Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Feda Ega Pratama Pecah Tangis Usai Podium Moto3 Brazil 2026, Hiroshi Aoyama Sampai Berkaca-kaca di Pitlane

Maylanni Diana Fitri • Selasa, 12 Mei 2026 | 17:39 WIB
Feda Ega Pratama raih podium Moto3 Brazil 2026. Hiroshi Aoyama sampai menangis haru di pitlane Honda Team Asia.(pinterest)
Feda Ega Pratama raih podium Moto3 Brazil 2026. Hiroshi Aoyama sampai menangis haru di pitlane Honda Team Asia.(pinterest)

Blitar Kawentar- Feda Ega Pratama kembali membuat dunia balap internasional terpukau usai meraih podium ketiga pada seri Moto3 Brazil 2026 di Sirkuit Goiania. Penampilan luar biasa pembalap muda Indonesia itu bahkan membuat manajer Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, tak mampu menyembunyikan emosinya di pitlane.

Momen haru itu terjadi saat Feda memasuki area parc ferme setelah balapan berakhir. Kamera pitlane menangkap wajah Hiroshi Aoyama yang biasanya dingin dan penuh perhitungan berubah emosional dengan mata berkaca-kaca. Pelukan antara legenda Jepang dan rookie asal Gunung Kidul tersebut langsung menjadi sorotan besar di Moto3 2026.

Podium Moto3 Brazil 2026 ini menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah balap motor Indonesia. Feda Ega Pratama sukses membuktikan dirinya bukan sekadar pembalap debutan biasa, melainkan talenta masa depan yang mulai diperhitungkan di paddock Grand Prix.

Start Bagus, Lalu Diserang Pembalap Eropa

Balapan di Goiania sebenarnya dimulai dengan sangat menjanjikan bagi Feda. Rider Honda Team Asia itu berhasil mengamankan posisi start keempat setelah tampil impresif sepanjang sesi kualifikasi.

Namun situasi langsung berubah brutal saat lampu start padam. Persaingan khas Moto3 yang sangat agresif membuat Feda terkepung di tikungan pertama. Para pembalap Eropa memanfaatkan celah sekecil apa pun untuk merebut posisi.

Baca Juga: Andy Farid Menang Dramatis di Mandalika, Kalahkan Yuki Kuni dan Langsung Rebut Puncak Klasemen Championship

Dalam satu lap pembuka saja, posisi Feda langsung melorot dari P4 ke P7. Situasi tersebut sempat membuat suasana garasi Honda Team Asia menjadi tegang.

Aoyama memahami betul kelemahan Honda NSF250RW yang kalah tenaga dibanding motor KTM di trek lurus. Karena itu, satu-satunya cara untuk bertahan adalah memaksimalkan teknik pengereman dan racing line.

Strategi Gila yang Mengubah Balapan

Alih-alih panik, Feda justru mulai tampil lebih agresif. Pembalap 17 tahun itu mengubah gaya balapnya dengan melakukan pengereman sangat dalam di tikungan-tikungan tajam Goiania.

Strategi tersebut perlahan mengubah jalannya balapan.

Baca Juga: Rekomendasi Mobil Bekas Rp60 Jutaan yang Irit dan Minim Perawatan, Honda Jazz hingga Picanto Masih Layak Dibeli

Satu per satu rival berhasil dilewati. Feda mulai memangkas jarak menuju grup podium dengan catatan waktu yang sangat konsisten. Bahkan data telemetri menunjukkan pace miliknya setara dengan para pemimpin balapan.

Keberanian Feda melakukan late braking menjadi kunci utama kebangkitannya. Di tengah tekanan besar dan suhu lintasan yang tinggi, ia mampu menjaga konsistensi lap time secara luar biasa.

Duel Panas Lawan Alvaro Carpe

Puncak drama terjadi saat Feda mulai mendekati pembalap Spanyol, Alvaro Carpe, yang saat itu berada di posisi podium terakhir.

Selama beberapa lap, keduanya terlibat duel sengit. Carpe mencoba mempertahankan posisi dengan mengandalkan akselerasi motor KTM yang lebih unggul. Namun Feda terus menekan lewat pengereman agresif di area tikungan.

Menurut analisis telemetri pasca-balapan, Feda memiliki presisi pengereman yang sangat konsisten di lap-lap akhir. Ia mampu menyentuh titik pengereman dalam rentang 0,1 detik meski kondisi ban mulai habis.

Duel tersebut berubah menjadi pertarungan psikologis yang membuat paddock Moto3 mulai menyadari kualitas asli pembalap Indonesia tersebut.

Manuver Nekat Penentu Podium

Dengan dua lap tersisa, Feda akhirnya melancarkan serangan penentu. Ia memaksakan motor masuk ke celah sempit di tikungan pertama dalam manuver yang sangat berisiko.

Fairing motor Honda miliknya bahkan sempat bersentuhan dengan motor Carpe. Namun Feda berhasil merebut posisi ketiga dan mempertahankannya hingga garis finis.

Saat melewati garis akhir, pembalap Indonesia itu langsung mencetak sejarah baru bagi dunia balap Tanah Air.

Podium ketiga Moto3 Brazil 2026 menjadi hasil terbaik rider Indonesia di level Grand Prix dalam beberapa tahun terakhir.

Tangisan Haru di Podium

Momen paling emosional justru terjadi setelah balapan selesai. Saat menjalani cooldown lap, Feda terlihat menangis haru di atas motornya.

Tangisan itu disebut sebagai luapan emosi dari perjuangan panjangnya hidup jauh dari Indonesia demi mengejar mimpi di Moto3.

Suasana semakin emosional ketika lagu kebangsaan diputar di podium. Berdiri di antara bendera Spanyol dan Italia, Feda kembali tak kuasa menahan air mata saat melihat Merah Putih berkibar di langit Brazil.

Momen tersebut langsung viral di media sosial dan mendapat perhatian luas dari penggemar MotoGP dunia.

Kini performa Feda Ega Pratama mulai dianggap sebagai ancaman serius bagi dominasi pembalap Eropa di Moto3 2026. Banyak pengamat memprediksi Honda Team Asia akan semakin fokus membangun proyek besar bersama pembalap muda Indonesia tersebut.

Jika konsistensinya terus terjaga, bukan tidak mungkin Feda bakal menjadi pembalap Indonesia pertama yang mampu bersaing di level tertinggi MotoGP pada masa depan.

Editor : Maylanni Diana Fitri
#hiroshi aoyama #Moto3 Brazil 2026 #Alvaro Carpe #Honda Team Asia #Feda Ega Pratama