Blitar Kawentar - Kenaikan harga Pertamax akhirnya resmi diberlakukan oleh PT Pertamina Patra Niaga mulai Rabu, 10 Juni 2026. Kebijakan ini sekaligus mengakhiri periode panjang tanpa penyesuaian harga untuk Pertamax di tengah meningkatnya harga minyak dunia dalam beberapa bulan terakhir.
Penyesuaian harga Pertamax menjadi perhatian luas masyarakat karena kenaikannya cukup signifikan. Di wilayah Jakarta, harga Pertamax kini mencapai Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter. Artinya, terjadi kenaikan sebesar Rp3.950 per liter.
Selain harga Pertamax, Pertamina juga menaikkan harga Pertamax Green 95. Produk BBM non-subsidi tersebut kini dijual Rp17.000 per liter atau naik Rp4.100 dibandingkan harga sebelumnya yang berada di angka Rp12.900 per liter.
Baca Juga: Tren Nonton Video Pendek Jadi Peluang Cuan Bagi Clipper di Era Serba Digital
Kenaikan Perdana Setelah Gejolak Harga Minyak Dunia
Pertamax menjadi salah satu produk BBM non-subsidi yang cukup lama tidak mengalami penyesuaian harga. Padahal, sejumlah produk BBM lainnya telah mengalami kenaikan sejak April 2026.
Menurut informasi yang disampaikan Pertamina, kenaikan kali ini merupakan penyesuaian pertama setelah lonjakan harga minyak dunia yang dipicu konflik geopolitik antara Israel dan Iran.
Ketidakstabilan kondisi global menyebabkan harga minyak mentah internasional bergerak naik sehingga memengaruhi harga pasar energi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Karena itu, Pertamina melakukan evaluasi terhadap harga jual BBM non-subsidi agar tetap sesuai dengan kondisi pasar dan perhitungan keekonomian yang berlaku.
Baca Juga: Pengamat Sosial Blitar Ungkap Dampak Ketagihan Nonton Video Pendek di Medsos
Pertamina Sebut Sudah Sesuai Formula Pemerintah
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Robert Marcelino Fareza Dumatubun, menjelaskan bahwa perubahan harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan berdasarkan formula yang telah ditetapkan pemerintah.
Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut telah melalui proses evaluasi berkala serta koordinasi dengan pemerintah sebagai regulator sektor energi nasional.
Menurutnya, penyesuaian harga diperlukan agar keberlanjutan distribusi energi kepada masyarakat tetap terjaga. Selain itu, langkah tersebut juga dilakukan untuk memastikan pasokan BBM berkualitas tetap tersedia di seluruh wilayah Indonesia.
Pertamina menilai kebijakan ini merupakan bagian dari mekanisme bisnis yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia dan harga pasar yang terus berubah.
Pertamax Green Ikut Mengalami Kenaikan
Tak hanya Pertamax, produk Pertamax Green 95 juga mengalami lonjakan harga yang cukup besar.
Jika sebelumnya dijual Rp12.900 per liter, kini konsumen harus membayar Rp17.000 per liter. Kenaikan mencapai Rp4.100 per liter tersebut menjadikan Pertamax Green sebagai salah satu produk yang mengalami penyesuaian harga terbesar dalam kebijakan terbaru ini.
Pertamax Green sendiri merupakan BBM dengan campuran bahan bakar nabati yang dikembangkan untuk mendukung pengurangan emisi serta penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.
Reaksi Konsumen di SPBU
Kebijakan kenaikan harga yang berlaku mulai dini hari membuat banyak pengguna Pertamax terkejut. Beberapa pelanggan mengaku baru mengetahui perubahan harga saat melakukan pengisian BBM di SPBU.
Salah satu pengguna kendaraan di kawasan Cakung, Jakarta Timur, mengaku mendapat informasi langsung dari petugas SPBU ketika hendak mengisi bahan bakar pada pagi hari.
Menurutnya, kenaikan harga yang mencapai hampir Rp4.000 per liter cukup memberatkan, terutama bagi masyarakat yang setiap hari menggunakan kendaraan pribadi untuk bekerja maupun menjalankan usaha.
Reaksi serupa juga muncul dari sejumlah pengguna lain yang berharap harga BBM dapat kembali stabil apabila kondisi pasar energi global membaik.
BBM Subsidi Tetap Tidak Berubah
Di tengah kenaikan harga BBM non-subsidi, pemerintah memastikan harga bahan bakar subsidi masih tetap dipertahankan.
Pertalite hingga saat ini masih dijual dengan harga Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar tetap berada di angka Rp6.800 per liter.
Dengan demikian, penyesuaian harga yang berlaku saat ini hanya menyasar produk BBM non-subsidi seperti Pertamax dan Pertamax Green.
Kondisi pasar minyak dunia dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi faktor penting yang menentukan apakah harga BBM non-subsidi kembali mengalami perubahan atau tetap bertahan pada level saat ini.
Editor : M. Helmi Nurhisam