JAKARTA - Pembalap muda Indonesia, Galang Hendra Pratama, mengungkap tantangan besar yang dihadapinya selama menjalani musim perdana di ajang World Supersport 600. Rider binaan Yamaha itu mengaku harus beradaptasi total, mulai dari gaya balap hingga memahami karakter motor 600cc yang jauh berbeda dibanding motor 300cc yang sebelumnya ia gunakan.
Dalam sebuah perbincangan di kanal YouTube otomotif dan balap, Galang Hendra menyebut musim debutnya di World Supersport menjadi pengalaman yang sangat sulit sekaligus penuh pelajaran penting.
“Ini pertama kali saya bawa motor 600cc. Riding style, setup motor, sampai manajemen ban semuanya benar-benar berbeda,” ujarnya.
Keyword utama “Galang Hendra World Supersport 600” menjadi sorotan karena kiprah pembalap asal Yogyakarta tersebut terus menarik perhatian pecinta balap motor Indonesia. Apalagi, Galang menjadi pembalap Indonesia kedua setelah Gerry Salim yang tampil di level dunia kelas supersport.
Pada awal musim, Galang mengaku sempat kesulitan bersaing dan berada di posisi bawah saat seri pembuka di Australia. Namun perlahan, performanya mulai meningkat hingga mampu menembus posisi 10 besar di beberapa balapan.
Menurutnya, proses adaptasi menjadi kunci utama. Sebab, karakter motor 600cc sangat berbeda dibanding motor 300cc yang lebih mudah dikendalikan di tikungan.
Adaptasi Motor 600cc Jadi Tantangan Besar
Galang menjelaskan bahwa dirinya sebelumnya hampir tidak memiliki pengalaman menggunakan motor 600cc untuk balapan. Ia baru mulai rutin berlatih setelah mendapat kabar akan naik kelas ke World Supersport.
“Saya sebelumnya cuma sesekali sentuh motor 600cc. Setelah ada kabar naik kelas, saya dan papa akhirnya beli motor buat latihan di Sentul,” katanya.
Namun latihan di Indonesia ternyata belum cukup untuk menghadapi kerasnya persaingan di Eropa. Galang menilai karakter sirkuit Eropa sangat berbeda dengan Sirkuit Sentul yang lebih mengandalkan pola stop and go.
Di World Supersport, pembalap dituntut menjaga rolling speed dan fokus pada exit tikungan agar motor tetap melaju cepat.
“Kalau di Eropa itu fokusnya exit tikungan. Jangan terlalu dekat saat braking karena nanti speed keluar tikungannya hilang,” jelasnya.
Galang juga harus menghadapi pembalap-pembalap senior yang sudah bertahun-tahun menggunakan motor 600cc. Nama-nama seperti Jules Cluzel, Steven Odendaal, hingga Andrea Locatelli menjadi lawan berat yang memberinya banyak pelajaran.
Belajar dari Nol di Tim Baru
Selain adaptasi motor, Galang juga menghadapi tantangan komunikasi teknis di tim barunya. Ia mengaku harus mempelajari ulang bahasa teknis dalam menyampaikan kondisi motor kepada mekanik.
“Di tim lama mereka sudah paham bahasa teknik saya. Di tim baru saya harus cari chemistry lagi,” ujarnya.
Kondisi pandemi COVID-19 pada musim itu juga memperumit situasi. Jadwal latihan sangat terbatas dan sebagian besar aktivitas hanya dilakukan dari hotel ke sirkuit.
Galang menyebut sistem dua balapan dalam satu akhir pekan membuat tim kesulitan mencari setup terbaik motor. Jika setup belum ditemukan sejak Jumat, maka pembalap akan kerepotan hingga race day.
“Kalau Jumat belum ketemu setup, Sabtu dan Minggu jadi buru-buru cari setting lagi,” katanya.
Meski demikian, Galang tetap menikmati proses belajar tersebut. Ia merasa semakin memahami karakter motor besar dan mulai mampu bersaing dengan rider-rider veteran.
Pilih Matang di World Supersport
Untuk masa depan kariernya, Galang menegaskan belum ingin buru-buru naik kelas ke kompetisi yang lebih tinggi. Ia memilih fokus mematangkan kemampuan di World Supersport 600 terlebih dahulu.
“Saya ingin matang dulu di 600cc. Saya nggak mau buru-buru naik kelas tapi hasilnya malah tidak maksimal,” tegasnya.
Galang juga mengaku kini lebih fokus pada tanggung jawabnya sebagai pembalap profesional dan wakil Indonesia dibanding memikirkan komentar negatif netizen.
“Saya sekarang punya tanggung jawab dengan Yamaha, sponsor, dan tentu saja membawa nama Indonesia,” ucapnya.
Meski baru menjalani musim perdana, Galang mengaku bangga bisa bertarung dengan pembalap-pembalap berpengalaman dunia. Ia optimistis performanya akan semakin berkembang jika mendapat kesempatan melanjutkan proyek di kelas yang sama musim berikutnya.
Editor : Dyah Wulandari