Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cerita Pendamping Ibadah Haji Kota Blitar Bimbing Jemaah Lansia yang Sempat Kesasar hingga Ungkap Rasa Menu Katering

M. Luki Azhari • Rabu, 10 Juni 2026 | 14:00 WIB
HABIB MUSTOFA UNTUK RADAR BLITAR
HARUS SABAR: Habib Mustofa saat mengawal dan mendampingi para jemaah haji Kota Blitar melaksanakan serangkaian ibadah haji di Tanah Suci. 
HABIB MUSTOFA UNTUK RADAR BLITAR HARUS SABAR: Habib Mustofa saat mengawal dan mendampingi para jemaah haji Kota Blitar melaksanakan serangkaian ibadah haji di Tanah Suci. 

BLITAR KAWENTAR - Mengurus jemaah lansia di tengah suhu ekstrem Makkah menuntut totalitas fisik dan batin dari seorang pendamping haji. Seperti halnya Habib Mustofa, selama mengawal Kloter 106, dia diuji oleh berbagai dinamika lapangan. Berikut cerita pengalamannya yang dibagikan kepada Jawa Pos Radar Blitar.

Matahari di atas langit Arab Saudi sedang garang-garangnya ketika rombongan jemaah haji Indonesia bersiap melakukan prosesi lempar jumrah. Di antara jutaan manusia yang menyemut, sesosok pria paruh baya dengan cermat menghitung satu per satu jemaah asal Kota Blitar di bawah bimbingannya.

Pria itu adalah Habib Mustofa, Pembimbing Ibadah Kloter 106, yang tahun ini memikul tanggung jawab besar mengawal spiritualitas sekaligus keselamatan fisik puluhan tamu Allah di tanah suci.

Baca Juga: 10 KKMP di Kota Blitar Belum Bisa Operasional, Dinkop Ungkap Penyebabnya

Bagi Habib, menginjakkan kaki di Makkah bukanlah hal baru. Empat belas tahun silam, tepatnya pada 2012, dia sudah pernah menunaikan rukun Islam kelima ini sebagai jemaah haji biasa.

Namun, kembali ke tanah suci pada tahun 2026 membawa rasa yang jauh berbeda. ”Kalau jadi petugasnya, ini tahun pertama saya," ungkap pria berusia 56 tahun tersebut kepada Koran ini melalui sambungan telepon, kemarin (8/6).

Menjadi pembimbing ibadah kloter tentu bukan perkara instan karena butuh kualifikasi ketat. Secara administratif, seorang petugas harus sudah pernah berhaji dan mengantongi sertifikat resmi pembimbing haji dari diklat khusus, biasanya selama satu minggu yang diadakan IPHI atau himpunan pengusaha haji dan umrah bekerja sama dengan perguruan tinggi.

Baca Juga: Kasus Korupsi BPR Kota Blitar Segera Disidangkan, Pemkot Siap Menjadi Saksinya

"Saya sudah mendapat itu sertifikat," kenang warga Kelurahan Bendo, Kecamatan Kepanjenkidul tersebut.

Ketika ditanya momen paling menyentuh, ingatan pria yang setiap hari berdinas sebagai Kepala KUA Kecamatan Sananwetan ini langsung terbang ke hamparan padang pasir Arafah.

Baginya, fase di Arafah dan Mina (Armina) adalah puncak perjuangan yang paling berat dari segi kesehatan dan fisik jemaah.

Baca Juga: Diduga Nunggak Bayar hingga Tiga Bulan, Jaringan Listrik Kantor KONI Kota Blitar Diputus PLN

Di tengah beratnya medan, dinamika psikologis jemaah menjadi ujian tersendiri. Mengingat banyaknya jemaah lansia, fenomena disorientasi akibat faktor usia dan cuaca ekstrem menjadi pemandangan sehari-hari.

Bahkan sebelum Armina dimulai, beberapa jemaah dengan gejala demensia terus menangis meminta pulang akibat stres tinggi di lingkungan baru. Kasus jemaah tersesat pun jadi "makanan" harian. 

Baca Juga: Toyota Calya 2026 Makin Menggoda, Harga Belum Tembus Rp200 Juta tapi Sudah Punya Fitur Auto Retract dan Lampu LED

“Ada jemaah kita yang nyasar ke kloter lain, atau ada jemaah lain nyasar ke kloter kita juga ada. Semua harus ditenangkan dengan sabar," jelasnya.

Atmosfer ketegangan mencapai puncaknya saat fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Selain dibatasi sekat waktu yang ketat, jarak dari tenda menuju jamarat mencapai 4,8 kilometer berjalan kaki.

Untuk mengantisipasi cuaca ekstrem, Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi melarang jemaah Indonesia melempar jumrah antara jam 10.00 hingga 14.00 siang, dan baru diizinkan melintas selepas jam dua siang hingga jam sepuluh pagi berikutnya.

Baca Juga: Rukun Haji Tuntas, Jemaah Haji Blitar Siap Geser Madinah di Tanggal Ini

"Titik paling rawan nyasar itu setelah keluar dari terowongan jamarat karena bentuk tenda di sana hampir sama semua. Kemarin sempat ada jemaah yang pingsan setelah melempar jumrah, tapi berkat kesigapan koordinasi langsung ditangani tim kesehatan dan dievakuasi ke pemondokan," urai bapak dua anak ini.

Dalam hal operasional tahun ini juga menuntut adaptasi ekstra karena untuk pertama kalinya dilaksanakan penuh oleh Kementerian Haji dan Umrah, bukan lagi Kementerian Agama. Namun secara umum, lanjut dia, tidak ada yang berbeda.

Di luar urusan ibadah, perkara perut menjadi dinamika unik. Lidah Jawa Mataraman jemaah kerap bergejolak dengan standar masakan massal katering yang cenderung hambar.

Baca Juga: Innalillahi, Dua Jemaah Haji Lansia asal Blitar Wafat usai Tuntaskan Wukuf di Arafah

"Kalau di Blitar kan masakan ada pedasnya dan bumbunya terasa kuat. Kalau di sini standarnya gak ada yang pedas dan enggak asin," kata Habib diiringi tawa tipis.

Meskipun dimasak oleh orang Indonesia, cita rasa menu 3 kali sehari berwadah aluminium foil itu terasa jauh berbeda. "Menu yang sering keluar itu ayam goreng dengan sayur sambal terong. Tapi rasa sambal terong, sambal terasi, hingga gulai kambing di sini bumbunya jauh banget dari Blitar," keluhnya manja.

Nasi siap didistribusikan setiap jam 5 pagi, jam 11 siang, dan waktu makan malam, dibarengi menu selingan sesekali berupa bubur kacang hijau, kolak, atau puding.

Keseharian Habib selama 40 hari di sana pun nyaris tanpa istirahat. Usai Armusna, rutinitas pagi diisi dengan senam kebugaran jemaah, dilanjutkan membersamai mereka melakukan city tour atau mengawal ibadah ke Masjidil Haram.

Baca Juga: ⁠Polemik Proyek KDMP di SDN Tlogo 02 Blitar Masih Berlanjut, DPRD Sesalkan Pembongkaran Ruang Kelas Dilakukan Sepihak

Habib juga telaten melakukan visitasi ke 92 kamar hotel kloternya hampir setiap hari untuk memantau kesehatan jemaah hingga memastikan fasilitas seperti AC tidak macet untuk dilaporkan ke pihak hotel.

Di tengah padatnya tugas, rasa rindu rumah hanya bisa diobati via video call. Itu pun butuh perjuangan karena padatnya jaringan di Makkah membuat sinyal sering trouble.

"Kalau di dalam kamar pasti susah. Saya harus keluar dari hotel dulu baru teleponnya lancar," ceritanya.

Baca Juga: ⁠Gaji ke-13 ASN Mulai Dicairkan, BPKAD Kabupaten Blitar Harap Digunakan dengan Sebaik Mungkin untuk Biaya Pendidikan Anak

Menjelang akhir masa tugas, Habib menitipkan pesan agar keluarga di tanah air tetap tenang dan tidak putus mendoakan kesehatan serta kesabaran jemaah. Ia pun menyuarakan rasa syukur yang mendalam atas keselamatan rombongannya.

Jika sesuai jadwal, Habib Mustofa bersama total 161 jemaah haji Kota Blitar akan mendarat kembali di Bandara Juanda, Surabaya pada Minggu, 28 Juni 2026. Mereka pulang membawa predikat haji mabrur serta kisah perjuangan yang akan membekas sepanjang hayat.(*/sub)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Habib Mustofa #pendamping haji #lansia #jemaah haji #Kota Blitar