JAKARTA - Duel klasik antara Arema FC melawan Persib Bandung pada final Bhayangkara Cup 2016 berlangsung panas dan penuh drama di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Pertandingan sarat gengsi itu menghadirkan tensi tinggi sejak menit awal hingga akhir laga.
Laga final Bhayangkara Cup 2016 antara Arema vs Persib menjadi perhatian besar publik sepak bola Indonesia. Ribuan suporter memadati stadion, sementara jutaan penonton menyaksikan pertandingan melalui layar kaca. Kehadiran Presiden Republik Indonesia Joko Widodo turut menambah atmosfer spesial pada partai puncak tersebut.
Pertandingan Arema vs Persib langsung berjalan terbuka sejak kick-off babak pertama dimulai. Arema yang tampil dengan formasi 4-3-3 mencoba mengambil inisiatif serangan melalui duet Cristian Gonzales dan Esteban Vizcarra. Sementara Persib mengandalkan kecepatan serangan balik lewat Samsul Arif, Kim Jeffrey Kurniawan, hingga Juan Belencoso.
Baca Juga: Bursa Transfer Arema FC Memanas, Ivar Jenner hingga Taisei Marukawa Masuk Daftar Incaran Singo Edan
Pada menit-menit awal, Cristian Gonzales langsung mengancam gawang Persib melalui tendangan keras kaki kiri. Namun peluang emas tersebut masih mampu diamankan penjaga gawang I Made Wirawan.
Meski Arema tampil agresif, Persib beberapa kali memberikan tekanan berbahaya. Kecepatan Tantan di sisi sayap membuat lini pertahanan Arema yang dikawal Hamka Hamzah dan Goran Gancev bekerja ekstra keras. Peluang emas sempat didapat Juan Belencoso, tetapi penyelesaian akhirnya masih belum maksimal.
Atmosfer Final Berlangsung Panas
Laga Arema vs Persib tidak hanya panas di lapangan, tetapi juga di tribun penonton. Stadion Gelora Bung Karno dipenuhi lautan biru dari kedua kubu suporter. Bobotoh dan Aremania terus memberikan dukungan tanpa henti sepanjang pertandingan berlangsung.
Komentator pertandingan bahkan menyebut laga tersebut sebagai salah satu final dengan tensi tertinggi pada era turnamen pramusim Indonesia. Kedua tim bermain ngotot dan sama-sama tampil disiplin dalam menjaga pertahanan.
Babak pertama berakhir tanpa gol meski kedua tim silih berganti menciptakan peluang. Persib lebih unggul dalam penguasaan bola, sedangkan Arema tampil efektif memanfaatkan serangan balik cepat.
Gol Raphael Maitimo Pecah Kebuntuan
Memasuki babak kedua, tempo pertandingan semakin meningkat. Pelatih Arema melakukan sejumlah instruksi taktis agar pemain lebih berani menyerang melalui sisi sayap.
Hasilnya datang ketika Arema berhasil memecah kebuntuan lewat gol indah Raphael Maitimo. Berawal dari kerja sama apik Cristian Gonzales dan Esteban Vizcarra, Maitimo sukses lolos dari pengawalan bek Persib sebelum melepaskan penyelesaian tenang yang menaklukkan I Made Wirawan.
Gol tersebut membuat stadion bergemuruh. Aremania yang hadir langsung bersorak merayakan keunggulan Singo Edan atas Maung Bandung.
Persib sebenarnya mencoba bangkit dengan memasukkan beberapa pemain cepat seperti Febri Hariyadi dan David Laly. Namun lini belakang Arema tampil disiplin menjaga keunggulan.
Kartu Merah Yanto Basna Jadi Titik Balik
Drama besar terjadi ketika bek Persib Yanto Basna menerima kartu kuning kedua. Insiden bermula setelah pelanggaran keras dan aksi emosional di tengah pertandingan.
Wasit akhirnya mengusir Yanto Basna dari lapangan sehingga Persib harus bermain dengan 10 pemain pada sisa pertandingan. Keputusan itu memicu protes keras dari kubu Persib, termasuk pelatih Dejan Antonic yang tampak emosional di pinggir lapangan.
Unggul jumlah pemain membuat Arema semakin percaya diri mengontrol jalannya pertandingan. Hendro Siswanto dan Alfarizi sukses menjaga ritme permainan sambil mematahkan upaya serangan Persib.
Di sisi lain, Persib tetap berusaha mencari gol penyeimbang melalui crossing-crossing cepat ke kotak penalti. Namun kokohnya pertahanan Arema membuat peluang demi peluang gagal dikonversi menjadi gol.
Hingga peluit panjang dibunyikan, skor tetap bertahan untuk kemenangan Arema. Hasil tersebut memastikan Singo Edan keluar sebagai juara Bhayangkara Cup 2016 setelah melewati laga penuh tensi dan drama melawan rival beratnya, Persib Bandung.
Editor : Divka Vance Yandriana