Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dampak Kenaikan Harga BBM Non Subsidi Mulai Disorot, Ekonom Ingatkan Risiko Inflasi dan Efek Berantai ke Harga Barang

M. Helmi Nurhisam • Kamis, 18 Juni 2026 | 15:50 WIB
Kenaikan harga BBM non subsidi dinilai berpotensi memicu inflasi. Pemerintah pastikan Pertalite dan Solar tetap terlindungi.(Pinterest)
Kenaikan harga BBM non subsidi dinilai berpotensi memicu inflasi. Pemerintah pastikan Pertalite dan Solar tetap terlindungi.(Pinterest)

Blitar Kawentar - Kenaikan harga BBM non subsidi yang diberlakukan PT Pertamina menuai beragam tanggapan dari berbagai kalangan. Di satu sisi pemerintah menilai kebijakan tersebut sebagai langkah yang wajar mengikuti lonjakan harga minyak dunia, namun di sisi lain ekonom mengingatkan adanya potensi dampak terhadap inflasi dan daya beli masyarakat.

Penyesuaian harga BBM non subsidi mencakup beberapa produk seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Meski tidak menyentuh Pertalite maupun Solar bersubsidi, kebijakan ini tetap menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi secara luas.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Muhammad Putra Hutama, menjelaskan bahwa harga BBM non subsidi memang mengikuti mekanisme pasar internasional sesuai regulasi yang berlaku. Karena itu, perubahan harga minyak mentah dunia akan langsung memengaruhi harga jual produk non subsidi di dalam negeri.

Menurutnya, pemerintah tetap menjaga harga BBM bersubsidi karena kedua jenis bahan bakar tersebut digunakan oleh mayoritas masyarakat dan sektor produktif.

Baca Juga: Petani Kemangi Blitar Makin Dilirik, Panen Cepat dan Permintaan Stabil Jadi Kunci Sumber Penghasilan Menjanjikan di Pedesaan

Harga Minyak Dunia Jadi Pemicu Utama

Muhammad Putra Hutama mengatakan lonjakan harga energi global menjadi alasan utama penyesuaian harga BBM non subsidi. Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah membuat harga minyak dunia bergerak naik dalam beberapa waktu terakhir.

Indonesia yang masih mengandalkan impor untuk memenuhi sebagian kebutuhan minyak nasional tidak bisa sepenuhnya lepas dari pengaruh kondisi tersebut.

"Pertamina juga harus menjaga keberlangsungan bisnisnya karena sebagian bahan bakar diperoleh dari pasar internasional dengan harga yang terus berubah mengikuti kondisi global," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kebijakan pemerintah saat ini lebih difokuskan untuk mempertahankan stabilitas harga Pertalite dan Solar agar tidak memberikan tekanan besar terhadap inflasi nasional.

Baca Juga: BBM B50 Resmi Meluncur 1 Juli 2026, Uji Coba Tembus 90 Persen dan Diklaim Hemat Devisa Rp157 Triliun, Berapa Harga Jualnya?

Ekonom Prediksi Ada Efek Berantai

Ekonom Senior KBI Valbury Sekuritas, Fikri Permana, menilai dampak langsung kenaikan harga BBM non subsidi terhadap inflasi memang relatif kecil. Namun ia mengingatkan adanya efek lanjutan yang berpotensi memengaruhi sektor lain.

Menurut Fikri, sejumlah industri menggunakan BBM non subsidi sebagai sumber energi maupun operasional transportasi. Ketika biaya energi meningkat, pelaku usaha berpotensi menyesuaikan harga jual produknya.

"Kenaikan harga BBM non subsidi dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga barang di pasar," ujarnya.

Selain itu, kenaikan harga energi juga dapat memengaruhi ekspektasi masyarakat terhadap inflasi. Kondisi tersebut sering kali membuat pelaku usaha dan konsumen lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas ekonomi.

Pemerintah Jaga Inflasi Melalui BBM Bersubsidi

Meski ada potensi dampak terhadap inflasi, pemerintah meyakini efeknya masih terbatas karena konsumsi BBM non subsidi tidak sebesar BBM bersubsidi.

Muhammad Putra Hutama menjelaskan bahwa Pertalite memiliki porsi konsumsi sekitar 48 persen dari total penggunaan BBM nasional. Sementara Solar menyumbang sekitar 31 persen.

Karena itu, pemerintah memilih menjaga kedua produk tersebut agar tetap terjangkau bagi masyarakat.

Berdasarkan simulasi yang dilakukan, kenaikan harga Pertalite sebesar 10 persen dapat mendorong inflasi hingga sekitar 0,27 poin persen. Sedangkan kenaikan Solar sebesar 10 persen berpotensi meningkatkan inflasi sekitar 0,05 poin persen.

Angka tersebut menjadi alasan kuat mengapa pemerintah terus mempertahankan subsidi untuk kedua jenis BBM tersebut.

Pengawasan Distribusi Terus Diperkuat

Selain menjaga harga, pemerintah juga berupaya memastikan distribusi BBM subsidi tepat sasaran. Salah satu instrumen yang digunakan adalah aplikasi MyPertamina yang memungkinkan proses pengawasan pembelian bahan bakar dilakukan secara lebih terukur.

Sistem tersebut dilengkapi dengan mekanisme pendaftaran dan pembatasan volume pembelian harian guna meminimalkan potensi penyalahgunaan.

Pemerintah berharap langkah tersebut dapat menjaga ketersediaan BBM subsidi bagi kelompok masyarakat yang memang berhak menerima manfaatnya.

Peluang Harga BBM Non Subsidi Turun

Di tengah kekhawatiran masyarakat, pemerintah memberikan sinyal bahwa harga BBM non subsidi tidak selalu bergerak naik. Jika harga minyak dunia kembali turun, maka penyesuaian harga ke arah yang lebih rendah juga memungkinkan dilakukan.

Saat ini fluktuasi harga minyak global masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan situasi geopolitik dunia, terutama di kawasan Timur Tengah yang menjadi salah satu pemasok energi terbesar dunia.

Karena itu, pemerintah terus memantau perkembangan pasar energi internasional sambil menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri. Fokus utama tetap diarahkan pada pengendalian inflasi, perlindungan daya beli masyarakat, serta menjaga pasokan energi nasional agar tetap aman.

Editor : M. Helmi Nurhisam
#Harga Minyak Dunia #Inflasi Indonesia #Kenaikan Harga BBM Non Subsidi #daya beli masyarakat #Pertamina