Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

BBM B50 Resmi Meluncur 1 Juli 2026, Uji Coba Tembus 90 Persen dan Diklaim Hemat Devisa Rp157 Triliun, Berapa Harga Jualnya?

M. Helmi Nurhisam • Kamis, 18 Juni 2026 | 15:00 WIB
BBM B50 resmi meluncur 1 Juli 2026. Uji coba tembus 90 persen dan berpotensi hemat devisa Rp157 triliun. Berapa harganya?(Pinterest)
BBM B50 resmi meluncur 1 Juli 2026. Uji coba tembus 90 persen dan berpotensi hemat devisa Rp157 triliun. Berapa harganya?(Pinterest)

Radar Tulungagung - Pemerintah bersiap meluncurkan BBM B50 mulai 1 Juli 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak. Program BBM B50 ini menjadi langkah lanjutan setelah penerapan biodiesel B40 yang telah berlaku secara nasional sejak awal 2025.

Peluncuran BBM B50 dilakukan melalui kerja sama pemerintah, PT Pertamina (Persero), dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Produk ini merupakan campuran solar dengan bahan bakar nabati berbasis minyak sawit sebesar 50 persen atau dikenal sebagai biodiesel B50.

Kehadiran BBM B50 diproyeksikan tidak hanya mendukung penggunaan energi terbarukan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang besar bagi Indonesia. Pemerintah bahkan memperkirakan penghematan devisa hingga ratusan triliun rupiah setelah program ini diterapkan secara penuh.

Baca Juga: ⁠Tren Nonton Video Pendek Jadi Peluang Cuan Bagi Clipper di Era Serba Digital

Uji Coba B50 Masuki Tahap Akhir

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa proses uji coba biodiesel B50 saat ini telah memasuki tahap akhir. Berdasarkan hasil pengujian sementara, tingkat keberhasilan program tersebut telah mencapai kisaran 80 hingga 90 persen.

Menurut Bahlil, kualitas bahan bakar baru ini menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah kandungan air dalam bahan bakar. Hasil pengujian menunjukkan kandungan air pada B50 lebih rendah dibandingkan biodiesel B40 yang saat ini digunakan.

Temuan tersebut menjadi sinyal positif bagi pemerintah untuk segera mengimplementasikan program B50 secara nasional. Dengan kualitas yang dinilai baik, pemerintah optimistis transisi dari B40 menuju B50 dapat berjalan lancar tanpa mengganggu kebutuhan energi masyarakat maupun sektor industri.

Baca Juga: Pengamat Sosial Blitar Ungkap Dampak Ketagihan Nonton Video Pendek di Medsos

Regulasi Sedang Dirampungkan

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyatakan bahwa pemerintah tengah merampungkan berbagai regulasi pendukung sebelum peluncuran resmi pada Juli 2026.

Penyelesaian regulasi menjadi langkah penting agar implementasi B50 dapat berjalan sesuai target. Pemerintah ingin memastikan seluruh aspek teknis, distribusi, hingga mekanisme penyaluran dapat terlaksana dengan baik setelah kebijakan diberlakukan.

Selain itu, pemerintah juga telah menyiapkan berbagai langkah untuk mendukung peningkatan kebutuhan biodiesel yang diperkirakan melonjak setelah program baru tersebut resmi berjalan.

Potensi Penghematan Devisa Capai Rp157 Triliun

Salah satu alasan utama pemerintah mendorong implementasi B50 adalah potensi manfaat ekonominya yang sangat besar. Hingga akhir 2026, pemerintah memperkirakan penghematan devisa negara dapat mencapai Rp157,28 triliun.

Tidak hanya itu, industri kelapa sawit nasional juga diprediksi memperoleh keuntungan signifikan. Nilai tambah industri crude palm oil (CPO) diperkirakan meningkat hingga Rp24,68 triliun.

Program ini sekaligus menjadi bagian dari strategi hilirisasi industri sawit yang selama ini menjadi salah satu sektor andalan perekonomian nasional. Dengan meningkatnya kebutuhan bahan baku biodiesel, permintaan minyak sawit domestik diperkirakan ikut terdongkrak.

Target Penyaluran Biodiesel Naik

Sejalan dengan transisi dari B40 menuju B50, pemerintah juga menaikkan target penyaluran biodiesel pada 2026.

Awalnya volume penyaluran biodiesel ditetapkan sebesar 15,64 juta kiloliter. Namun setelah adanya kebijakan B50, target tersebut meningkat menjadi 17,60 juta kiloliter pada pertengahan tahun.

Meski target distribusi bertambah, pemerintah memastikan skema insentif tidak mengalami perubahan. Dukungan pembiayaan masih difokuskan pada sektor Public Service Obligation (PSO), sementara sektor non-PSO akan mengikuti mekanisme harga pasar yang berlaku.

Berapa Harga BBM B50?

Hingga saat ini pemerintah belum mengumumkan secara resmi harga jual BBM B50 yang akan mulai dipasarkan pada 1 Juli 2026.

Dalam paparan terbaru, pemerintah hanya menyampaikan daftar harga BBM yang berlaku saat ini. Harga Pertalite tercatat Rp10.000 per liter, solar subsidi Rp6.800 per liter, Pertamax Rp16.250 per liter, Pertamax Turbo Rp20.750 per liter, dan Pertamax Green Rp17.000 per liter.

Sementara itu, untuk produk diesel non-subsidi, Dexlite dipasarkan seharga Rp23.000 per liter dan Pertamina Dex Rp24.800 per liter.

Belum adanya informasi resmi mengenai harga B50 membuat banyak masyarakat penasaran. Namun pemerintah menegaskan bahwa fokus utama peluncuran biodiesel baru ini adalah memperkuat ketahanan energi nasional, mendorong penggunaan energi terbarukan, meningkatkan nilai tambah industri sawit, serta mendukung target pengurangan emisi karbon Indonesia di masa depan.

Editor : M. Helmi Nurhisam
#BBM B50 #Harga BBM 2026 #biodiesel B50 #bahlil lahadalia #kementerian esdm