Blitar Kawentar – Nama Veda Ega Pratama semakin mengguncang dunia balap internasional usai tampil luar biasa pada sesi Moto3 Le Mans 2026. Pembalap rookie asal Indonesia tersebut sukses membuat paddock terdiam setelah mencatat waktu fantastis dan unggul 0,2 detik dari rider Spanyol, Brian Uriarte.
Performa Veda Ega Pratama di sirkuit Le Mans langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan tim dan media Eropa. Bukan karena faktor cuaca atau keberuntungan, melainkan murni karena kualitas teknik balapnya yang dianggap berada di level berbeda untuk ukuran rookie.
Moto3 Le Mans dikenal sebagai salah satu lintasan paling teknis di kalender balap dunia. Karakter tikungan sempit, area pengereman keras, serta racing line yang sangat kompleks membuat banyak pembalap kesulitan tampil konsisten.
Namun justru di sirkuit seperti itulah Veda Ega Pratama menunjukkan kualitas sebenarnya. Lap demi lap, rider Honda Team Asia tersebut terlihat semakin percaya diri dan agresif hingga akhirnya mencatat waktu yang membuat paddock Moto3 geger.
Baca Juga: Suzuki Karimun 2026 Makin Menarik, City Car Irit dan Modern Ini Siap Jadi Mobil Favorit Anak Muda
Selisih 0,2 Detik dari Brian Uriarte Jadi Sorotan
Di kelas Moto3, selisih 0,2 detik bukan angka kecil. Apalagi jika dibandingkan dengan pembalap Eropa yang sudah sangat memahami karakter Sirkuit Le Mans.
Karena itu, ketika Veda Ega Pratama mampu unggul dari Brian Uriarte, banyak pihak langsung mulai memperhatikan pembalap muda Indonesia tersebut.
Yang paling membuat tim-tim Moto3 terkejut bukan hanya soal kecepatannya, melainkan cara Veda mendapatkan catatan waktu tersebut.
Teknik pengereman, keberanian mengambil racing line, hingga cara membuka throttle dinilai sangat matang untuk ukuran pembalap rookie.
Beberapa sumber paddock bahkan menyebut tim Aspar dibuat takjub melihat gaya balap Veda di Le Mans. Pembalap Indonesia itu dianggap memiliki insting balap alami yang sulit diajarkan.
Media Prancis Mulai Akui Kualitas Veda
Performa impresif Veda Ega Pratama juga mulai mendapat perhatian media balap Prancis. Sejumlah pengamat menyebut rider Indonesia tersebut layak disejajarkan dengan pembalap-pembalap muda terbaik Eropa.
Pujian itu terasa sangat spesial karena selama ini rider Asia kerap dipandang sebelah mata di ajang Moto3.
Namun Veda perlahan mulai mengubah pandangan tersebut lewat performa nyata di lintasan.
Tidak banyak pembalap rookie yang mampu langsung tampil kompetitif di Le Mans. Terlebih sirkuit tersebut terkenal sangat teknis dan menuntut kemampuan adaptasi tinggi.
Meski baru menjalani musim awal di Moto3, Veda justru terlihat seperti pembalap yang sudah bertahun-tahun berada di level tersebut.
KTM dan Aspar Mulai Tertarik
Penampilan luar biasa di Le Mans membuat nama Veda Ega Pratama mulai masuk radar tim-tim besar Moto3 dan Moto2.
Kabar yang beredar di paddock menyebut tim Aspar hingga KTM mulai mempertimbangkan untuk mendekati rider Indonesia tersebut musim depan.
Ketertarikan tim Eropa tentu bukan hal kecil. Sebab mereka dikenal sangat selektif dalam memilih pembalap muda berbakat.
Jika rumor tersebut benar, maka Veda berpotensi menjadi salah satu rider Indonesia pertama yang benar-benar diperhitungkan di level elite balap motor dunia.
Meski begitu, Honda Team Asia saat ini masih menjadi tim yang paling percaya dengan perkembangan Veda.
Bahkan dalam banyak sesi, performa Veda dinilai lebih impresif dibanding rekan setimnya, Zen Mitani.
Jadi Rider Terbaik Honda Team Asia
Konsistensi dan mental kuat membuat Veda kini dianggap sebagai pembalap terbaik Honda Team Asia di Moto3 2026.
Status tersebut tidak datang secara instan. Sebab untuk menjadi rider utama di tengah tekanan paddock internasional dibutuhkan lebih dari sekadar keberanian.
Veda dinilai memiliki kombinasi lengkap berupa teknik balap matang, adaptasi cepat, dan mental kompetitif yang sangat kuat.
Hal itulah yang membuat banyak pihak mulai percaya bahwa pembalap Indonesia ini bisa menjadi ancaman serius bagi dominasi rider Eropa di Moto3.
Meski perjalanan masih panjang, Le Mans sudah menjadi bukti bahwa talenta besar dunia tidak selalu lahir dari Eropa.
Kini publik Indonesia mulai bermimpi lebih jauh melihat perkembangan luar biasa Veda Ega Pratama. Jika terus berkembang konsisten, bukan tidak mungkin rider muda tersebut akan menjadi pembalap Indonesia pertama yang mampu bersaing memperebutkan gelar juara dunia.
Editor : M. Helmi Nurhisam