistensi prestasi yang telah ia ukir sejak usia muda.
Momentum pembaretan Kopassus sendiri dikenal sebagai salah satu fase paling sakral dalam perjalanan seorang prajurit.
Tradisi ini bukan hanya tentang simbol baret merah, tetapi tentang legitimasi kehormatan yang diraih melalui perjuangan fisik, mental, intelektual, dan loyalitas tanpa kompromi. Di titik penuh sejarah itu, nama Bintang Revolusi kembali mencuat. Lahir di Blitar pada 7 Juni 2001, Letda Mohammad Bintang Revolusi tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kuat dalam nilai kedisiplinan, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Putra Direktur Revolutionary Law Firm Kota Blitar, Mohammad Trijanto, S.H., M.M., M.H, advokat senior sekaligus aktivis hukum yang dikenal luas memiliki komitmen tinggi dalam memperjuangkan keadilan dan memberikan pendampingan hukum kepada masyarakat.
Baca Juga: Masih Terjadi Union Busting oleh Perusahaan Pekerja, SPSI Kota Blitar Bongkar Fakta di Lapangan
Sementara sang ibu, Novi Nurhayati, S.P., M.M, merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Sosial Kabupaten Blitar, yang selama ini dikenal sebagai sosok pengabdi negara di bidang pelayanan sosial dan kemanusiaan.
Dari kedua orang tuanya itulah tertanam nilai-nilai utama yang membentuk karakter Bintang: ketegasan prinsip, integritas, kedisiplinan, serta kepedulian terhadap sesama. Dalam wawancara keluarga, Mohammad Trijanto menegaskan bahwa pendidikan karakter selalu menjadi prioritas utama.
"Saya tidak pernah mendidik anak-anak saya hanya untuk menjadi sukses. Saya mendidik mereka agar hidupnya bermakna, berguna bagi bangsa, dan mampu meninggalkan jejak kebaikan," ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan putranya hari ini adalah hasil dari proses panjang, bukan sesuatu yang datang secara instan. Selepas itu, langkahnya berlanjut ke Akademi Militer Magelang, tempat ia menggembleng diri dalam tradisi kepemimpinan militer yang keras dan penuh disiplin.
Sejak kecil, Bintang telah menunjukkan kapasitas intelektual yang menonjol, terutama di bidang teknologi komputer. Ia kerap meraih prestasi dalam berbagai kompetisi teknologi.
Namun lebih dari itu, yang membuatnya menonjol adalah keteguhan mental. Di Akademi Militer, ia aktif dalam berbagai organisasi dan kegiatan strategis seperti Macan Tidar, Poltar, dan Bendera.
Ia juga dipercaya mengemban jabatan penting seperti, Kasi Pasiop dan Kalemustar. Jabatan-jabatan tersebut hanya diberikan kepada taruna dengan kualitas kepemimpinan, tanggung jawab, dan keteladanan yang tinggi.
Puncaknya, pada tahun 2024, dia dinobatkan sebagai Taruna Terbaik Pendidikan Dasar Infanteri, sebuah prestasi prestisius yang menegaskan kapasitasnya sebagai perwira infanteri unggulan. Selain itu, ia juga meraih Tanggon Kosala Perak, penghargaan yang semakin memperkuat rekam jejak prestasinya.
Kemampuan Bintang memimpin yel-yel telah dikenal sejak masa taruna. Dalam dunia militer, memimpin yel-yel bukan sekadar memandu teriakan bersama. Ia menuntut penguasaan emosi, kharisma, ketegasan komando, dan kemampuan membakar semangat kolektif.
Konsistensinya dipercaya memimpin berbagai momentum penting hingga pembaretan Kopassus 2026 menjadi bukti nyata bahwa ia memiliki daya kepemimpinan alami.(*/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah