JAKARTA - Nama Veda Ega Pratama mulai menjadi sorotan dunia balap internasional setelah tampil impresif di berbagai ajang junior hingga Moto3 musim 2026. Pembalap muda asal Gunungkidul, Yogyakarta, itu disebut sebagai harapan baru Indonesia untuk menembus level tertinggi MotoGP berkat gaya balap agresif dan performa konsisten sejak usia muda.
Veda Ega Pratama kini menjadi salah satu pembalap Indonesia yang paling banyak dibicarakan di kalangan pecinta MotoGP. Di usia 17 tahun, Veda berhasil menunjukkan perkembangan pesat dan mulai diperhitungkan oleh tim-tim Eropa setelah tampil kompetitif di Moto3 musim debutnya.
Keberhasilan Veda membuat publik Indonesia kembali antusias mengikuti balap motor dunia. Situasi ini mengingatkan banyak penggemar pada era awal 2000-an ketika MotoGP begitu populer berkat dominasi legenda Italia, Valentino Rossi.
Perjalanan Veda Ega Pratama dari Balap Nasional hingga Moto3
Veda Ega Pratama lahir pada 2008 dan mulai mengenal dunia balap sejak usia sangat muda. Kariernya berkembang melalui berbagai kejuaraan nasional sebelum akhirnya masuk program pembinaan Astra Honda Motor.
Namanya mulai dikenal luas ketika tampil di Asia Talent Cup, ajang pencarian bakat pembalap muda terbaik Asia. Di kompetisi tersebut, Veda tampil konsisten dan mampu bersaing melawan pembalap dari Jepang, Thailand, hingga Eropa.
Performa apik itu membawanya naik ke FIM JuniorGP World Championship, salah satu jalur utama menuju MotoGP. Banyak pembalap elite dunia sebelumnya juga meniti karier melalui ajang tersebut.
Musim 2026 menjadi titik penting dalam karier Veda setelah mendapat kesempatan tampil penuh di kelas Moto3. Debutnya langsung mencuri perhatian. Pada seri pembuka di Buriram, Thailand, Veda start dari posisi kelima dan berhasil finis di posisi yang sama.
Ia bahkan sempat bersaing di grup depan dan menunjukkan kemampuan overtaking yang dinilai sangat matang untuk ukuran rookie. Dalam salah satu balapan, Veda berhasil finis podium ketiga setelah tampil agresif sepanjang lomba.
Komentator MotoGP pun sempat memberikan pujian khusus. “Indonesia, kalian punya calon superstar baru,” ujar komentator MotoGP saat menyoroti aksi Veda di lintasan.
Gaya Balap Veda Disebut Mirip Marc Marquez
Salah satu alasan Veda Ega Pratama cepat mendapat perhatian adalah gaya balapnya yang agresif dan berani mengambil risiko. Banyak pengamat menyebut karakter balapnya memiliki kemiripan dengan Marc Marquez.
Veda dikenal piawai melakukan late braking, menusuk celah sempit, serta tetap agresif saat duel di tikungan. Meski demikian, ia tetap mampu menjaga racing line tetap rapi.
Sejumlah pengamat balap menyebut kemampuan itu jarang dimiliki pembalap muda Indonesia sebelumnya. Bahkan komentator MotoGP Matthew Birt sempat memuji aksi overtaking Veda yang dinilai “clean” atau bersih meski sangat agresif.
“Dia agresif tapi tetap rapi. Itu yang membuatnya berbeda,” ujar Matthew Birt dalam siaran MotoGP.
Namun gaya balap agresif juga membawa risiko besar. Pada salah satu seri di Eropa, Veda mengalami high side saat sedang berada di grup depan. Insiden tersebut membuatnya gagal finis dan kehilangan peluang meraih poin.
Meski begitu, mentalitas Veda mendapat banyak pujian. Saat memulai balapan dari posisi ke-17 di Spanyol akibat kecelakaan kualifikasi, ia mampu bangkit dan finis keenam setelah menyalip 11 pembalap.
Penampilan itu memperlihatkan bahwa kegagalan tidak mengurangi keberaniannya di lintasan.
Jadi Harapan Baru Indonesia di Dunia Balap Motor
Kehadiran Veda Ega Pratama membuat harapan publik Indonesia terhadap MotoGP kembali tumbuh. Sebelumnya Indonesia sempat memiliki pembalap seperti Doni Tata, Dimas Ekky, Andi Gilang, hingga Mario Aji. Namun belum ada yang benar-benar mampu menarik perhatian dunia seperti Veda saat ini.
Sejumlah pengamat menilai keberhasilan Veda tidak lepas dari sistem pembinaan yang kini semakin baik. Program seperti Asia Talent Cup dan Red Bull Rookies Cup dianggap membuka peluang lebih besar bagi pembalap muda Indonesia menuju level internasional.
Saat ini Veda juga sudah menjadi bagian dari program Red Bull, yang dikenal sering melahirkan pembalap-pembalap elite dunia.
Dengan koleksi poin yang terus bertambah di Moto3 2026, Veda kini masuk dalam persaingan kandidat rookie terbaik musim ini. Banyak tim Eropa mulai melirik potensinya untuk masa depan.
Musim Moto3 sendiri masih panjang dengan sejumlah seri klasik Eropa seperti Mugello dan Le Mans yang akan menjadi ujian penting bagi konsistensinya.
Jika mampu terus berkembang, bukan tidak mungkin Veda Ega Pratama akan menjadi pembalap Indonesia pertama yang benar-benar mampu bersaing di level tertinggi MotoGP.
Editor : Divka Vance Yandriana