BLITAR - Saham BBRI atau Bank BRI kembali menjadi perbincangan di kalangan investor setelah muncul simulasi investasi yang menunjukkan pertumbuhan aset fantastis hanya dari kepemilikan 100 lot saham. Dalam simulasi tersebut, investasi saham BBRI sejak 2012 disebut mampu menghasilkan pertumbuhan nilai hingga ratusan persen, terutama jika dividen terus diinvestasikan kembali.
Saham BBRI selama ini memang dikenal sebagai salah satu saham favorit investor pemula maupun investor jangka panjang. Selain memiliki fundamental kuat, Bank BRI juga rutin membagikan dividen dengan nominal yang cukup besar setiap tahun.
Melalui simulasi investasi saham BBRI, investor bisa melihat bagaimana efek compounding bekerja dalam jangka panjang. Bahkan modal belasan juta rupiah pada 2012 disebut bisa berkembang menjadi lebih dari Rp128 juta pada 2023.
Modal untuk Punya 100 Lot Saham BBRI
Pada saat simulasi dibuat, harga saham BBRI berada di kisaran Rp5.425 per lembar. Dengan ketentuan satu lot berisi 100 lembar saham, maka modal yang dibutuhkan untuk membeli 100 lot saham BBRI mencapai sekitar Rp54,25 juta.
Namun kondisi berbeda terjadi jika investor sudah membeli saham Bank BRI sejak 2012. Pada akhir Desember 2012, harga saham BBRI masih berada di kisaran Rp1.356 per lembar.
Artinya, untuk memiliki 100 lot saham BBRI pada saat itu, investor hanya membutuhkan modal sekitar Rp13,56 juta.
Dalam simulasi tersebut, harga saham Bank BRI disebut telah naik sekitar 300 persen sejak 2012 hingga 2023. Kenaikan itu membuat nilai aset investor bertambah signifikan dengan floating profit mencapai lebih dari Rp40 juta.
Simulasi Harga Saham BBRI hingga 2033
Simulasi berikutnya mencoba menghitung potensi harga saham BBRI dalam 10 tahun ke depan. Dengan asumsi kenaikan rata-rata 25 persen per tahun, harga saham Bank BRI diproyeksikan bisa mencapai Rp59.216 per lembar pada 2033.
Jika investor tetap memegang 100 lot saham hingga 2033, maka nilai portofolionya diperkirakan bisa mencapai sekitar Rp592 juta.
Namun simulasi tersebut dianggap cukup agresif karena mengasumsikan pertumbuhan harga saham yang sangat tinggi setiap tahun.
Karena itu, dibuat juga simulasi yang lebih konservatif dengan asumsi kenaikan rata-rata 12 persen per tahun. Hasilnya, harga saham BBRI pada 2033 diproyeksikan berada di kisaran Rp16.849 per lembar.
Dengan skenario tersebut, nilai portofolio 100 lot saham BBRI diperkirakan mencapai sekitar Rp168 juta.
Dividen Jadi Daya Tarik Utama Saham BBRI
Selain kenaikan harga saham, dividen menjadi salah satu alasan utama investor menyukai saham Bank BRI. Pada 2012, Bank BRI membagikan dividen sebesar Rp112,28 per lembar saham.
Dengan kepemilikan 100 lot saham, investor saat itu bisa memperoleh dividen sekitar Rp1,12 juta.
Nominal dividen sempat mengalami penurunan pada 2021 akibat dampak pandemi Covid-19 yang menekan laba bersih perusahaan. Namun kondisi kembali membaik pada 2023.
Bank BRI tercatat membagikan dividen dua kali pada 2023 dengan total sebesar Rp288,22 per saham. Dengan kepemilikan 100 lot, investor memperoleh dividen sekitar Rp2,88 juta hanya dalam satu tahun.
Jika dihitung sejak 2012 hingga 2023, total dividen yang diterima investor disebut mencapai sekitar Rp27,37 juta.
Efek Compounding dari Reinvestasi Dividen
Hal paling menarik dalam simulasi ini adalah strategi reinvestasi dividen. Dalam strategi tersebut, seluruh dividen yang diterima setiap tahun digunakan kembali untuk membeli saham BBRI tambahan.
Pada 2012 misalnya, dividen sebesar Rp1,12 juta digunakan untuk membeli sekitar 9 lot saham tambahan. Akibatnya, jumlah kepemilikan saham meningkat dari 100 lot menjadi 109 lot pada tahun berikutnya.
Proses tersebut terus dilakukan setiap tahun. Hasilnya, jumlah kepemilikan saham investor meningkat drastis menjadi sekitar 262 lot pada 2023.
Dengan strategi reinvestasi dividen, pertumbuhan nilai investasi disebut mencapai sekitar 947 persen dalam 11 tahun. Nilai aset investor pun melonjak menjadi sekitar Rp128 juta lebih hanya dari modal awal Rp13 jutaan.
Meski demikian, simulasi ini tetap memiliki risiko karena investasi saham dipengaruhi banyak faktor, termasuk pergerakan investor asing dan kondisi pasar global.
Karena itu, investor tetap disarankan memahami risiko investasi sebelum membeli saham, termasuk saham unggulan seperti BBRI.
Editor : Axsha Zazhika