BLITAR - Analisa saham BBCA kembali menjadi sorotan setelah seorang investor membedah alasan mengapa saham Bank Central Asia atau BCA dinilai lebih unggul dibandingkan saham perbankan lain seperti Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI).
Dalam sebuah video yang ramai diperbincangkan investor ritel, pembahasan tidak hanya berfokus pada harga saham, tetapi juga bagaimana cara berpikir investor besar dalam memilih perusahaan berkualitas untuk investasi jangka panjang.
Investor tersebut menegaskan bahwa tujuan utama video itu bukan sekadar memberi rekomendasi saham, melainkan memperlihatkan framework berpikir dalam menganalisa bisnis perbankan. Ia mengaku lebih percaya pada strategi investasi jangka panjang ala Warren Buffett dibandingkan trading jangka pendek.
Menurutnya, kekuatan terbesar investasi berasal dari compounding atau bunga berbunga. Dengan konsep itu, modal kecil yang terus bertumbuh dapat menghasilkan nilai besar dalam jangka panjang.
Konsep Compounding Jadi Dasar Investasi
Dalam penjelasannya, investor tersebut mencontohkan bahwa uang Rp100 juta yang tumbuh 10 persen per tahun selama 30 tahun bisa berkembang menjadi sekitar Rp1,7 miliar.
Ia bahkan menegaskan investasi tidak harus dimulai dengan modal besar. Menurutnya, investasi justru sebaiknya dimulai sejak seseorang belum memiliki banyak uang.
“Mulai saja dengan uang yang ada. Tidak perlu menunggu kaya dulu,” ujarnya dalam video tersebut.
Selain membahas compounding, fokus utama pembahasan tertuju pada analisa saham BBCA dibandingkan BBRI dan BMRI.
Economic Moat Jadi Kunci Utama
Dalam analisanya, ia menggunakan konsep economic moat atau keunggulan kompetitif sebagai dasar utama menilai kualitas bisnis bank.
Ia mengibaratkan bisnis seperti benteng yang dilindungi parit besar. Semakin kuat economic moat sebuah perusahaan, semakin sulit pesaing merebut pasar perusahaan tersebut.
Pada sektor perbankan, economic moat dinilai berasal dari kemampuan bank mendapatkan dana murah atau CASA (Current Account Saving Account).
Menurut data yang dipaparkan, BBCA memiliki rasio CASA sekitar 82 persen, jauh lebih tinggi dibanding BMRI dan BBRI yang berada di kisaran 65 persen.
Tingginya CASA membuat biaya dana BCA menjadi jauh lebih murah dibanding pesaingnya. Hal itu berdampak langsung terhadap keuntungan bank melalui net interest margin atau NIM.
Investor tersebut menilai inilah alasan utama mengapa saham BBCA selalu diperdagangkan dengan valuasi premium di pasar saham Indonesia.
Internet Banking Jadi Senjata BCA
Selain CASA, kekuatan lain BCA disebut berasal dari layanan digital banking yang sudah sangat kuat di masyarakat.
Aplikasi seperti myBCA dan KlikBCA dianggap berhasil menciptakan switching cost tinggi bagi nasabah. Artinya, pengguna akan sulit berpindah ke bank lain karena sudah nyaman menggunakan layanan BCA.
Meski demikian, ia juga mengingatkan bahwa Bank Mandiri mulai mengejar melalui aplikasi Livin’ by Mandiri yang dinilai berkembang cukup agresif dalam beberapa tahun terakhir.
“Kalau BCA terlena, kompetitor bisa mengejar,” katanya.
Return on Equity Jadi Penentu
Dalam analisa saham bank, investor tersebut juga menyoroti pentingnya Return on Equity atau ROE.
Menurutnya, BBCA secara historis mampu mencatat ROE di kisaran 22 hingga 24 persen. Angka itu dianggap sangat tinggi dan menunjukkan bahwa bisnis bank mampu menghasilkan keuntungan besar dari modal yang dimiliki.
Sementara BMRI dan BBRI juga memiliki ROE kuat di kisaran 18 hingga 20 persen, namun tetap berada di bawah BBCA.
Ia menyebut bisnis dengan ROE tinggi ibarat “mesin uang” yang terus mencetak keuntungan selama bertahun-tahun.
Valuasi Saham dan Margin of Safety
Dalam menentukan harga wajar saham, investor tersebut menggunakan metode relative valuation dengan membandingkan Price to Book Value atau PBV historis.
Ia mencontohkan jika book value per share BBCA berada di kisaran Rp2.300 dan rata-rata PBV historis berada di level 4 kali, maka harga wajar saham BBCA bisa berada di sekitar Rp9.000 hingga Rp10.000 per saham.
Dengan harga pasar saat ini yang masih berada di bawah estimasi tersebut, ia menilai BBCA masih memiliki margin of safety yang menarik bagi investor jangka panjang.
Menurutnya, konsep margin of safety menjadi senjata utama investor besar dunia seperti Benjamin Graham dan Warren Buffett.
Bank Disebut Jadi Pemenang Ekonomi Indonesia
Dalam penutup analisanya, ia optimistis sektor perbankan akan menjadi pemenang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju tahun 2045.
Ia menilai negara dengan populasi besar seperti China, India, hingga Indonesia selalu menempatkan sektor bank sebagai perusahaan dengan laba terbesar.
Karena itu, ia percaya saham bank seperti BBCA, BMRI, dan BBRI masih akan menjadi pilihan utama investor jangka panjang di pasar modal Indonesia.
Editor : Axsha Zazhika