BLITAR - Saham BBRI kembali menjadi sorotan setelah muncul proyeksi harga yang disebut bisa menembus Rp11.380 per lembar pada 2030. Prediksi saham BBRI tersebut ramai diperbincangkan investor karena dinilai tidak sekadar tebak-tebakan, melainkan menggunakan metode valuasi berbasis fundamental perusahaan.
Saat ini, saham Bank BRI diperdagangkan di kisaran Rp4.700-an per lembar. Jika proyeksi tersebut benar terjadi, maka saham BBRI berpotensi naik lebih dari 240 persen dalam beberapa tahun ke depan.
Prediksi saham BBRI ini didasarkan pada pertumbuhan nilai buku perusahaan atau book value yang dinilai konsisten selama bertahun-tahun. Metode tersebut juga dikombinasikan dengan rasio PBV atau Price to Book Value untuk memperkirakan harga wajarnya di masa depan.
Nilai Buku Jadi Dasar Prediksi Saham BBRI
Dalam dunia investasi saham, nilai buku atau book value sering dianggap sebagai nilai intrinsik perusahaan. Nilai ini mencerminkan kekayaan bersih perusahaan yang dimiliki pemegang saham.
Bank BRI disebut sebagai salah satu contoh perusahaan dengan pertumbuhan nilai buku yang stabil. Dari data periode 2014 hingga 2020, nilai buku Bank BRI terus mengalami kenaikan.
Pada 2014, nilai buku BBRI berada di kisaran Rp800 per lembar saham. Angka tersebut kemudian naik menjadi Rp926 pada 2015 dan terus bertumbuh hingga mencapai sekitar Rp1.637 pada 2020.
Dari data tersebut, pertumbuhan nilai buku Bank BRI dihitung menggunakan metode CAGR atau Compound Annual Growth Rate. Hasilnya, nilai buku BBRI tumbuh rata-rata sekitar 10,77 persen per tahun dalam tujuh tahun terakhir.
Dengan mengetahui laju pertumbuhan tersebut, investor kemudian bisa membuat proyeksi nilai buku Bank BRI pada tahun-tahun berikutnya.
Proyeksi Nilai Buku BBRI hingga 2025
Jika pertumbuhan 10,77 persen per tahun terus berlanjut, maka nilai buku BBRI diperkirakan mencapai sekitar Rp2.729 per saham pada 2025.
Setelah mengetahui estimasi nilai buku, langkah berikutnya adalah menghitung harga wajar saham menggunakan rasio PBV.
PBV merupakan perbandingan antara harga saham dengan nilai bukunya. Berdasarkan data historis 2014 hingga 2020, rata-rata PBV Bank BRI berada di kisaran 2,5 kali.
Artinya, pasar selama ini cenderung menghargai saham BBRI sekitar 2,5 kali dari nilai bukunya.
Jika nilai buku BBRI tahun 2025 diproyeksikan sebesar Rp2.729 dan dikalikan PBV 2,5 kali, maka harga wajarnya diperkirakan berada di sekitar Rp6.822 per lembar saham.
Metode sederhana ini dinilai cukup akurat karena dalam beberapa tahun terakhir harga saham BBRI memang bergerak mendekati kisaran harga wajarnya.
Harga Saham Disebut Selalu Mengikuti Fundamental
Dalam penjelasannya, disebutkan bahwa harga saham pada akhirnya akan mengikuti fundamental perusahaan. Ketika harga saham turun jauh di bawah nilai wajarnya, kondisi tersebut justru dianggap sebagai peluang membeli.
Contohnya terjadi saat pandemi 2020. Ketika harga saham BBRI sempat turun ke kisaran Rp2.200-an, valuasi fundamentalnya sebenarnya masih berada di area Rp4.000-an.
Setelah kondisi pasar membaik, harga saham BBRI kembali naik ke kisaran Rp4.700-an sesuai fundamental perusahaan.
Karena itu, fluktuasi harga jangka pendek dianggap tidak terlalu penting bagi investor jangka panjang selama fundamental perusahaan masih bertumbuh.
Proyeksi Harga BBRI 2030 Capai Rp11 Ribu
Dengan menggunakan metode yang sama, proyeksi harga saham BBRI pada 2030 disebut bisa mencapai Rp11.380 per lembar saham.
Angka tersebut diperoleh dari estimasi pertumbuhan nilai buku jangka panjang yang kemudian dikalikan dengan rata-rata PBV historis perusahaan.
Meski begitu, proyeksi ini bukan berarti harga saham akan terus naik tanpa koreksi. Dalam perjalanannya, saham BBRI tetap bisa mengalami penurunan akibat sentimen pasar, kondisi ekonomi global, hingga krisis seperti pandemi.
Namun bagi investor jangka panjang, penurunan harga justru dianggap sebagai kesempatan menambah kepemilikan saham di harga murah.
Metode valuasi berbasis nilai buku dan PBV ini juga disebut lebih rasional dibanding sekadar mengikuti rekomendasi influencer tanpa dasar perhitungan yang jelas.
Investor tetap diingatkan untuk mempelajari fundamental perusahaan sebelum membeli saham agar keputusan investasi lebih terukur dan tidak hanya berdasarkan spekulasi.
Editor : Axsha Zazhika